CECUNGUK YANG COBA MELAWAN

10329172_759126934118137_3191452876674932502_nBy: A Nazaruddin Faiz

Ahhh… Masih seperti dulu.
Tanpa perubahan
Tanpa perkembangan
Dan tetap berhenti dalam satu titik
Disini siapa aku … ???
Aku hanya cecungguk. Yang harus tunduk.
Tunduk dg sisitem…. Bahkan dalam budayapun aku masih tertunduk.
Apakah aku masih jalan ditempat… ???
Ahhh…. Perasaan tidak kok.
Aku sudah berusaha..
Aku juga mencoba berjuang..
Tapi aku ini siapa ??? hah… Cecunguk. haha
Aku bingung. Bingung dan kebingungan
Sekarang aku bahkan tak mampu berjalan
Masih kebingungan. Bingung…
Ahhh. Persetan dengan perubahan
Budaya memerintah dan tunduk
Kapan itu hilang….
Mungkin mustahil….
Bahkan Sudah mengakar…
Samapai kapan kita seperti ini .
Hidup dalam sebuah jeruji..
Tanpa kita tau kemana arah tujuan kita.
Kita dididik untuk bingung mencari tujuan hidup…
Kebebasan mungkin sedikit lagi akan punah
Dan mungkinn juga akan menjadi mitos…
Arti kebabasan, makna sebuah kebebasan
Semua sudah mulai dihilangkan..
Aku sudah berjuang untuk sadar
Sadar diri . bahwa itu salah..
Aku harus melawann.
Aku tak boleh diam.
Tapiiiii….. Siapa aku ????
Aku tak mampu bergerak.
Aku harus tunduk.
Dan menangisi ketundukanku….
Duduk diam kebingungan menangisi sebuah ceritaku….

STRATAK ala JOKOWI

By: Dwi Kresdianto

Seolah tak ada habisnya, kemenangan fenomenal Jokowi dalam pilkada DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu meninggalkan banyak pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang umum terlontar adalah, tentang bagaimana sebenarnya strategi kemenangan yang pada akhirnya mengantarkan sang walikota Solo menduduki posisi “B-1” tersebut. Melalui penelusuran berbagai media, pada akhirnya didapat gambaran umum bahwa apa yang dilakukan Jokowi bersama tim suksesnya secara marketing politik adalah sebuah terobosan yang berani. Berikut adalah gambaran umum strategi marketing Jokowi tersebut.

Sebagaimana persis yang dilakukan oleh seorang pemasar, tim sukses (timses) Jokowi pertama kali berusaha menetapkan target pemilih yang akan mereka “rengkuh” suaranya. Pada tahapan ini, analisa demografis dilakukan dengan membagi wilayah DKI menjadi beberapa “front”. Analisis selanjutnya merambah kepada analisa psikografis penduduk masing-masing “front” dengan mencari komunitas yang memiliki ikatan emosionil apapun bentuknya dengan pasangan Jokowi-Ahok. Secara tradisional kaum urban pendatang DKI yang secara sukuisme memiliki pertalian menjadi target kuat.

Setelah analisis tersebut dilakukan, strategi marketing politik timses Jokowi merambah pada analisa perilaku populasi yang diperkirakan akan menjadi basis kuat mereka. Yang dilakukan kemudian adalah mencoba mengembangkan sentimen “avantgarde” dengan terus melempar isu-isu pembaruan serta memberikan solusi-solusi dinamis atas kelemahan para lawannya. Adapun sumber isu-isu tersebut didapat dari analisa perilaku populasi potensial di masing-masing “front” pemilihan. Ide-ide dasar dari masyarakat yang dicetuskan spontan tersebut kemudian kembali disaring dengan menggunakan matriks “kebermanfaatan & masalah”. Hasil dari matriks tersebut disaring kembali hingga didapatkan sederetan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi populasi tersebut dalam memilih seorang kepala daerah. Hasil lain dari matriks kebermanfaatan itu adalah “attitude meter” terhadap gubernur terkini berikut program-program yang telah dan sedang dilaksanakannya. Kombinasi dari hasil-hasil tersebut kemudian diformulasikan menjadi deretan indikator “keidealan” figur seorang gubernur DKI serta program apa saja yang seharusnya direalisasikan. “Feedback” yang didapatkan dari masyarakat inilah yang kemudian diolah sedemikian rupa dan pada akhirnya menjadi “materi kampanye” pasangan Jokowi-Ahok.

Langkah selanjutnya, timses pasangan Jokowi-Ahok melakukan tes “kedalaman” dan “kekentalan” pada masing-masing “front” pemilihan. Maksud dari tes kedalaman dan kekentalan tersebut adalah aktivitas pengukuran terhadap tanggapan penduduk di masing-masing daerah tentang kemungkinan hadirnya figur baru yang membawa “perubahan positif” akan tetapi berbeda secara “budaya” dengan mereka. Mereka melakukan pendataan populasi pemilih dan membaginya ke dalam 5 kelompok pemilih. Yakni pemilih negatif pembaruan, pemuilih apatis, pemilih potensial yang peragu, pemilih potensial yang pasif, dan pemilih potensial yang aktif. Dari masing-masing segmentasi pemilih tersebut, timses Jokowi-Ahok juga melakukan pengukuran terhadap jumlah populasi, jumlah pemilih potensial awal, serta jumlah pemilih potensial paling optimal. Analisis lanjutan yang kemudian dilakukan oleh timses Jokowi-Ahok adalah, melakukan pemetaan terhadap program-program apa saja dari gubernur terkini DKI, yang telah dinikmati maupun yang belum dinikmati oleh penduduk masing-masing segementasi populasi.

Setelah didapatkan ukuran pasti serta potensi masing-masing segmen pemilih, timses Jokowi-Ahok melaksanakan analisis kompetitif terhadap para pesaingnya. Pengumpulan indikator-indikator SWOT masing-masing pasangan pesaing dilakukan secepat dan secermat mungkin, untuk kemudian dianalisis lebih lanjut. Dari analisis SWOT tersebut didapatkan data mengenai potensi masing-masing pesaing serta indikator-indikator pendukung atas potensi yang dimiliki masing-masing kompetitor tersebut. Hasil dari analisis SWOT tersebut juga menyarikan program-program yang akan ditawarkan dan menjadi materi kampanye masing-masing pesaing, dengan terlebih dahulu melakukan segementasi isu dari yang “berkadar” sangat penting, penting, kurang penting, biasa, hingga isu tidak penting.

Analisis SWOT tersebut juga menghasilkan basis-basis pendukung masing-masing kompetitor, strategi promosi yang dieksekusi, para mitra dan sekutu, serta penetrasi mereka di berbagai media.

Masing-masing potensi yang dimiliki pesaing tersebut, timses Jokowi-Ahok merumuskan langkah-langkah “penanggulangan”. Termasuk didalamnya mendiskusikan faktor-faktor apa saja yang bisa dilakukan agar dapat mempengaruhi basis pemilih pesaing disetiap segmentasinya. Kegiatan ini juga melibatkan usaha-usaha “audit” terhadap keberadaan mitra dan jenis saluran kampanye dari pesaing yang bisa “diolah” dan “digunakan”  senjata yang membawa manfaat sebesar-besarnya bagi pasangan Jokowi-Ahok.

Cara terakhir dilakukan adalah mencocokkan hasil analisis pesaing tersebut dengan berbagai skenario makropolitik yang mungkin terjadi di masa depan. Termasuk didalamnya pergeseran konstelasi dukungan dari “kekuatan atas”, plus langkah-langkah antisipatif untuk menyesuaikan dengan setiap kondisi yang ada. Hasilnya ? Jokowi-Ahok pun masuk Balaikota DKI dengan langkah wibawa.

Analisa Sosial

STRUKTUR SOSIAL

Lebih dahulu perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan struktur sosial. Kita ketahui, bahwa orang-orang yang hidup dalam masyarakat saling berinteraksi. Interaksi ini didasari dan terus diarahkan pada nilai-nilai kebersamaan, norma-norma yaitu standar tingkah laku yang mengatur ineraksi antar individu yang menunjukkan hak dan kewajiban tiap-tiap individu sebagai sarana penting agar tujuan bersama tercapai, dan akhirnya oleh sanksi, baik sanksi yang negatif dalam arti mendapat hukuman kalau melanggar norma maupun sangat positif yaitu mendapat penghargaan karena telah mentaati norma yang ada. Dasar dan arah umum interaksi inlah yang kita mengerti sebagai kultur.

Kecuali itu, interaksi antar individu juga diantur sesuai dengan tujuan-tujuan khusus interaksi itu. Interaksi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan keakraban diatur dalam institusi keluarga. Interaksi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup diatur dalam institusi ekonomi. Interaksi orang dalam hubungannya dengan Illahi diatur dalam institusi agama. Sedangkan agar keseluruhan interaksi dalam masyarakat umumnya bisa bisa terjamin dan pasti diadakan institusi politik. Institusi-institusi ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Bagaimana kadar saling hubungan dan saling mempengaruhi, serta mana institusi yang paling berpengaruh harus dilihat langsung dalam masyarakat yang ada. Karl Marx umpamanya berpendapat, bahwa institusi ekonomislah yang merupakan landasan di mana institusi-institusi lain berdiri. Dengan kata lain semua institusi lainnya dipengaruhi dan ditentukan oleh institusi ekonomi. Tidak ada pengaruh timbal balik.

Perlu diingat, bahwa dalam setiap institusi juga ada nilai-nilai, norma-norma dan sanksi-sanksi, karena tujuan institusi memang untuk mengatur interaksi. Keseluruhan institusi memang untuk mengatur interaksi. Keseluruhan institusi serta saling berhubungan satu sama lain, itulah yang disebut stuktur sosial.  Kata stuktur menunjukkan saling adanya hubungan antara bagian keseluruhan. Maka dapat dikatakan stuktur sosial adalah interaksi manusia yang sudah berpola dalam institusi ekonomi, politik, agama, keluarga, budaya. Dengan kata lain struktur sosial adalah pengorganisasian masyarakat yang ada atau keseluruhan aturan permainan dalam berinteraksi.

KEADILAN PERSONAL, KEADILAN SOSIAL

Selanjutnya perlu juga dimengerti perpindahan antara keadilan personal dan keadilan sosial. Dalam keadilan personal sering mudah diketahui siapa yang bertanggungjawab. Si pembeli A membeli barang dengan kualitas tertentu, ternyata dia mendapat barang dengan kualitas rendah. Penjual barang tersebut jelas langsung bisa dimintai pertanggungjawabannya.  Jelaslah mengenai keadilan personal, pelaksanaannya tergantung pada kehendak individu yang bersangkutan. Keadilan personal manuntut agar kita memperlakukan setiap orang yang kita hadapi dengan adil. Sebaliknya mengenai ketidak adilan sosial tanggung jawab atas perbuatan dan efek perbuatan menjadi tanggung jawab semua orang. Tidak bisa kita menunjuk satu orang untuk beranggung jawabsebagaimana pada ketidak adilan personal. Pelaksanaan keadilan sosial tergantung pada struktur masyarakat.  Karena tergantungnya pad stuktir masyarakat maka tanggung jawab ketidak adilan sosial menjadi tanggung jawab semua pihak.Hal ini diperjelas dengan seringnya individu dalam masyarakat yang tidak bisa bersikap adil meski dia sudah insaf namun karena struktur sosiallah yang menbuat dia tidak bisa bersikap adil. Umpamanya seorang pengusaha tekstil tidak dapat menaikkan upah buruh-buruhnya karena perdagangan tekstil sedemikian rupa sehingga kalau dia menaikkan upah buruh-buruhnya perusahaan akan gulung tikar. Dengan kata lain institusi ekonomi yang ada menyebabkan upah buruh tetap rendah. Kalau pelaksanaan keadilan sosial tergantung pada struktur sosial yang ada, maka perjuangan demi keadilan sosial berarti perjuangan membangun struktur sosial yang semakin adil.

TUJUAN ANALISA SOSIAL

Analisa sosial adalah suatu usaha untuk mempelajari struktur sosial yang ada, mendalami institusi ekonomi, politik, agama, budaya dan keluarga sehingga kita tahu sejauh mana dan bagaimana institusi-institusi itu menyebabkan ketidak adilan sosial. Dengan mempelajari institusi-institusi itu, kita akan mampu  melihat satu masalah sosial yang ada dalam konteknya yang lebih luas. Dan kalau kita berhasil melihat suatau masalah sosial yang henadak kita pecahkan dalam kontek yang lebih luas, maka kita pun juga dapat menentukan aksi yang lebih tepat yang diharapkan dapat menyembhkan sebab terdalam masalah tersebut. Demikian menjadi jelas, analisis sosial adalah suatu usaha nyata yang merupakan bagian penting usaha menegakkan keadilan sosial.

MODEL = KERANGKA BERPIKIR

Dalam menganalisis masyarakat, sadar atau tidak sadar orang biasanya mempunyai kerangka berpikir atau memandang. Kerangka berpikir atau memandang inilah yang disebut model. Demikian suatu model adalah asumsi atau gambaran umum mengenai masyarakat. Model ini mempengaruhi begaimana seseorang memilih objek studi dan cara mendekati objek studi tersebut. Sedang teori yang turunkan dari model berifat lebih terbatas dan persis. Suatu model hanya bisa dinilai lengkap, produktif atau berguna, sedang teori bisa salah atau benar.

Ada dua model yang sering melatar belakangi orang dalam mendekati masalah-masalah sosial, yaitu model konsensus dan model konflik.

MODEL KONSENSUS

Menurut model konsensus, stuktur sosial yang ada merupakan hasil konsensus bersama aanggot masyarakat, perjanjian dan pengakuan bersama akan nilai-nilai. Menurut model ini, setiap masyarakat pada hakikatnya teratur dan stabil. Keteraturan dan kestabilan ini disebabkan karena adanya kultur bersama yang dianut dan dihayati oleh anggota-anggota masyarakat. Kultur bersama ini meliputi nilai-nilai, norma dan tujuan yang hendak dicapai.  Meskipun pada individu-individu ada kemungkinan-kemungkinan perbedaan dalam persepsi dan pengjhayatan kultur bersama itu, toh pada umumnya nilai-nilai sosial yang berdasar serta norma-norma ayang ada. Justru karena adanya konsensus bersama inilah,maka tata sosial dalam suatu masyarakat.

Model ini menilai masalah sosial sebagai penyimpangan dari nilai-nialai dan norma-norma bersama, karenanya juga masalah sosial dianggap membahayakan stabilitas sosial. Penyelesaian masalah sosial selalu diusahakan dalam kerangka tata sosial yang sudah ada. Dengan kata lain tata sosial tidak pernah dipersoalkan , bahkan kelangsungan stuktur sosial yang sudah ada dijunjung tinggi. Model Konsensus melatar belakangi dua ideologi yaitu konservatif dan liberal.

a.      Ideologi konservatif

Ideologi konservatif berakar pada kapitalisme dan liberalisme abad ke-19. Pasaran bebas dianggap oleh ideologi iini sebagai fundamen bagi kebebasan ekonomi dan politik. Pasar bebas dianggap akan menjamin adanya desentralisasi kekuatan politik. Kaum konservatif menjunjung tinggi sruktur sosial. Demi tegaknya struktur sosial tersebut menurut kaum konservatif otoritas dinilai sangat hakiki. Termasuk struktur sosial adalah stratifikasi sosial atau tingkat sosial. Adanya perbedaan tingkat sosial ini dikarenkan perbedaan tingkat individu dengan bakat-bakat yang berbeda. Setiap orang harus berkembang sesuai dengan bakat yang berbeda. Setuap orang harus berkembang sesuai dengan bakat dan pembawaannya. Karenanya sudah sewajarnya kalau ada perbedaan dalam tingkat prestasi yang menuntut masyrakat untuk memberi imbalan dan balas jasa yang berbeda-beda, merupakan dasar adanya hak milik pribadi. Dengankata lain hak milik pribadi dianggap sebagai balas jasa atas jerih payah usaha tiap-tiap anggota masyarakat.

Kemiskinan Menurut Ideologi Konservatif

Pada umumya kaum konservatif melihat masalah kemiskinan sebagai kesalahan pada orang miskin sendiri.Orang miskin dinilai umumnya bodoh,malas, tidak punya motivasi beerprestasi tinggi, tidak punya ketrampilan dan sebagainya yang merka bialang sebagai mental dan kultur penyebab kemiskinan. Menilai positif terhadap stuktur sosial yang ada. Dan menggap kemiskinan sebagai penyimpangan ketentuan yang ada dalam konsensus. Kaum konservatif tidak menggap kemiskinan bukan sebagai masalah serius dan kemiskinan akan bisa diselesaikan dengan sendirinya, maka tidak perlu adanya campur tangan pemerintah.

b.      Ideologi Liberal

Liberasi memandang manusia pertama-tama sebagai  yang digerakan oleh motivasi kepentingan ekonomi pribadi, dan libaeralisme  mempertahankan hak manusia untuk semaksimal mungkin cita-cita pribadinay. Liberasi percaya akan efektifitas pasar bebas dan hak atas milik pribadi. Hak-hak, kebebasan individu sangat ditekankan dan diperjuangkan demi untuk melindungi individu-individu terhadap kesewenangan negara.

Kemiskinan Menurut Ideologi Liberal

Berbeda dengan kaum konservatif, kaum liberal memandang kemiskinan sebagai masalah yang serius, karenanya harus dipecahkan. Kemiskinan dapat diselesaikan bila tersedianya kesempatan yang seluas-luasnya tanpa diskriminasi. Kaum liberal percaya bahwa orang miskin dapat mengatasi kemiskinannya  asal mereka mendapat kesempatan berusaha yang memadahi, maka diusulkan  untuk  diperbaikinya pelayanan-pelayanan bagi kaum miskin, membuka kesempatan kerja baru, membangun perumahan dan penyebarluasan pendidikan.

Kesimpulan

Baik konservatif maupun liberal mempertahankan struktur sosial yang telah ada, dan stuktur sosial ini ditandai dengan perbedaan tingkat sosial, sistem ekonomi kapitalis dan demokratis politik. Perbedaan dalam memandang kemiskinan, kalau kaum konservatif kemiskinan adalah kesalahan orang miskin itu sendiri dan kaum konservatif cenderung membiarkan sedang kaum liberal mengusahakan agar orang miskin mendapatkan kesempatan yang sama dan mampu menyesuaikan dalan struktur.

MODEL KONFLIK

Berbeda dengan model konsensus, model konflik ini memandang stuktur sosial yang ada sebagai hasil pemaksaan sekelompok kecil anggota masyarakat terhadap mayoritas warga masyarakat. Jadi struktur sosial bukan merupakan hasil konsensus seluruh warga apalagi persetujuan bersama mengenai nilai-nilai dan norma-norma. Stuktur sosial adalah dominasi sekelompok kecil dan kepatuhan serta ketundukan sebagaian besar warga masyarakat atas dominasi kelompok kecil tersebut. hukum dan undang-undang dalam masyarakat adalah ciptaan kelompok kecil, elit, dan kelompok yang memerintah untuk mempertahankan kepentingan mereka. Hukum dan undang-undang terutama ditujukan untuk melindungi milik-milik pribadi dan kepentingan.

Model ini memandang positif perubahan-perubahan yang memandang konflik sebagai sumber-sumber potensial bagi perubahan sosial yang progresif. Penganut model ini selalu mempertanyakan struktur sosial yang sudah ada. Mereka tidak mempersoalkan bagaimana orang miskin bisa hidup dan berprestasi dalam stuktur sosial yang sudah ada sebagaimana ditekankan kaum liberal, tetapi mereka mempersoalkan struktur sosial itu sendiri dan menganggapnya sebagai penyebab kemiskinan. Maka persoalan kultur dan mentalitas orang miskin tidak menarik perhatian penganut model konflik ini, sebab persoalan kultur orang miskin dianggapnya tidak mempersoalkan secara mendasar struktur dan kekuasaan politik yang sudah ada. Bahkan mereka menilai kultur dan mentalitas orang miskin yang digambarkan oleh kaum konservatuf itu disebabkan oleh struktur sosial itu sendiri yang tetap bertahan berpuluh atau ratusan tahun.

Kaum penganut model menganggap struktur sebagai penyebab kemiskinan, untuk membuat analisis keadaan sosial pertanyaan yang mereka adalah:

–          Kelompok mana yang mendapat untung dari sistem masyarakat yang ada dan kelompok mana yang dirugikan ?

–          Siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam kompetisi dalam grup dan diantara grup yang ada ?

–          Faktor-faktor mana yang menentukan siapa pemenang dan siapa yang kalah ?

Penganut model ini, melihat masyarakat yang ada sebagai masyarakat massal, yang terdiri dari kelompok elit yang berada di atas massa rakyat banyak yang ada di lapisan bawah yang sama sekali tidak tidak terorganisir sehingga tidak memiliki kekuasaan yang efektif. Rakyat sebagai konsumen media dengan komunikasi dari satu arah  tanpa mampu menanggapi  dan rekasi berarti. Merka tidak menguasai mass media sehingga protes-protes yang mereka sampaikan tidak pernah mampu menyuarakan pendapat mereka. Dalam kepentingan ekonomi orang miskin didesain untuk dilanggengkan kemiskinannya oleh penguasa dan elit, sebab dengan kemiskinan masih ada kerja-kerja kotor yang bisa dikerjakan oleh orang miskin dengan biaya murah—tenaga.

Orang miskin juga dijadikan komoditi politik –kestabilan politik–oleh elit, karena orang miskin kebanyakan tidak tertarik pada bidang politik dan peluang ini digunakan sebagai pendukung suara dalam pemilu.

Orang-orang miskin dibutuhkan sebagai identifikasi pelanggaran-pelanggaran norma dan nilai, kriminal-kriminal yang ditangkap kebanyakan memang dari orang miskin namun sementara kriminal kerah putih (white collar crime) jauh dari penyelidikan apalagi pengadilan.

Jalan Keluar

Hal yng mengarah pada perubahan sosial sebagaimana digariskan menganut model konflik tadi, disini kita temukan garis moderat sampai pada garis yang benar-benar radikal. Garis moderat menghendaki demokrasi partisipatif baik dalam group-group sosial yang ada maupun dalam organisasi-organisasi sebagai tujuan yang harus dicapai oleh setiap masyarakat. Mereka tidak menganggap pentingnya kepemimpinan, sebaliknya mereka yakin bahwa semua orang ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan-keputusan yang mempengharuhi hidup mereka. Mereka menentang segala bentuk birokrasi, pengaturan dari luar. Mereka menginginkan kontrol mahasiswa atas sekolahnya, rakyat atas polisi, buruh atas pabrik mereka. Sedang penganut garis radikal menganjurkan aksi-aksi menentang sistem sosial yang ada umpamanya ketidaktaatan rakyat akan segala aturan yang ada (civil diobedience), sebab mereka ini yakin bahwa tidak mungkin mengadakan perubahan-perubahan lewat saluran-saluran resmi/legal yang ada atau lewat pemilihan-pemilihan umum, saluran-saluran semacam ini mereka anggap tidak efektif.

EPILOG

Studi ini sebenarnya masih begitu terbatas, analisa sosial akan lebih dipahami ketika kita semua mau untuk mengamati segala sesuatu disekitar kita, kehidupan sosial hidup kita sehari-hari. Kemudian adakan sebuah analisis tentang ketidakadilan sosial yang ada didalamnya dan kita akan bisa menyusun action plan untuk menindaklanjuti sebagai aksi nyata untuk menyelamatkan eksploitasi, pembodohan dan penindasan rakyat kecil atau mungkin diri kita sendiri di lingkungan kita sendiri, mungkin juga di kampus dan organisasi ini ???

“MERDEKAKAN DIRI ANDA DARI KETIDAKTAHUAN, KETIDAKMAMPUAN, DAN KETIDAKPEDULIAN TERHADAP KONDISI SOSIAL YANG TIMPANG DI DEPANMATA ANDA, KARNA ANDA TAK LEBIH DARI SEORANG PENINDAS KETIKA ANDA DIAM YANG SAMA ARTINYA IKUT MENIKMATI KETIDAKBERDAYAAN  MEREKA YANG PAPA”