Hilangkan Egoisme dalam Organisasi!!!

Organisasi, komunitas maupun perkumpulan lainnya didirikan dengan suatu tujuan tertentu yang menjadi keinginan kolektif dari para anggotanya. Mereka sama-sama memiliki satu tujuan hingga akhirnya mau membentuk atau mengikuti suatu organisasi tertentu. Kasarnya kurang lebih seperti itu. Namun, tak bisa disangkal pula jika masing-masing anggota suatu organisasi memiliki tujuan pribadi yang berbeda dari dari tujuan bersama. Bahkan terkadang ia sendiri tak menyadari akan tujuan tersembunyinya. Artinya, perilaku yang ia tampilkan kadang mencerminkan keinginan batinnya walau ia berdalih melakukan sesuatu karena ini dan karena itu demi kepentingan bersama. Egosime salah satunya. Tidak perlu disalahkan, karena pada dasarnya manusia memang memiliki keinginan, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda meski mengikuti organisasi yang sama.

Akan tetapi, hal tersebut semestinya tak dijadikan alasan untuk seseorang tidak memahami tujuan bersama organisasi. Setiap anggota mestinya paham akan apa tujuan organisasinya dan rela kehilangan waktu, tenaga, pikiran bahkan uang untuk mencapai tujuan itu, idealnya. Namun, banyak dari mereka yang bahkan belum menyadari apa tujuan organisasi yang dimasukinya, sehingga jika ada suatu permasalahan lalu ia memandang bahwa permasalahan ini bukan bagian dari tujuannya, dengan mudah ia akan lari. Mengatakan bahwa, “Ini bukan masalah saya” atau bahkan “Ini masalah saya maka tak perlu saya bicarakan dengan anggota lain” mencerminkan ketidaksadarannya akan peran dan tanggung jawabnya maupun kehadiran dan peran orang lain dalam suatu organisasi. Itulah EGOISME.

Kita tahu bahwa adanya organisasi bukan hanya adanya satu orang, melainkan banyak orang. Perlu adanya kesadaran bahwa setiap orang membutuhkan bantuan orang lain. Maka, tak semestinya ia bersikap seolah tak peduli jika itu bukan masalahnya atau bahkan seolah ia adalah dewa yang mampu mengatasi persoalannya sendiri. Saya rasa, semua orang paham dan mengerti mana yang merupakan masalah pribadi dan mana yang merupakan masalah umum atau bersama. Jangan menjadikan masalah pribadi di atas segalanya lalu menjadikannya masalah umum sehingga merugikan orang lain. Begitu pula sebaliknya, jangan menjadikan masalah yang sebenarnya merupakan masalah umum dan perlu diatasi bersama menjadi masalah pribadi, sehingga jika tak terselesaikan semua orang pun dapat membantu.

Tak bisa disangkal bahwa setiap orang memiliki tujuan masing-masing dan lagi-lagi, punya keterbatasan pula. Silahkan mewujudkan impian dan tujuan masing-masing bahkan jika harus berpolitik. Tak kan ada yang melarangnya, toh itu merupakan hak individu. Tapi, bisakah ia juga menggunakan kesadarannya bahwa ia pun adalah anggota dari suatu organisasi yang juga memiliki kepentingan dan tujuan bersama? Jangan hanya mengambil keuntungan dari sesuatu meski itu tak dilarang. Namun, tak ada salahnya jika kita juga memberi. Kebermanfaatan diukur dari seberapa banyak ia memberi, bukan menerima. Ini pun jika kita mampu. Jika tidak, berarti itu merupakan keterbatasan kita. Namun, saya rasa setiap orang itu istimewa dan pasti memiliki sesuatu yang mampu ia berikan untuk orang lain, sekecil apa pun itu.

Jangan salah, egosime bukan hanya soal mementingakan dirinya sendiri. Merampas hak orang lain lalu merugikannya juga merupakan sebuah bentuk egoisme. Merasa bahwa dirinya mampu mengatasi segalanya sendiri, tak mau bekerja sama dengan orang lain dalam artian tak mengindahkan kehadiran dan peran orang lain juga merupakan penyakit dalam organisasi. Sehebat apapun seseorang, tak menghilangkan kewajibannya dalam menghargai orang lain. Bagus jika akhirnya suatu permasalahan bersama dapat ia selesaikan dengan baik. Jika tidak? Tiba-tiba gagal di tengah jalan lalu merugikan banyak orang? Apa lantas ia akan menyalahkan orang lain dengan dalih tak ada yang membantunya?

Saling salah-menyalahkan juga adalah salah satu dampak dari egosime. Termasuk menyalahkan orang lain karena tak mau membantu tanpa mempertanyakan apa keterbatasannya, apa masalahnya, apa kendalanya. Menyalahkan kinerja seseorang karena tak paham apa masalah yang ditemuinya juga salah satunya. Sehingga, pemahaman akan keadaan orang lain dirasa juga sangat perlu dan hal itu tak akan terwujud jika masih saja ada rasa egoisme yang tinggi dalam hati. Sebagaimana sebuah ungkapan yang menyindir, Kau takkan pernah memahami orang lain jika ego masih saja bersarang di hatimu.

 

By: Yuni Hadziqoh, LSO Jurnalistik PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah

Advertisements

Kartini Dulu Terbitkan Terang, Kartini Kekinian Terbitkan Apa?

Selamat hari kartini kaumku, selamat diagung-agungkan oleh para lelaki dan selamat dikritisi oleh para aktivis muda. Semoga kaum kita senantiasa menjadi kaum istimewah penuh rasa.
RA-KARTINITidak lagi akan membahas tentang permasalahan yang bersifat menyuarakan kaum perempuan untuk disetarakan atau pun meminta keadilan atas kekerasan yang terjadi pada kaum kita hingga saat ini. Marilah kita bahas hal-hal yang remeh namun sangat berpengaruh dan patut disadari (seharusnya).
Beberapa hari yang lalu, entah dari mana ide ini muncul. Keinginan untuk melihat perkembangan hidup perempuan di era kekinian melalui google. Yah, sebenarnya juga didasarkan pada beberapa alasan juga sih, tapi ya sudahlah itu dikonsumsi pribadi saja, hehe. Lanjut, setelah terketik kata “wanita 2016” pada kolom pencarian, saya mendapatkan suatu pemandangan yang memang sedikitnya sudah terprediksi. Dengan hasil pencarian teratas ‘model rambut terbaru 2016’, selanjutnya tidak jauh-jauh dari pembahasan serupa. Tidak puas dengan itu, kembali diketik kata “perempuan 2016”, ya hasilnya tidak jauh bedalah. Yang membedakan adalah pencarian teratas adalah nama-nama bayi lucu 2016. Apa yang ada dipikiran saya setelah itu? Biasa saja, karena saya memang menyadari itulah yang terjadi di negara kita (yang katanya) tercinta. Dari sini juga, terciptalah pemikiran untuk membandingkan kehidupan wanita/perempuan indonesia dengan luar negeri. Alhasil setelah saya untuk ketiga kalinya mengetik di kolom google dengan kata ‘women’s 2016” adalah sangat berbeda dengan pencarian sebelumnya. Pada pencarian ini saya mendapatkan beberapa artikel yang berbicara tentang konferensi perempuan yang dilakukan beberapa komunitas, dimana PBB juga ikut berpartisipasi dan mengapresiasi apa yang dilakukan kelompok tersebut. Ah, betapa indahnya jika itu ada pada pencarian pertama dan kedua. Bukan lagi indah, namun juga sangat membahagiakan dan memotivasi untuk lebih berperan aktif menjadi wanita yang tidak hanya punya rasa, akan tetapi pemikiran yang dapat berpengaruh positif kedepannya. Continue reading

TERSADAR ITU SALAHKU, SAHABAT !

IMG_1799(Berjalan dalam kesendirian)
Kala mencari sebuah kebenaran dalam diri, ku tak temukan secercah cahaya harapan yang membimbingku berjalan beriringan bersama sahabat sejatiku. Entahlah…mungkin karena aku yang berbeda atau mereka yang menganggapku beda. Bukannya aku ingin berbeda dalam sebuah kebersamaan ini, sahabat ku ! Aku tetaplah aku yang selalu bersamamu…
Aku tak ingin kau anggap aku berbeda, wahai sahabat !
Mencari dan terus mencari, yang akhirnya menuju pada kata “TERBENTUK” pada diri yang sejatinya ku ingin “MEMBENTUK” diri. Tetap ku berjalan…berjalan…dan berjalan sahabat ! Baiklah, walaupun engkau tak melihat bahwa aku berjalan untuk “MEMBENTUK” diri namun setidaknya engkau melihat cara diriku “MEMBENTUK” diri. Aku tetaplah aku yang “MEMBENTUK” bersamamu…
Aku ingin cara “MEMBENTUK” ku engkau lihat, wahai sahabat !

Continue reading

PEMIMPIN KAMI, DENGARKANLAH !

ilustasi-tokoh-politikSudah lama bangsa ini tenggelam dalam kelamnya kebodohan, kemunafikan dan kebengisan pemimpin-pemimpin bangsa ini. Pemimpin yang seharusnya memimpin, sekarang tak merasa bahwa mereka adalah pemimpin. Pemimpin yang merasa dirinya seorang pemimpin, malah keasyikan dengan jabatan pemimpin yang melekat pada diri mereka. Dan pemimpin yang tengah keasyikan dan tergila-gila pada jabatannya itu, selalu melihat siapa yang diatasnya bukan melihat siapa yang dibawahnya. Sungguh ironi pemimpin bangsa kita ini, sahabat.

Sudah lama bangsa ini terpuruk dalam gemerlapnya dunia modern. Di tengah majunya teknologi dan informasi yang makin menjadi-jadi, pemimpin bangsa ini bukan semakin pintar malah semakin bodoh dengan tingkahnya yang juga bodoh sebodoh-bodohnya manusia. Buktinya, jika mereka pintar seharusnya rupiah tak jatuh menjadi Rp 15.000,00/dolar. Mereka tak membenahi apa yang seharunya dibenahi dengan kemajuan teknologi, malah membuat masalah baru dengan teknologi-teknologi yang semakin baru. Sungguh mirisnya melihat pemimpin bangsa ini, sahabat. Continue reading