Pelantikan dan Halal Bi Halal

IMG_20150914_130514Rabu kemarin (2 September 2015), salah satu rayon PMII dibawah naungan Komisariat Sunan Ampel yakni Rayon โ€œPenaklukโ€ Al-Adawiyah mengadakan kegiatan Pelantikan Pengurus dan Halal bi Halal. Acara ini dihadiri Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Adawiyah, warga Adawiyah, pengurus rayon Adawiyah serta sahabat-sahabat heksa rayon dan komisariat, hadir pula pada kegiatan tersebut sebagian mahasiswa baru Fakultas Psikologi UIN Malang 2015.

Agenda tahunan ini berbeda dengan tahun sebelumnya, selain waktu dan tempat, acara pelantikan pengurus dan halal bihalal tahun ini lebih resmi dan berkesan. Acara pelantikan pengurus dilaksanakan pada pukul 14.00 WIB, sedangkan acara halal bi halal dilaksanakan pada malam harinya tepat baโ€™da sholat maghrib, kedua acara tersebut dilaksanakan dalam tempat yang sama yakni di Aula Gedung C UIN Malang.

โ€œSudah saatnya kita bergerak, bersama Adawiyah lawan pembodohan yang menyeragamkan pikiran kita, bersama adawiyah lawan penindasan untuk ribuan rakyat yang meronta, bersama adawiyah lawan tirani untuk keadilan tatanan masyarakatโ€ suara lantang sahabat Hamdan saat memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Pada acara halal bi halal sahabat Ilhamudin Nukman mengatakan bahwa dengan dikemasnya pelaksanaan halal bihalal tahun ini banyak hal-hal positif yang dapat diambil dan dijadikan motivasi untuk Adawiyah ke depannya. Salah satu hal positif tersebut adalah para IKAPMII, warga dan pengurus rayon dapat berkumpul bersama dan silaturahmi dalam halal bihalal tersebut lebih dekat dan mengenal satu sama lain. โ€œAdawiyah sudah move on, seperti halnya apa yang saya katakan diawal banyak hal-hal positif dan hal-hal baru, dengan begini Adawiyah sudah move on, ayo kita semua pakai hashtag move onโ€ ucap sahabat lham dalam sambutannya.

Tidak hanya tentang progress Adawiyah, Sahabat Taufiqurrahman juga memberikan ceramah gerakan. Tentunya ini sangat bermanfaat dan memotivasi Adawiyah untuk lebih baik lagi. Acara ini diakhiri dengan beberapa patah kata dari sahabat Mahpur yang kemudian ditutup dengan doa. Dari serangkaian agenda halal bihalal kemarin, sangat diharapkan Adawiyah lebih banyak membawa progress kedepannya dan dapat menjalin hubungan yang lebih baik dengan para IKAPMII dan warga rayon โ€œPenaklukโ€ Al-Adawiyah. (Ucha)

Memaafkan Dalam Prespektif Psikologi

By: Huda Nur Aziz

Salah satu kekurangan manusia adalah suka berbuat salah dan dosa. Manusia membutuhkan cara untuk menutupi kekurangannya itu, khususnya dosa yang terarah kepada sesama manusia. Saat orang lain berbuat salah dan dosa yang terarah kepada kita, kita diajari untuk memaafkan. Saat kita berbuat salah dan dosa kepada orang lain, kita diajari untuk meminta maaf.

Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kehilangan harta dan jiwa. Namun, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang yang apabila ditimpa musibah mengucapkan โ€˜sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembaliโ€™ (inna lillahi wa inna ilaihi rajiโ€™un) (QS al-Baqarah <2>: 155).

Maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) (al-Maโ€™idah <5>: 13).

Memaafkan adalah proses untuk menghentikan perasaan dendam, jengkel, atau marah karena merasa disakiti atau didzalimi. Pemaafan (forgiveness) sendiri, menurut ahli psikologi Robert D. Enright (2002), adalah kesediaan seseorang untuk meninggalkan kemarahan, penilaian negatif, dan perilaku acuh-tidak-acuh terhadap orang lain yang telah menyakitinya secara tidak adil. Melengkapi pandangan Enright di atas, Thompson (2005) mendefinisikan pemaafan sebagai upaya untuk menempatkan peristiwa pelanggaran yang dirasakan sedemikian hingga respon seseorang terhadap pelaku, peristiwa, dan akibat dari peristiwa yang dialami diubah dari negatif menjadi netral atau positif.

Memaafkan memang tidak mudah. Butuh proses dan perjuangan untuk melakukannya. Adanya kebaikan bagi diri kita dan bagi orang lain akan menjadikan memaafkan menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan. Seorang ahli psikologi dari Universitas Stanford California, Frederic Luskin (Martin, 2003), pernah melakukan eksperimen memaafkan pada sejumlah orang. Hasil penelitian Luskin menunjukkan bahwa memaafkan akan menjadikan seseorang: (a) Jauh lebih tenang kehidupannya. Mereka juga (b): tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, dan dapat membina hubungan lebih baik dengan sesama. Dan yang pasti, mereka (c) semakin jarang mengalami konflik dengan orang lain.

Para ahli psikologi mempercayai bahwa memaafkan memiliki efek yang sangat positif bagi kesehatan. Pemaafan (forgiveness) merupakan salah satu karakter positif yang membantu individu mencapai tingkatan optimal dalam hal kesehatan fisik, psikologis, dan spiritual. Pada beberapa tahun belakangan, pemaafan semakin populer sebagai psikoterapi atau sebagai suatu cara untuk menerima dan membebaskan emosi negatif seperti marah, depresi, rasa bersalah akibat ketidakadilan, memfasilitasi penyembuhan, perbaikan diri, dan perbaikan hubungan interpersonal dengan berbagai situasi permasalahan (Walton, 2005). Pemaafan selanjutnya secara langsung mempengaruhi ketahanan dan kesehatan fisik dengan mengurangi tingkat permusuhan, meningkatkan sistem kekebalan pada sel dan neuro-endokrin, membebaskan antibodi, dan mempengaruhi proses dalam sistem saraf pusat (Worthington & Scherer, 2004).

Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahla. (QS Ali Imron <3>: 159)

Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah Saw, โ€œBarangsiapa pernah melakukan kedzaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia memiliki amal shaleh, akan diambil darinya seukuran kedzalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibenankan kepadanya. (HR Al-Bukhari).

~ Domain intrapersonal (personal): menghapus kebencian dan kedendaman dari kesalahan orang lain yang kita persepsikan telah merugikan, menyakiti atau membahayakan kita.

~ Domain interpersonal (sosial): menghapus tuntutan atas pembalasan atau menghapus tuntutan atas ganti-rugi, baik secara materi atau non-materi.

Psikologi dalam konteks memaafkan

Mekanisme psikis apa yang berlangsung dalam diri orang yang memaafkan? Mengapa memaafkan? Agar dapat memahami makna memaafkan, kita perlu merenungkan situasi hidup tanpa permaafan. Hidup tanpa permaafan melanggengkan derita psikis yang berawal dari sikap permusuhan dan keinginan mengalahkan. Biasanya sikap dan keinginan ini (tanpa disadari) berlatar belakang amarah, suatu emosi yang menghabiskan energi mental dan melanggengkan stres. Dendam, tulis John Monbourquette (2000) dalam How to Forgive, merupakan keadilan instinktual yang mencuat dari alam bawah sadar. Derita menghendaki derita atas nama keadilan instinktual. Akibatnya, kita terikat rantai derita, berbalut kekerasan yang tiada putus. Rantai derita mesti diputus oleh sikap memaafkan. Permaafan menyesatkan Madame Swetchine (penulis Rusia, 1782-1857) mengingatkan, โ€Sangat jarang kita memaafkan dan sangat sering kita melupakan.โ€ Ya, kita sering menyalahmaknakan memaafkan dengan melupakan. Kita bersadar diri dan menemukan berbagai kelemahan sendiri seperti rasa malu, kecenderungan agresif, keinginan berbalas dendam, rasa tertelantar, dan keinginan untuk melupakan begitu saja. Sungguh menyakitkan karena pemeriksaan batin menyadarkan kita bahwa ternyata kita tidak jauh berbeda dari orang yang bersalah pada kita. Kata Jacques-Marie Pohier dalam John Monbourquette (2000): โ€Karena itu memaafkan itu sulit karena kita takut akan risikonya.โ€Langkah-langkah memaafkan Dalam Putting Forgiveness into Practice, Doris Donneley (1982) menjabarkan langkah-langkah memaafkan sebagai berikut: mengenali luka batin kita, memutuskan untuk memaafkan, menyadari kesulitan dalam memberi maaf, dan menyadari dampak negatif dari ketiadaan permaafan. Sementara David Norris (1984) dalam Forgiving from the Heart mengusulkan lima langkah: memperteguh niat memaafkan, secara akurat memeriksa kembali pelanggaran (kesalahan) orang yang akan dimaafkan, memaknakan kembali luka batin akibat kesalahan, membina kembali relasi yang terputus, dan mengintegrasikan kembali berbagai retak psikis yang dialami akibat luka batin.

Catatan Pra Konfercab PMII Kota Malang Bagian Pertama

By: Irham Thoriq Aly

Bebarapa waktu lalu, ketika penulis menghadiri Rapat Kaderisasi Nasional (Rakornas) yang di adakan PB PMII bersama sepuluh sahabat dari Malang. Rakornas dengan grand tema PMII mengusai leading sector, yakni PMII sepuluh tahun mendatang hendak bercita cita mengusai semua sector kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Singkat kata sector itu minimal terbagi tiga yakni sector pemerintahan, akademisi dan industri.

Dari berbagai diskusi ringan, PMII yang sudah berumur 52 tahun dalam prespektif psikologi orang seumur itu adalah manusia yang kembali pada masa kanak-kanak, bingung dengan eksistensinya dan jauh belum merasakan pencarian identitas. Di usia setengah abad lebih, PMII dengan berbagai infra dan super strukturnya mencari identitas dalam rangka memformulasikan zaman yang semakin cepat berubah.

Kegalauan dalam menyikapi tantangan zaman ini tentunya sudah dirasakan PC PMII Kota Malang priode 2011-2012. Dalam berbagai pidatonya, Iden Robert Ulum Ketua Umum menyampaikan bahwa harus ada formulasi kaderisasi yang tepat karena perkembangan zaman di era kekinian membutuhkan kader-kader yang professional. Hal inilah yang kemudian hard skill menjadi garapan utama kepengurusan ini. Meskipun secara aplikatif belum menjamah grass road Rayon sebagai ujung tombak kaderisasi.

Kegalauan ber PMII di rasakan berbagai pihak dalam diskusi ringan, di tengah zaman modernisasi seolah PMII adalah organisasi tradisional yang eksistensinya hanya bisa dirasakan dan cocok oleh kader berbasiskan social dan kampus-kampus agama. Meskipun inisiasi sudah benyak di lakukan, PMII bukan organisasi yang โ€œmenarikโ€ bagi mahasiswa yang oriantasinya akademis dan profesionalitas terutamanya di fakultas eksakta. Hal inilah yang menjadi kagalauan PB PMII yang penulis rasakan dengan di adakannya Rakornas.

Kegaluan inilah yang kemudian tulisan ini hadir, sebagai input sebelum konfercab di laksanakan. PMII Kota malang dengan dua belas komisariatnya tentunya harus memodernisasi gerakannya ketika ingin eksisitensinya tidak tergadaikan oleh zaman yang kian berubah.

Eksistensi dan orientasi gerakan yang tak menentu inilah yang kita rasakan sebagai kader PMII Kota Malang. Dalam hal kaderisasi misalnya, formulasi di konsep oleh PMII kota malang yang bervisikan mencetak dan focus kepada profesionalisme kader hanya masih sebuah ide dan verbalisme yang aplikasinya masih jauh dari terlaksana. Cita cita cabang dalam hal profisonalisme kader belum tentu sama dengan mimpi Komisarait dan Rayon.

Karenanya tidak kesefahaman kaderisasi dari tingkatan Cabang sampai Rayon inilah gerakan kita dalam menyaipkan resourses PMII menjadi tumpang tindih dan tidak satu frame. Hubungan antara rayon, komisariat dan cabang hanya hubungan structural administratif belum menjamah pada hubungan dalam hal kebijakan, konsep dan tata kaderisasi. Kebesaran PMII Kota Malang inilah yang kemudian tereduksi karena ketidak sefahaman dalam tata nilai, tata kaderisasi dan tata institusi yang kebanyakan tumpang tindih.

Re-eksistensi dan Re-orientasi PMII Kota Malang Inilah yang harus di hadirkan di forum konfercab. Tentunya forum konfercab merupakan ruang dimensi yang tepat dalam rangka pengembangan PMII Kota Malang, bukan hanya di jadikan ruang imajiner atau bahkan ruang perebutan kekuasaan di PMII. Re-eksistensi ini bisa di artikan sebagai pencarian kembali eksistensi PMII khususnya dalam konteks kaderisasi dan gerakan di kota malang.

Beberapa waktu lalu, di warung kopi ada sahabat yang tiba tiba nyeletuk di tengah diskusi kecil โ€œapa bedanya ada dan tidak adanya cabangโ€. Ungkapan mungkin hanya celetukan belaka yang tak ilmiah atau mungkin intrik yang tidak cerdas. Namun kalau kita mau merefleksikan dari celetukan di atas ada benarnya. Sebagaimana penulis singgung di atas yakni hubungan antara komisarait dan cabang yang hanya sebatas hubungan structural administratif.

Re-eksistensi inilah yang kemudian menjadi penting menanggapi celetukan yang mungkin hanya di ucapkan tanpa sadar. Re-eksistesi cabang sebagai institsusi tertinggi PMII di Kota Malang inilah yang kemudian menjadi penting karena bagaimanapun Komisariat dan Rayon sebagai ujung tombak kaderisasi masih membutuhkan bimbingan dan regulasi nilai serta format kederisasi dari cabang sebagai institusi di atasnya.

Ketika eksistensi cabang minimal sudah di akui oleh komisarait dan eksistensi Komisariat di rasakan dan bermanfaat bagi Rayon tentunya Cabang Kota malang akan menjadi kekuatan besar dalam memproduksi insan sebagaimana cita-cita PMII yang di matrialkan di AD PMII pasal 4 maupun dalam hal gerakan kemahasiswaan di Malang, yang sebagaimana kita rasakan PMII Kota Malang tidak mampu berbuat banyak di tataran isu-isu local malang serta kurang mempunyai political will dimana PMII kota malang hidup.

Di pihak lain Re-orientasi menjadi penting juga karena penulis amati (dengan tidak mengurangi rasa hormat) bahwa dari pergantian kepengurusan dan kepemimpinan PMII Kota malang belum ada orientsi jangka panjang, menengah dan pendek dalam rangka pengembangan PMII baik secara institusi dan nilai. Reoriantasi menjadi penting karena sebagai organisasi kepemudaan terbesar di Malang PMII harus memiliki orientasi jangka panjang yang jelas. Tentunya kita tidak ingin dari kebergantian pengurus yang berganti hanyalah orangnya saja namun secara ide, gagasan dan kerja kerja organisasi berjalan di tempat.

Dalam momentum konfercab inilah semoga gagasan besar tentang pengembangan tata nilai, tata institusi dan tata kaderisasi bisa kita dapatkan. Karena bagaimanapun, mengutip tulisan Malik Haramaian yang juga mantan Ketum Cabang PMII Kota Malang dan PB PMII bahwa ketika PMII tak kunjung berbenah diri mengikuti arus zaman yang kian berubah, PMII hanya akan menjadi fosil yang hanya namanya akan di abadikan di museum Indonesia, tantunya hal itu tidak kita harapkan bersama demi marwah gerakan PMII dalam rangka investasi peradaban bagi bangsa ini.

Sekilas Pandang Kehidupan dalam Rumah Tangga

By: Meirima Asayo

Dalam rumah tangga itu terdapat dua orang asing yang berbeda , namun saling terpaut hati. Dua orang itu bertemu pada moment-moment tertentu yang menggetarkan hati. Pembaca perlu kamu tahui istri/ suamimu nanti mempunyai sifat yang berbeda denganmu. Dia belum tau apa kekurangan dan kejelekanmu pada masa taaruf, tpi ketika sudah terikat oleh hubungan yang haqq, mulailah tampak segala kekurangannya segala sifat yang bertentangan dan tantangannya adalah bagaimana caranya membuat perbedaan itu sebagai pemanis dalam rumah tangga. Perlu diketahui bahwasanya, istri/suami kita adalah orang terdekat yang akan mengisi rumah dan tempat tidur kita nantinya sehingga penanganannya pun pasti berbeda. Pendekatan yang qt lakukan tidaklah sama dengan pendekatan kepada orang lain, bercandaannyapun harus berbeda pula…

Pembaca , menilik dari pengalaman bahwasanya seorang wanita cenderung dengan sifat-sifatnya yang halus. Sehingga ia cenderung sensitif, sering menangis . terkadang ia juga hanya bisa diam terhadap apa yang dirasakannya. Pembaca walaupun ia cenderung tak bisa disakiti, walaupun ia wanita sering menangis karena 1 dan lain hal sikap dari suaminya yang cenderung cuek, satu hal yang perlu ia disadari, bahwa wanita apapun yang ia rasakan selalu ada doa untuk orang-orang yang disayanginya. Terkadang saya sendiri heran, kenapa ya wanita itu begitu sensitif, terlalu berfikiran, terlalu berprasangka dan lain sebagainya. Tapi ia juga bisa menjadi penyangga yang hebat disaat suaminya rapuh, bersikap bijak dan seorang pengayom yang hebat. Disaat cekcok rumah tangga, kadang sang suami keceplosan bercerita kepada keluarganya tapi wanita cenderung diam. Jangan salah…ada juga lho yang wanita kebalikan dari yang saya paparkan.

Banyaknya tipe kepribadian membuat kita harus extra hati-hati dalam mengeksekusi tindakan dari suatu dinamika, bila tergesa-gesa bisa runyam jadinya. Bila berlarut-larut bisa menimbulkan titik jenuh dan bosan dari salah satu pasangan. Intinya jangan biarkan pasangan kita berprasangka buruk terhadap kita, karena walau bagaimanapun pasangan kita itu bukan dukun yang tau segala-galanya.

Komunikasi dalam suatu hubungan itu sangat urgent, namun bila komunikasi itu berjalan datar dan tanpa feel sama saja bohong. Jalani komunikasi yang sehat dan jelas sehingga nada dalam rumah tangga itu dapat membentuk sebuah lagu, tinggal bagaimana penulis untuk membuat ending dan reffnya saja.

Owh ya, hampir lupa! Sang istri itu perasa, karen itu ia akan merasa kalau ada perbedaan dari suaminya, pada saat seperti ini peran suami sangatlah penting. Walau dinamika sosial keluarga dan kantor membuat kepala menjadi pecah, nah cobalah untuk profesional belajar dari dokter, karena dokter itu semua permasalahan kantor cukup diarea kantor saja. Ketika dirumah bawa suasana baru, boleh share dengan pendamping seumur hidup akan tetapi jangan berlarut โ€“larut, selesai cerita bangkitkan lagi komunikasi efektif yang membuat alunan lagu rumah tangga menjadi indah.