PROBLEMATIKA MAHASISWA BARU

Menuntut ilmu merupakan kewajiban seorang manusia demi proses pekembangan hidup yang baik. Banyak sekali media untuk menyalurkan hasat manusia menuntut ilmu, salah satunya terdapat dalam sebuah lembaga perguruan tinggi. Memang tidak semudah menuntut ilmu pada taraf lembaga sekolah, lembaga perguruan tinggi sangat menunjang acuan yang ditargetkan kepada mahasiswa yang belajar di dalamnya. Begitu mendengar kata “mahasiswa”, pasti terlintas di pikiran kita mengenai kampus, tugas, presentasi dan lain sebagainya. Mahasiswa bukan lagi seorang pelajar yang hanya diberi ilmu, melainkan mereka juga harus bisa aktif dan mengembangkan dirinya. Mereka bukan lagi anak-anak yang terkadang mengeluh kepada guru atau orang tuanya mengenai masalahnya. Mahasiswa benar-benar dituntut untuk bisa bersikap dewasa.

 

Menjadi seorang mahasiswa memang merupakan tantangan tersendiri meskipun setiap orang memiliki porsi yang berbeda. Berbagai masalah acap kali timbul dalam proses adaptasi seorang mahasiswa baru dengan lingkungan perkuliahan maupun tempat tinggal barunya. Mulai dari penyesuaian dengan sistem perkuliahan, teman-teman baru, lingkungan dan budaya baru. Terlebih bagi mahasiswa yang berasal dari luar kota dan jauh dari keluarga. Ada yang biasa saja saat menghadapi dunia barunya. Ada yang merasa sedikit kaget karena ini adalah masanya memasuki dunia mahasiswa dan meninggalkan masa sekolahnya. Selamat memasuki dunia baru, katanya. Namun, ada pula yang sedikit atau bahkan sangat kaget dengan dunia barunya ini.

 

Perbedaan sikap ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Pertama, setiap individu memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda dalam menyikapi suatu hal dan dalam beradaptasi dengan lingkungan. Ada tipikal orang yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan sistem  baru, sehingga ia tidak mengalami stress dan menikmati semuanya. Orang dengan tipikal ini tidak akan mendapat masalah yang “berarti” di awal—awal perkuliahan. Ia dengan mudah menyesuaikan diri dengan sistem perkuliahan yang berbeda dengan di sekolahnya dulu. Tipe yang lain adalah tipikal orang yang susah dan membutuhkan beberapa waktu untuk berapabtasi dengan lingkungan baru. Orang dengan tipikal ini mungkin akan mendapat sedikit masalah mengenai sistem yang baru dikenalnya. Ini bukan merupakan suatu masalah yang besar jika ia dapat mengatasi stress kecilnya. Seiring berjalannya waktu ia akan terbiasa dengan sendirinya.  Dalam psikologi, pembagian karakter tipikal orang ada dua, yakni introvert dan eksrovert. Introvert lebih pada karakter menemukan kenyamanan di alam kesendirian (non-sosialis), sedangkan ekstrovert kebalikannya.

 

Faktor yang kedua, yaitu perbedaan latar belakang masing-masing individu. Latar belakang ini bisa meliputi latar belakang pendidikan, sosial, budaya dan ekonomi. Dunia perkuliahan memang memiliki sistem yang berbeda dengan dunia sekolah dulu. Untuk mahasiswa yang berasal dari sekolah yang sudah maju akan mudah menyesuaikan diri dengan sistem perkuliahan. Bahkan sekarang terdapat beberapa sekolah yang sudah menerapkan sistem Indeks Prestasi untuk mengukur kemampuan siswanya seperti dalam sistem perkuliahan. Namun, untuk mahasiswa yang berasal dari sekolah yang belum maju seperti di sekolah-sekolah pedesaan akan sedikit kaget dengan sistem yang baru dikenalnya. Ini membutuhkan usaha agar bisa mengejar ketertinggalannya. Terutama dalam masalah informasi dan teknologi.

 

Keadaan sosial dan budaya asal mahasiswa juga sangat berpengaruh. Universitas-universitas favorit rata-rata berada di lingkungan perkotaan. Bagi mahasiswa yang memang berasal dari daerah perkotaan dapat dengan mudah menyesuaikan diri. Namun akan menjadi masalah baru bagi mahasiswa yang dulunya ia tinggal di pedesaan karena harus menghadapi lingkungan perkotaan yang jauh berbeda dengan di desa. Dalam hal ini, dukungan keluarga dan teman akan sangat dibutuhkan. Terutama untuk membentengi diri agar tidak salah melangkah di lingkungannya yang berbeda tersebut. Sedangkan faktor ekonomi seorang mahasiswa juga sedikit banyak berpengaruh terhadap gaya hidup yang akan dijalani seorang mahasiswa baru. Mahasiswa yang memilki kemampuan ekonomi memadai tidak akan terlalu terbebani dengan tuntutan biaya kuliah maupun biaya hidup. Lain halnya dengan mahasiswa yang ekonominya masih pas-pasan atau bahkan di bawah rata-rata. Memasuki dunia kampus membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tidak seperti di sekolah dahulu. Tentu ini akan menjadi beban tersendiri bagi mahasiswa tersebut. Selain dituntut untuk bisa mengikuti perkuliahan dengan baik, mereka juga dituntut untuk bisa hidup dengan biaya pas-pasan. Bahkan terkadang mereka juga harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa menutupi kekurangan biaya hidup tersebut, terlebih bagi mahasiswa yang kuliah di luar kota yang jauh dari keluarga.

 

Faktor ketiga adalah perbedaan motivasi kuliah. Mahasiswa yang memang berkuliah karena berasal dari keinginan sendiri akan benar-benar serius dan tidak main-main dalam menjalani kehidupan perkuliahan. Apapun masalahnya ia akan berusaha menghadapi demi tercapainya mimpi. Namun, tak sedikit juga mahasiswa yang mengambil keputusan kuliah atau mengambil suatu jurusan tertentu bukan karena keinginan pribadinya, semisal karena tuntutan orang tua atau diterima di jurusan yang bukan pilihan utamanya. Ini akan menjadi masalah besar jika ia belum bisa berdamai dengan hatinya. Ia akan menjalani masa-masa kuliah dengan berat hati, merasa tertekan dan malas.

 

Dengan demikian, masalah-masalah yang dihadapi mahasiswa baru berkaitan dengan lingkungan perkuliahan berbeda pada masing-masing individu, sehingga cara penyelesaiannya juga berbeda. Bagaimana pun karakter dan latar belakang seorang mahasiswa baru, yang terpenting adalah meluruskan niat dalam menuntut ilmu, memantapkan tujuan dan tidak pernah berhenti belajar. Jika tiga hal tersebut sudah dimiliki, maka problematika apapun dapat diatasi dengan baik.

 

Penulis : Yuni Hadziqoh, LSO Jurnalistik PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah

 

 

Advertisements

STUDI GENDER (Implementasi Studi Gender Dalam Kehidupan Sekitar)

Sejak awal sejarah manusia, problematika perempuan selalu menjadi suatu hal yang menimbulkan perdebatan berkaitan dengan tugas dan peran perempuan dalam aspek kehidupan sosial. Sedang dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin, Laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama. Qur’an juga menegaskan bahwa Allah memuliakan seluruh anak cucu Adam tanpa pembedaan jenis kelamin.

Dalam Webter New World Dictionary, gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku”. Di dalam Women Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat

 

Kemudian konsep penting yang harus dipahami untuk menelaah lebih dalam lagi tentang permasalahan perempuan adalah, membedakan antara konsep seks (jenis kelamin) dan juga konsep gender (konstruksi sosial). Kesalahan dalam membedakan kedua konsep inilah yang kemudian seringkali menimbulkan perdebatan luas di masyarakat tentang konsep gender itu sendiri.

 

Saat ini banyak orang yang berpendapat bahwa laki-laki itu kuat dan rasional sementara perempuan lemah dan emosional, namun bukan berarti perempuan tidak bisa apa-apa seperti laki-laki. di dalam kehidupan saat ini mayoritas perempuan selain merawat anaknya mereka juga bekerja dan melanjutkan kariernya, tidak hanya laki-laki saja yang bekerja. Artinya bahwa sifat yang melekat dan yang telah dikonstruksikan secara sosial dan turun-temurun yang ada pada perempuan dan laki-laki itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan.

Begitu juga di dalam dunia politik, bukan hanya laki-laki saja yang bisa menjadi pemimpin, tapi perempuan juga bisa. seperti ibu khofifah indar parawansa yang menjabat sebagai menteri sosial, Puan Maharani sebagai menteri lingkungan Hidup dan Kehutanan, sri mulyani yang menjabat sebagai menteri keuangan dan masih bannyak lagi.

Adapun contoh nyata dalam lingkup PMII saat ini, ketua rayon Penakluk Al Adawiyah pertama kali dipimpin oleh perempuan yaitu Sahabati Robia’tulAdawiyah (2000-2001), kemudian angkatan kedua sampai ketiga dipimpin oleh laki-laki, namun pada angkatan keempat diketuai oleh perempuan, begitu pun dengan tahun tahun selanjutnya, dan ini merupakan bukti bahwa peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara perempuan dan laki-laki.

Ditegaskan secara khusus dalam 3 (tiga) ayat, yakni: Q.S. Ali Imran /3:195; Q.S.an-Nisa/4:124; Q.S.an-Nahl/16:97. Ketiganya mengisyaratkan konsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun karier profesional, tidak mesti didominasi oleh satu jenis kelamin saja.

Bahkan Al-Quran mengabadikan kisah-kisah tentang perempuan tangguh yang berhasil menjadi pemimpin, seperti ratu bilqis yang memimpin rakyatnya secara adil dan bijaksana, dan juga istri nabi siti aisyah yang menjadi pemimpin dalam perang jamal.

Islam mengakui adanya perbedaan (distintion) antara laki-laki dan perempuan, bukan pembedaan (discrimination). Perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan disebabkan oleh kondisi fisik biologis yang memang ditakdirkan berbeda dengan laki-laki. Namun adanya perbedaan itu bukan dimaksudkan untuk memuliakan salah satunya dan merendahkan yang lainnya.

So, mengapa kita tidak berani mencoba untuk menjadi salah satu dari sekian perempuan tangguh yang negri ini pernah lahirkan. Jika kartini dulu menerbitkan terang sehabis gelap, kartini sekarang akan lahirkan apa ??

Penulis : Rike Dias Safitri, Anggota PMII Rayon                                                                          “Penakluk” Al-Adawiyah angkatan 2017

 

NILAI-NILAI ASWAJA

Dalam kegiatan mapaba, salah satu materi yang diberikan adalah mengenai nilai-nilai aswaja. Nilai-nilai aswaja terdiri dari 4 macam, yaitu;

  1. Tawasuth (Moderat)

Tawasuth adalah sebuah sikap tengah yang tidak cenderung ke kanan atau ke kiri. Sikap tengah yang berintikan  kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah–tengah kehidupan bersama dan tidak ekstrim.
kebalikan dari tawasuth yaitu tatharruf, ekstrim, berlebih-lebihan. Misalnya, pada zaman sekarang kita banyak melihat tren baju syar’i dan menggunakan niqab. Orang awam banyak yang ikut-ikutan berpakaian dengan cara tersebut. Padahal pakaian yang mereka pakai itu panjangnya sampai jatuh ke lantai sehingga menjadikan pakaian tersebut najis. Itu yang dimaksud tatharruf atau berlebihan. Sikap tersebut dilarang dalam agama Islam. Karakter at-tawasuth ini harus mampu diwujudkan dalam berbagai bidang, agar nantinya sikap dan tingkah laku umat Islam dapat dijadikan sebagai teladan dan ukuran manusia pada umumnya. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat ekstrim.

 

  1. Tawazun (Berimbang)

Tawazun adalah sikap berimbang dalam menghadapi persoalan atau pertimbangan-pertimbangan untuk mencetuskan sebuah keputusan. Dalam konteks pemikiran, tawazun menghindari sikap tatharruf. Tawazun sangat erat hubungannya dengan peraturan (manage) waktu agar dapat mencapai tujuan yang ingin dicapainya. Misalnya, kita belajar di UIN Malang bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi sekaligus mahasantri Ma’had Sunan Ampel al-Aly yang memiliki kewajiban-kewajiban selain belajar di kuliah reguler. Kita juga belajar ta’lim di ma’had. Kegiatan di ma’had lebih banyak dibanding kegiatan kampus. Terlebih bagi mahasiswa tahfidz yang harus bertanggung jawab dengan ayat-ayat yang telah dihafalnya. Mereka harus pandai me-manage waktu semaksimal mungkin untuk mencapai target yang ingin dicapainya. Bukan hanya mendapatkan nilai yang baik di kampus, tapi mereka juga mendapatkan nilai yang memuaskan di ta’lim ma’hadnya dan bisa murajaah hafalannya dengan lancar.

 

  1. Ta’adul (Netral dan Adil)

Ta’adul ialah sikap adil dalam menyikapi suatu persoalan. Adil adalah sikap proporsional dalam menyikapi persoalan berdasarkan hak dan kewajiban. Ta’adul merupakan sikap yang bernilai tinggi, baik, dan mulia. Apabila Ta’adul diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, serta bangsa dan negara, sudah tentu ketinggian, kebaikan, dan kemuliaan akan diraih. Jika seseorang mampu mewujudkan keadilan dalam dirinya sendiri, tentu akan meraih keberhasilan dalam hidupnya, memperoleh kegembiraan batin, disenangi banyak orang, dapat meningkatkan kualitas diri, dan memperoleh kesejahteraan hidup duniawi serta ukhrawi (akhirat). Cara membiasakan diri bersikap ta’adul yaitu dengan cara menyadari pentingnya keadilan dalam kehidupan. Saya pernah mengalami kebimbangan antara diajak teman yang sejak SD sampai sekarang untuk pergi makan berdua karena kami sudah lama tidak bertemu. Di sisi lain, saya diajak teman yang baru saya kenal satu semester ini untuk menemani dia sowan ke Pak Kyai sore itu juga. Akhirnya saya memilih menemani teman saya sowan ke Pak Kyai terlebih dahulu karena lebih mendesak. Baru kemudian saya menemani makan teman SD saya.

 

  1. Tasamuh (Toleransi)

Tasamuh ialah sikap toleran terhadap perbedaan, baik agama, pemikiran, keyakinan, sosial kemasyarakatan, budaya, dan berbagai perbedaan lain. Istilah Toleransi dalam konteks sosial budaya dan agama berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu masyarakat. Islam sebuah agama yang mengajarkan kepada umat manusia untuk selalu menghormati serta toleransi terhadap sesama dan menjaga kesucian serta kebenaran ajaran Islam. Dengan ini, fakta telah membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan hidup toleransi terhadap semua agama. Dalam keadaan apapun dan kapan saja, Islam sebagai agama Rahmatal Lil’alamin senantiasa menghargai dan menghormati perbedaan, baik perbedaan suku, bangsa, dan keyakinan. Hal sangat ini jelas, bahwa Islam selalu memberikan kebebasan berbicara dan toleransi terhadap semua pemeluk agama dan berkeyakinan serta rasa hormat bagi umat manusia, tampa membeda-bedakan satu sama lain. Contoh dari toleransi yang pernah saya alami adalah saya pernah berkunjung ke rumah relasi kerja ayah saya yang beragama Katolik ketika Hari Natal. Kedatangan saya sekeluarga disambut penuh kebahagian seperti kami sedang merayakan natal bersama.

 

Penulis : Fairuza Maulidia, Anggota PMII Rayon                                                                            “Penakluk”  Al-Adawiyah angkatan 2017

 

ZONA NYAMAN APA YANG MEMBUAT KITA TERKUNGKUNG SEHINGGA TIDAK BISA MERUBAH KEADAAN SEBAGAI ANGGOTA PMII

Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia merupakan salah satu organisasi ekstra kampus  yang berada di seluruh penjuru Indonesia. PMII berdiri pada tanggal 17 April tahun 1960 di Surabaya. Kali ini saya akan membahas mengenai Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang berada di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah yang berada di lingkungan fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, adalah  wadah bagi mahasiswa/i yang ingin berproses dan melakukan pergerakan. Adapun pada masa periode 2017-2018 PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah mempunyai banyak visi dan misi, selain untuk mengaktualisasikan nilai – nilai PMII dalam kehidupan sehari-hari, juga menggali dan mengembangkan potensi serta bakat dan minat yang ada dalam diri kader PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah. Untuk itulah, PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah pada Masa Bakti 2017-2018 telah menyelenggarakan MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) ke XVIII.

Dalam kegiatan MAPABA kali ini, PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah mengamati serta menganalisa situasi dan kondisi calon anggota baru. Mereka menemukan beberapa kesimpulan, antara lain:

Pola pikir mahasiswa baru masih dikendalikan oleh sistem yang ada.

Pemikiran kritis yang dimiliki mahasiswa hanya mampu diucapkan saja. Mereka hanya bisa mengomentari  atau mengkritik suatu masalah. Tanpa ada usaha atau tindak nyata untuk mengaktualisasikan apa yang mereka ucapkan. Sehingga masalah tersebut pun hanya akan menjadi masalah tanpa jalan keluar.

Zaman sekarang adalah zaman kejayaan gadget. Gadget bagaikan hal pokok yang wajb dimiliki semua orang, khususnya mahasiswa. Gadget memiliki banyak dampak, baik positif maupun negatif. Namun, dampak yang sangat terlihat dari maraknya gadget adalah jarangnya komunikasi secara langsung atau secara tatap muka. Karena hal itu, mahasiswa zaman sekarang kurang menguasai kemampuan berkomunikasi di lingkungan sekitarnya.

Dari fenomena dan realitas sosial yang ada tersebut, PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah mengangkat tema “Bergeraklah dari Zona Nyaman, Demi Lahirkan Perubahan” dalam acara MAPABA ke XVIII. Zona nyaman disini memiliki arti situasi dan kondisi yang sengaja dibentuk dan mengakibatkan  ternghambatnya individu untuk berkembang.

Zona nyaman itu bukan berarti suatu tempat yang enak, empuk, ataupun hidup tanpa masalah. Zona nyaman sejatinya memiliki arti situasi dan kondisi dimana kita tidak bisa bertindak untuk bisa memperbaiki kondisi saat ini dan mencoba untuk berkembang.

Zona nyaman membuat anggota PMII terkungkung sehingga tidak bisa merubah keadaan, misalnya jika seseorang sudah nyaman dengan keadaannya saat ini, mereka cenderung tidak punya inisiatif untuk mencoba hal baru karena sudah merasa nyaman dengan apa yang mereka kerjakan saat ini. Padahal nyata sebagai mahasiswa yang nobenenya adalah agent of change dan agent of control dituntut untuk bergerak dari zona nyaman, agar kita mampu menciptakan perubahan ke arah yang positif.

Penulis : Qonitatu Maghfiroh, Anggota Baru PMII Rayon “Penakluk” Al-AdawiyahIMG-20171030-WA0099.jpg