Teruntuk Surat dari Sudut Pojok Kaderisasi

Assalamualaikum.Wr.Wb

Salam takzim kita teruntuk pimpinan kami dan barisan pasukannya.

Tulisan ini ditulis dalam keadaan bahagia dan senang meski itu hanya kiasan yang tersembunyikan.

surat amplop

Begitu juga semua ini hanya untuk simbolisasi kemesraan yang di sengajakan agar suasana tetap tenang dan nyaman sehingga kami kader-kader baper ini mencermati dengan senang seremoni para pimpinan yang sedang serius memperjuangkan masa depan organisasi kita ini.

Salam dari nahkoda kami untuk seluruh barisan pojok kaderisasi yang mungkin sama meresahkan pada situasi tameng dengan bintang sembilan kebanggaan kita ini.

Continue reading

Catatan Pra Konfercab PMII Kota Malang Bagian Pertama

By: Irham Thoriq Aly

Bebarapa waktu lalu, ketika penulis menghadiri Rapat Kaderisasi Nasional (Rakornas) yang di adakan PB PMII bersama sepuluh sahabat dari Malang. Rakornas dengan grand tema PMII mengusai leading sector, yakni PMII sepuluh tahun mendatang hendak bercita cita mengusai semua sector kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Singkat kata sector itu minimal terbagi tiga yakni sector pemerintahan, akademisi dan industri.

Dari berbagai diskusi ringan, PMII yang sudah berumur 52 tahun dalam prespektif psikologi orang seumur itu adalah manusia yang kembali pada masa kanak-kanak, bingung dengan eksistensinya dan jauh belum merasakan pencarian identitas. Di usia setengah abad lebih, PMII dengan berbagai infra dan super strukturnya mencari identitas dalam rangka memformulasikan zaman yang semakin cepat berubah.

Kegalauan dalam menyikapi tantangan zaman ini tentunya sudah dirasakan PC PMII Kota Malang priode 2011-2012. Dalam berbagai pidatonya, Iden Robert Ulum Ketua Umum menyampaikan bahwa harus ada formulasi kaderisasi yang tepat karena perkembangan zaman di era kekinian membutuhkan kader-kader yang professional. Hal inilah yang kemudian hard skill menjadi garapan utama kepengurusan ini. Meskipun secara aplikatif belum menjamah grass road Rayon sebagai ujung tombak kaderisasi.

Kegalauan ber PMII di rasakan berbagai pihak dalam diskusi ringan, di tengah zaman modernisasi seolah PMII adalah organisasi tradisional yang eksistensinya hanya bisa dirasakan dan cocok oleh kader berbasiskan social dan kampus-kampus agama. Meskipun inisiasi sudah benyak di lakukan, PMII bukan organisasi yang “menarik” bagi mahasiswa yang oriantasinya akademis dan profesionalitas terutamanya di fakultas eksakta. Hal inilah yang menjadi kagalauan PB PMII yang penulis rasakan dengan di adakannya Rakornas.

Kegaluan inilah yang kemudian tulisan ini hadir, sebagai input sebelum konfercab di laksanakan. PMII Kota malang dengan dua belas komisariatnya tentunya harus memodernisasi gerakannya ketika ingin eksisitensinya tidak tergadaikan oleh zaman yang kian berubah.

Eksistensi dan orientasi gerakan yang tak menentu inilah yang kita rasakan sebagai kader PMII Kota Malang. Dalam hal kaderisasi misalnya, formulasi di konsep oleh PMII kota malang yang bervisikan mencetak dan focus kepada profesionalisme kader hanya masih sebuah ide dan verbalisme yang aplikasinya masih jauh dari terlaksana. Cita cita cabang dalam hal profisonalisme kader belum tentu sama dengan mimpi Komisarait dan Rayon.

Karenanya tidak kesefahaman kaderisasi dari tingkatan Cabang sampai Rayon inilah gerakan kita dalam menyaipkan resourses PMII menjadi tumpang tindih dan tidak satu frame. Hubungan antara rayon, komisariat dan cabang hanya hubungan structural administratif belum menjamah pada hubungan dalam hal kebijakan, konsep dan tata kaderisasi. Kebesaran PMII Kota Malang inilah yang kemudian tereduksi karena ketidak sefahaman dalam tata nilai, tata kaderisasi dan tata institusi yang kebanyakan tumpang tindih.

Re-eksistensi dan Re-orientasi PMII Kota Malang Inilah yang harus di hadirkan di forum konfercab. Tentunya forum konfercab merupakan ruang dimensi yang tepat dalam rangka pengembangan PMII Kota Malang, bukan hanya di jadikan ruang imajiner atau bahkan ruang perebutan kekuasaan di PMII. Re-eksistensi ini bisa di artikan sebagai pencarian kembali eksistensi PMII khususnya dalam konteks kaderisasi dan gerakan di kota malang.

Beberapa waktu lalu, di warung kopi ada sahabat yang tiba tiba nyeletuk di tengah diskusi kecil “apa bedanya ada dan tidak adanya cabang”. Ungkapan mungkin hanya celetukan belaka yang tak ilmiah atau mungkin intrik yang tidak cerdas. Namun kalau kita mau merefleksikan dari celetukan di atas ada benarnya. Sebagaimana penulis singgung di atas yakni hubungan antara komisarait dan cabang yang hanya sebatas hubungan structural administratif.

Re-eksistensi inilah yang kemudian menjadi penting menanggapi celetukan yang mungkin hanya di ucapkan tanpa sadar. Re-eksistesi cabang sebagai institsusi tertinggi PMII di Kota Malang inilah yang kemudian menjadi penting karena bagaimanapun Komisariat dan Rayon sebagai ujung tombak kaderisasi masih membutuhkan bimbingan dan regulasi nilai serta format kederisasi dari cabang sebagai institusi di atasnya.

Ketika eksistensi cabang minimal sudah di akui oleh komisarait dan eksistensi Komisariat di rasakan dan bermanfaat bagi Rayon tentunya Cabang Kota malang akan menjadi kekuatan besar dalam memproduksi insan sebagaimana cita-cita PMII yang di matrialkan di AD PMII pasal 4 maupun dalam hal gerakan kemahasiswaan di Malang, yang sebagaimana kita rasakan PMII Kota Malang tidak mampu berbuat banyak di tataran isu-isu local malang serta kurang mempunyai political will dimana PMII kota malang hidup.

Di pihak lain Re-orientasi menjadi penting juga karena penulis amati (dengan tidak mengurangi rasa hormat) bahwa dari pergantian kepengurusan dan kepemimpinan PMII Kota malang belum ada orientsi jangka panjang, menengah dan pendek dalam rangka pengembangan PMII baik secara institusi dan nilai. Reoriantasi menjadi penting karena sebagai organisasi kepemudaan terbesar di Malang PMII harus memiliki orientasi jangka panjang yang jelas. Tentunya kita tidak ingin dari kebergantian pengurus yang berganti hanyalah orangnya saja namun secara ide, gagasan dan kerja kerja organisasi berjalan di tempat.

Dalam momentum konfercab inilah semoga gagasan besar tentang pengembangan tata nilai, tata institusi dan tata kaderisasi bisa kita dapatkan. Karena bagaimanapun, mengutip tulisan Malik Haramaian yang juga mantan Ketum Cabang PMII Kota Malang dan PB PMII bahwa ketika PMII tak kunjung berbenah diri mengikuti arus zaman yang kian berubah, PMII hanya akan menjadi fosil yang hanya namanya akan di abadikan di museum Indonesia, tantunya hal itu tidak kita harapkan bersama demi marwah gerakan PMII dalam rangka investasi peradaban bagi bangsa ini.