ISUISME

Isu-SARAGejolak perpolitikan di Indonesia setiap hari, setiap menit, bahkan setiap detik selalu di warnai dengan isu-isu hangat untuk dibahas. Media massa menjadi pelaku nomer satu sebagai dalang pewayangan berita yang ada di dalam negeri. Terjadinya aktualisasi atau hoaks sebuah berita tergantung bagaimana media massa mengemas sebuah berita yang akan dipublikasikan. Continue reading

Advertisements

Mengapa Harus PMII??? (2)

IMG_20150914_130514Ya, mungkin pertanyaan ini lah yang pertama kali muncul di benak teman-teman ketika ada seorang Sahabat yang mengajak untuk bergabung dengan PMII melalui kegiatan MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru). Ini hal yang lumrah. Saya pun ketika diajak untuk mengikuti MAPABA, pertanyaan itulah yang pertama kali saya lontarkan. Saya yang kala itu telah lebih dulu bergabung dengan organisasi ekstra lain tidak serta merta mengiyakan ajakan tersebut, dan berbagai pertanyaan lain pun menyusul. Tulisan ini saya buat untuk membantu teman-teman menemukan jawaban “Mengapa harus PMII?”.

PMII yang merupakan singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia seperti halnya organisasi-organisasi ekstra lainnya merupakan suatu wadah pembelajaran nyata layaknya laboratorium sosial yang menawarkan sentuhan langsung pada masyarakat. Salah satu hal yang membedakan PMII dengan organisasi ekstra lainnya adalah paradigma PMII, yaitu paradigma kritis – transformatif. Hal ini meliputi penegakkan harkat dan martabat kemanusiaan dari berbagai belenggu yang diakibatkan oleh proses sosial yang bersifat profan, tegas dalam melawan segala bentuk dominasi dan penindasan, serta membuka tabir dan selubung pengetahuan yang munafik dan hegemonic. Pokok-pokok pikiran inilah yang dapat diterima sebagai titik pijak paradigma kritis di kalangan warga PMII. Continue reading

Seminar dan Musikalisasi Dialogis

Proudly Present – Grand Commite Forum Kedaulatan Berfikir Indonesia (Sovereign of Think Forum) mengadakan Seminar dan Musikalisasi Dialogis dengan pembicara “Noe ‘Letto’ (Musisi dan Aktivis Budayawan)” dan “Abdullah SAM (Penggagas Pesantren Rakyat Nasioanal)” yang dimoderatori oleh “Christiaji Indramojo (Dokter, Dosen dan Aktivis)”.

Acara ini bertemakan “Menalar Pergerakan Politik Mahasiswa”.

Acara ini akan diselenggarakan pada hari Minggu, 27 September 2015 pukul 08.00 sampai selesai, bertempat di Auditorium Gedung Sains dan Teknologi (SAINTEK) lantai 4 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Bagi sahabat yang berminat mengikuti acara tersebut sahabat bisa menghubungi contact person yang tercantum pada poster dengan cara ketik: Nama<spasi>Jurusan<spasi>Universitas kirim ke 085-784-566-619 (Intan) atau 085-784-444-747 (Riza). Ingat!!! KUOTA TERBATAS. Hanya dengan 30k (umum) dan 25k (mahasiswa), sahabat sudah bisa mengikuti acara ini dan mendapatkan fasilitas Materi, Hiburan, Snack dan Sertifikat.

Buruan!!! Mari Dialogkan Pikiranmu…!!!

Seminar Nasional

Manajemen Aksi

I.    PENGERTIAN MANAJEMEN AKSI

Manajemen

Secara umum Manajemen memiliki pengertian pengelola potensi atau isi di dalam sebuah wadah atau komunitas.

 

Aksi

Aksi berasal dari kata “Action” yang bermakna “ Gerak”, Gerakan adalah berpindahnya energi, volume, tempat dan waktu dari kondisi semula menuju kondisi kemudian. Aksi di dalam dunia organisasi pergerakan dapat diterjemahkan sebagai segala pikiran dan perbuatan/tindakan yang mengarah pada capaian-capaian terhadap tujuan perjuangan itu sendiri.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen aksi merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengatur suatu massa aksi agar tetap terkoordinir dan sesuai dengan rencana dan target awal hingga mencapai hasil yang diinginkan.

Aksi umumnya dilatarbelakangi oleh matinya jalur penyampaian aspirasi atau buntunya metode dialog.. Dalam trias politika, aspirasi rakyat diwakili oleh anggota legislatif. Namun dalam kondisi pemerintahan yang korup, para legislator tak dapat memainkan perannya, sehingga rakyat langsung mengambil ‘jalan pintas’ dalam bentuk aksi. Aksi juga dilakukan dalam rangka pembentukan opini atau mencari dukungan publik. Dengan demikian isu yang digulirkan harapannya dapat menjadi snowball.

Salah satu bentuk penyampaian aspirasi kepada pemerintah serta penyampaian pesan kepada masyarakat adalah dengan melakukan aksi massa. Dalam negara yang berdemokrasi, aksi menjadi cara yang dilegalkan, oleh karena itu lembaga pendidikan seperti universitas juga harus berperan sebagai guardian of value dari pemerintah serta masyarakat. Mengapa cara yang dipilih adalah aksi ? karena aksi berdampak pada dua sisi, yakni sisi ketersampaian pesan kepada pihak yang diinginkan serta penyadaran masyarakat atas sebuah isu. Sehingga aksi masih menjadi cara yang relevan untuk dilakukan.

 

II.    ATURAN HUKUM

UU. NO. 9 TAHUN 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Beberapa hal; penting dalam undang-undang ini :

  • Penyampaian pendapat dimuka umum tidak boleh dilaksanakan ditempat tertentu, antara lain Istana Presiden (Radius 100m), tempat ibadah (Radius 150 m), Instalasi militer dan obyek vital nasional (Radius 500 m) dari pagar luar.
  • Dilarang membawa benda-benda yang membahayakan keselamatan umum (Sajam, Molotov, dll)
  • Menyampaikan laporan atau pemberitahuan tertulis kepada pihak kepolisian setempat
  • Surat pemberitahuan memuat tentang tujuan dan maksud aksi, waktu dan acara, rute, jumlah massa, penanggung jawab aksi dimana dalam UU ini 100 massa 1 orang penanggung jawab.

III.  BENTUK DAN SUSUNAN MASSA AKSI

Bentuk Aksi :

Aksi Demonstrasi, Aksi Mogok makan, Aksi Damai, Aksi Mimbar bebas, Aksi Theatrikal, dll

IV.  TAHAPAN AKSI

Dalam melaksanakan aksi, harus mempertimbangkan beberapa hal penting. baik perangkat yang mesti dipersiapkan maupun tahapan-tahapan yang harus dilalui bersama. Aksi memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui, antar lain:

A.      Pra Aksi

1.       Persiapan dan pematangan issue

2.       Menyusun Tim Aksi

Perangkat aksi adalah bagian kerja partisipan massa aksi. Perangkat massa aksi disesuaikan dengan kebutuhan, biasanya diperlukan perangkat sebagai berikut:

Koordinator lapangan.

Korlap bertugas memimpin aksi di lapangan, berhak memberikan instruksi kepada peserta aksi/massa. Keputusan untuk memulai ataupun membubarkan /mengakhiri massa aksi ditentukan oleh korlap.

Orator

Orator adalah orang yang bertugas menyampaikan tuntutan-tuntutan massa aksi dalam bahasa orasi, serta menjadi agitator yang membakar semangat massa.

Humas

Perangkat aksi yang bertugas menyebarkan seluas-luasnya perihal massa aksi kepada pihak-pihak berkepentingan, terutama pers.

Negosiator

Negosiator berfungsi sesuai dengan target dan sasaran aksi. Misalnya pendudukan gedung DPR/DPRD sementara target tersebut tidak dapat tercapai karena dihalangi aparat keamanan, maka negosiator dapat mendatangi komandannya dan melakukan negosiasi agar target aksi dapat tercapai. Karenanya seorang negosiator hendaknya memiliki kemampuan diplomasi.

  1. Kurir (menjembatani komunikasi antara massa aksi dengan massa aksi lain)
  2. Advokasi (memberi perlindungan hukum apabila tjd chaos)
  3. Asisten teritorial/keamanan/sweaper/dinamisator lapangan/intelejen
  4. Logistic dan medical rescue.
  5. Dokumentasi
  6. Tim kreatif
  7. Membuat press release (Berisikan pesan dan tuntutan dari isu yang telah dibahas)
  8. Mengumpulkan massa (estimasi)
  9. Menghubungi media
  10. Mempersiapkan perangkat / kelengkapan aksi

(spanduk, bendera, press release,perangkat dokumentasi, poster, , pengeras suara seperti TOA dan mobil sound system, dan identitas peserta aksi, dan failitas teatrical.)

  1. Skenario dan pembagian peran
  2. Menghubungi pihak kepolisian untuk perizinan

B.      Aksi

Dalam tahapan inilah peran, fungsi dari perangkat aksi diaplikasikan sesuai dengan tugas masing-masing, komunikasi serta koordinasi antar perangkat aksi tidak boleh terputus karena perubahan situasi di lapangan sangatlah cepat, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan dalam suatu aksi dapat dihindari, misalnya : Provokasi, Infiltran, Represif aparat, Chaos.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan aksi yakni :

  1. Membagikan pesan yang telah dibuat, seperti pamflet dan leaflet.
  2. Berorasi dalam perjalanan dan di tempat tujuan akhir, orasi adalah bagian dari penyampaian pesan aksi kepada masyarakat luas.
  3. Yel-yel dan menyanyikan lagu. Sebagai penyemangat massa aksi dan mendominasi/ menguasai suasana/ keadaan (situasi dan kondisi).
  4. Audiensi ke pihak yang dituju, dilakukan oleh perangkat aksi yang telah ditunjuk, negosiator maupun yang jago dalam beraudiensi.
  5. Pembacaan press release. Hal ini biasanya dilakukan pada akhir aksi dan diharapkan dapat diliput media agar pesan yang kita bawa dapat tersampaikan kepada khalayak luas.

C.       Pasca Aksi

  • Absensi, sebagai pemastian terhadap jumlah peserta aksi yang terlibat selama pelaksanan aksi.
  • Evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan dari aksi
  • Rekomendasi, dari hasil-hasil yang telah dicapai melalui aksi dapat dikerangkakan menjadi sebuah masukan untuk gerakan yang akan dilaksanakan selanjutnya.

Peranan kelembagaan organisasi di lingkungan yang dihadapi menjadi mutlak untuk dipersiapkan. Pikiran tanpa praktek hanya akan melahirkan mimpi saja, sedangkan praktek tindakan tanpa pikiran hanya akan melahirkan ugal-ugalan atau anarki gerakan sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Bung Karno bahwa gerakan harus Massa Aksi (Massa yang sadar akan pikiran dan perbuatannya) bukan Aksi Massa (Aksi yang gemerlap tampilannya saja atau hanya ikut-ikutan). Program perjuangan organisasi pergerakan yang dipraktekkan dalam Manajemen Aksi dan Propaganda harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.

“AKSI TANPA TEORI ADALAH ANARKI, TEORI TANPA AKSI ADALAH OMONG KOSONG”