Implementasi Nilai-Nilai Aswaja dalam Kehidupan Sehari-hari

1. TAWASUT (Sikap tengah-tengah)
Maksud dari sikap tengah-tengah yaitu kita sebagai manusia kita tidak boleh bersifat ekstrim kanan dan ekstrim kiri, kita harus bersifat sedang-sedang saja atau tengah-tengah, tidak pilih-pilih, dan dalam konteks kehidupan sehari-hari kita harus bisa memilih pergaulan yang menurut diri kita itu baik dan bisa mendorong kita untuk menuju cita-cita atau mencapai apa yang ingin kita tuju.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari saya yaitu, ketika ada anak kamar saya yang sedang bertengkar disebabkan karna perbedaan pendapat maka saya sebagai temannya ikut campur untuk mennyelesaikan atau menengahi masalah tersebut, pada saat itu mereka tetap bercekcok ngomong ini ngomong itu tetapi saya tidak membela salah satu diantara mereka karena diantara mereka ada yang dekat dengan saya, tetapi saya tetap untuk tidak pilih kasih akan tetapi saya memilih keputusan tengah-tengah. Dan disalah satu dari mereka ada yang mengalah karena dia merasa bahwa dia sudah dewasa, akhirnya masalah tersebut selesai.

2. TAWAZUN ( SEIMBANG)
Maksudnya, seimbang dalam segala hal yaitu dalam sebuah musyawarah pastinya ada tujuan yang akan dituju dan ada bermusyawarah karena akan merencanakan sesuatu, didalam musyawarah tersebut ada suatu sikap yaitu berusaha mengintegrasikan antara pendapat satu dengan pendapat yang lain, maka dalam mengambil keputusan kita harus seimbang dalam hasil musyawarah tersebut.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari saya yaitu dikamar saya ada perbedaan sifat yang membut saya tidak nyaman berada di kamar, saya merasa sulit mengintegrasikan diri saya kepada mereka, tetapi seiring berjalannya waktu saya mulai bisa menyeimbangkan antara sifat yang satuu dengan yang lain, mereka ada yang hiper aktif, sukanya lelucon, keras, pendiam, ada juga yang setiap perkataannya menyakitkan hati, tetapi saya berusaha menyeimbangkan antara sifat saya dengan mereka, dan akhirnya saya bisa.

3. TASAMUH (Toleransi)
Maksudnya, toleransi yaitu menghargai orang lain,menghargai pendapat yang diutarakan tidak memikirkan diri sendiri, toleransi disini juga bisa dilihat dari keragaman budaya, agama, ras, dan bahasa, di indonesia keberagaman-keberagaman tersebut sangat dihargai oleh semua warga indonesia yang tidak bersifat memaksa.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari saya yaitu, ketika saya presentasi didepan kelas materi yang dipresentasikan oleh kelompok saya dihargai oleh teman-teman, tetapi ketika kelompok saya menyampaikan isi dari materi, teman-teman malah sibuk sendiri dengan hp nya, tetapi wujud dari sikap toleransi menghargai posisi mereka yang pada saat itu mereka sedang bosen dengan padatnya jadwal mahad maka salah satunya mainan hp didalam kelas reguler ,tetapi kelompok saya menghargai itu, kelompok saya lebih memilih untuk membirkan saja.

4. TA’ADUL (Adil)
Maksudnya, adill dalam melihat, menimbang, menyikapi, dan menyelesaikan segala permasalahan. Adil hanya dilakukan dikehidupan sehari-hari itu benar-benar sama dan setara secara sama persis dalam segala sifat-sifatnya, apabila terjadi keunggulan disalah satunya maka keadilan menuntut perbedaan dan keutamaan dan allah berifrman “Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat dengan Taqwa”.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari saya yaitu ketika saya mempunyai uang dan saya belikan jajan, setelah itu jajan yang saya beli saya kasihkan kepada teman-teman satu kamar, jajan yang saya beli tidak saya makan sendiri tetapi saya langsung bagikan kepada teman-teman secara adil dan merata, dan saya taruh di meja dan setelah itu teman-teman ambil sendiri-sendiri.

Penulis : Nabila, Anggota PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah Angkatan 2017

Advertisements

STUDI GENDER (Implementasi Studi Gender Dalam Kehidupan Sekitar)

Sejak awal sejarah manusia, problematika perempuan selalu menjadi suatu hal yang menimbulkan perdebatan berkaitan dengan tugas dan peran perempuan dalam aspek kehidupan sosial. Sedang dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin, Laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama. Qur’an juga menegaskan bahwa Allah memuliakan seluruh anak cucu Adam tanpa pembedaan jenis kelamin.

Dalam Webter New World Dictionary, gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku”. Di dalam Women Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat

 

Kemudian konsep penting yang harus dipahami untuk menelaah lebih dalam lagi tentang permasalahan perempuan adalah, membedakan antara konsep seks (jenis kelamin) dan juga konsep gender (konstruksi sosial). Kesalahan dalam membedakan kedua konsep inilah yang kemudian seringkali menimbulkan perdebatan luas di masyarakat tentang konsep gender itu sendiri.

 

Saat ini banyak orang yang berpendapat bahwa laki-laki itu kuat dan rasional sementara perempuan lemah dan emosional, namun bukan berarti perempuan tidak bisa apa-apa seperti laki-laki. di dalam kehidupan saat ini mayoritas perempuan selain merawat anaknya mereka juga bekerja dan melanjutkan kariernya, tidak hanya laki-laki saja yang bekerja. Artinya bahwa sifat yang melekat dan yang telah dikonstruksikan secara sosial dan turun-temurun yang ada pada perempuan dan laki-laki itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan.

Begitu juga di dalam dunia politik, bukan hanya laki-laki saja yang bisa menjadi pemimpin, tapi perempuan juga bisa. seperti ibu khofifah indar parawansa yang menjabat sebagai menteri sosial, Puan Maharani sebagai menteri lingkungan Hidup dan Kehutanan, sri mulyani yang menjabat sebagai menteri keuangan dan masih bannyak lagi.

Adapun contoh nyata dalam lingkup PMII saat ini, ketua rayon Penakluk Al Adawiyah pertama kali dipimpin oleh perempuan yaitu Sahabati Robia’tulAdawiyah (2000-2001), kemudian angkatan kedua sampai ketiga dipimpin oleh laki-laki, namun pada angkatan keempat diketuai oleh perempuan, begitu pun dengan tahun tahun selanjutnya, dan ini merupakan bukti bahwa peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara perempuan dan laki-laki.

Ditegaskan secara khusus dalam 3 (tiga) ayat, yakni: Q.S. Ali Imran /3:195; Q.S.an-Nisa/4:124; Q.S.an-Nahl/16:97. Ketiganya mengisyaratkan konsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun karier profesional, tidak mesti didominasi oleh satu jenis kelamin saja.

Bahkan Al-Quran mengabadikan kisah-kisah tentang perempuan tangguh yang berhasil menjadi pemimpin, seperti ratu bilqis yang memimpin rakyatnya secara adil dan bijaksana, dan juga istri nabi siti aisyah yang menjadi pemimpin dalam perang jamal.

Islam mengakui adanya perbedaan (distintion) antara laki-laki dan perempuan, bukan pembedaan (discrimination). Perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan disebabkan oleh kondisi fisik biologis yang memang ditakdirkan berbeda dengan laki-laki. Namun adanya perbedaan itu bukan dimaksudkan untuk memuliakan salah satunya dan merendahkan yang lainnya.

So, mengapa kita tidak berani mencoba untuk menjadi salah satu dari sekian perempuan tangguh yang negri ini pernah lahirkan. Jika kartini dulu menerbitkan terang sehabis gelap, kartini sekarang akan lahirkan apa ??

Penulis : Rike Dias Safitri, Anggota PMII Rayon                                                                          “Penakluk” Al-Adawiyah angkatan 2017

 

NILAI-NILAI ASWAJA

Dalam kegiatan mapaba, salah satu materi yang diberikan adalah mengenai nilai-nilai aswaja. Nilai-nilai aswaja terdiri dari 4 macam, yaitu;

  1. Tawasuth (Moderat)

Tawasuth adalah sebuah sikap tengah yang tidak cenderung ke kanan atau ke kiri. Sikap tengah yang berintikan  kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah–tengah kehidupan bersama dan tidak ekstrim.
kebalikan dari tawasuth yaitu tatharruf, ekstrim, berlebih-lebihan. Misalnya, pada zaman sekarang kita banyak melihat tren baju syar’i dan menggunakan niqab. Orang awam banyak yang ikut-ikutan berpakaian dengan cara tersebut. Padahal pakaian yang mereka pakai itu panjangnya sampai jatuh ke lantai sehingga menjadikan pakaian tersebut najis. Itu yang dimaksud tatharruf atau berlebihan. Sikap tersebut dilarang dalam agama Islam. Karakter at-tawasuth ini harus mampu diwujudkan dalam berbagai bidang, agar nantinya sikap dan tingkah laku umat Islam dapat dijadikan sebagai teladan dan ukuran manusia pada umumnya. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat ekstrim.

 

  1. Tawazun (Berimbang)

Tawazun adalah sikap berimbang dalam menghadapi persoalan atau pertimbangan-pertimbangan untuk mencetuskan sebuah keputusan. Dalam konteks pemikiran, tawazun menghindari sikap tatharruf. Tawazun sangat erat hubungannya dengan peraturan (manage) waktu agar dapat mencapai tujuan yang ingin dicapainya. Misalnya, kita belajar di UIN Malang bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi sekaligus mahasantri Ma’had Sunan Ampel al-Aly yang memiliki kewajiban-kewajiban selain belajar di kuliah reguler. Kita juga belajar ta’lim di ma’had. Kegiatan di ma’had lebih banyak dibanding kegiatan kampus. Terlebih bagi mahasiswa tahfidz yang harus bertanggung jawab dengan ayat-ayat yang telah dihafalnya. Mereka harus pandai me-manage waktu semaksimal mungkin untuk mencapai target yang ingin dicapainya. Bukan hanya mendapatkan nilai yang baik di kampus, tapi mereka juga mendapatkan nilai yang memuaskan di ta’lim ma’hadnya dan bisa murajaah hafalannya dengan lancar.

 

  1. Ta’adul (Netral dan Adil)

Ta’adul ialah sikap adil dalam menyikapi suatu persoalan. Adil adalah sikap proporsional dalam menyikapi persoalan berdasarkan hak dan kewajiban. Ta’adul merupakan sikap yang bernilai tinggi, baik, dan mulia. Apabila Ta’adul diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, serta bangsa dan negara, sudah tentu ketinggian, kebaikan, dan kemuliaan akan diraih. Jika seseorang mampu mewujudkan keadilan dalam dirinya sendiri, tentu akan meraih keberhasilan dalam hidupnya, memperoleh kegembiraan batin, disenangi banyak orang, dapat meningkatkan kualitas diri, dan memperoleh kesejahteraan hidup duniawi serta ukhrawi (akhirat). Cara membiasakan diri bersikap ta’adul yaitu dengan cara menyadari pentingnya keadilan dalam kehidupan. Saya pernah mengalami kebimbangan antara diajak teman yang sejak SD sampai sekarang untuk pergi makan berdua karena kami sudah lama tidak bertemu. Di sisi lain, saya diajak teman yang baru saya kenal satu semester ini untuk menemani dia sowan ke Pak Kyai sore itu juga. Akhirnya saya memilih menemani teman saya sowan ke Pak Kyai terlebih dahulu karena lebih mendesak. Baru kemudian saya menemani makan teman SD saya.

 

  1. Tasamuh (Toleransi)

Tasamuh ialah sikap toleran terhadap perbedaan, baik agama, pemikiran, keyakinan, sosial kemasyarakatan, budaya, dan berbagai perbedaan lain. Istilah Toleransi dalam konteks sosial budaya dan agama berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu masyarakat. Islam sebuah agama yang mengajarkan kepada umat manusia untuk selalu menghormati serta toleransi terhadap sesama dan menjaga kesucian serta kebenaran ajaran Islam. Dengan ini, fakta telah membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan hidup toleransi terhadap semua agama. Dalam keadaan apapun dan kapan saja, Islam sebagai agama Rahmatal Lil’alamin senantiasa menghargai dan menghormati perbedaan, baik perbedaan suku, bangsa, dan keyakinan. Hal sangat ini jelas, bahwa Islam selalu memberikan kebebasan berbicara dan toleransi terhadap semua pemeluk agama dan berkeyakinan serta rasa hormat bagi umat manusia, tampa membeda-bedakan satu sama lain. Contoh dari toleransi yang pernah saya alami adalah saya pernah berkunjung ke rumah relasi kerja ayah saya yang beragama Katolik ketika Hari Natal. Kedatangan saya sekeluarga disambut penuh kebahagian seperti kami sedang merayakan natal bersama.

 

Penulis : Fairuza Maulidia, Anggota PMII Rayon                                                                            “Penakluk”  Al-Adawiyah angkatan 2017

 

Upgrade Pendampingan MAPABA XIV

PENDAMPINGAN MAPABA XIV

By : naila.kamaliya

Anggota Biro Pengkaderan Rayon “Penakluk” Al Adawiyah

“Mahasiswa saat ini dapat dimengerti hanya apabila kita mampu menyelami cara berpikir mahasiswa, bukannya mahasiswa yang dipaksa untuk mengikuti cara berpikir PMII. Ini boleh jadi merupakan jalan primer untuk ditempuh sehingga PMII dapat diterima oleh mahasiswa. Dengan kalimat lain, bukan mahasiswa yang pertama – tama harus mengikuti jalan pikiran PMII melainkan PMII-lah yang pertama – tama mesti mengikuti jalan pikiran mahasiswa” ( dalam Pendidikan Kritis Transformatif, PB PMII; 2002) strategi ini dinamai

“ Masuk dari pintu mereka keluar dari pintu kita”

Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) PMII Rayon “Penakluk” Al Adawiyah merupakan sistem pengkaderan formal tahap awal yang dilaksanakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dimana didalamnya terdapat proses kaderisasi yang sangat vital salah satunya adalah pendampingan MAPABA. Pendampingan sendiri adalah proses handling yang didalamnya tercakup perencanaaan, controling, dan evaluasi untuk tercapainya suatu target. Namun demi tercapainya ekspektasi dari pendampingan itu sendiri diperlukan pengetahuan agar pendampingan yang dilakukan sesuai dengan upaya kita dalam mewujudkan misi, peran, dan fungsi baik dalam kehidupan organisasi, bermasyarakat, maupun bernegara.

Seperti yang kita ketahui mahasiswa yang mengikuti MAPABA merupakan calon anggota dan kader PMII. Kader sendiri merupakan orang yang mampu menjalankan amanat, memiliki kapasitas pengetahuan dan keahlian, pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan kelangsungan organisasi. Kader adalah ujung tombak sekaligus tulang punggung kontinyuitas sebuah organisasi. Sedangkan pengkaderan berarti proses bertahap dan terus-menerus sesuai tingkatan, capaian, situasi, dan kebutuhan tertentu, yang memungkinkan seorang kader dapat mengembangkan potensi akal, kemampuan fisik, moral, dan sosialnya. Sehingga kader dapat membantu orang lain dan dirinya sendiri untuk memperbaiki keadaan sekarang demi mewujudkan masa depan yang lebih baik sesuai dengan cita – cita yang diidealkan, nilai – nilai yang diyakini serta misi perjuangan yang diemban. Sistem pengkaderan PMII sendiri adalah totalitas pembelajaran yang dilakukan secara terarah, terencana, sistematik, terpadu, berjenjang, dan berkelanjutan untuk mengembangkan potensi, mengasah kepakaan, melatih sikap, memperkuat karakter, mempertinggi harkat dan martabat, memperluas wawasan, dan meningkatkan kecakapan insan – insan pergerakan agar menjadi manusia yang muttaqin, beradap, berani,santun, cendik – cendikia, berkarakter, terampil, loyal, peka, dan gigih menjalankan roda organisasi dalam upaya pencapaian cita – cita dan perjuangannya (Multi Level Strategi Gerakan PMII, PB PMII; 2006).

Meskipun setiap orang memiliki model pendampingan yang berbeda – beda namun harus tetap terarah pada upaya pengkaderan PMII yang bersumber pada nilai – nilai dan prinsip – prinsip yang digali serta dikembangkan dari tiga pilar pengkaderan PMII yakni: pertama semangat gerakan ketrampilan dan daya intelektualitasnya sebagai mahasiswa; kedua keyakinan, pemahaman, pelaksanaan, dan penghayatannya atas ajaran islam; serta ketiga pengetahuan, wawasan, komitmen dan pembelaannya atas kelangsungan negara-bangsa Indonesia. Wacana, nilai – nilai dan model gerakan apapun yang diperjuangkan oleh PMII selalu merujuk sekaligus bermuara pada penegasan ketiga pilar diatas, yakni Kemahasiswaan, Keislaman, dan Keindonesiaan. Oleh karena itu dalam pendampingan MAPABA baiknya diarahkan sesuai dengan kapasitas dan karakter calon anggota tanpa menafikkan tiga pilar pengkaderan PMII tersebut diatas.

Mengaca pada pelaksanaan MAPABA dan sistem pengakaderan PMII, berikut merupakan bagan dan tabel sebagai upaya kita dalam memonitoring dan mengevaluasi calon anggota PMII Rayon “Penakluk” Al Adawiyah demi pembentukan kader Adawiyah yang berkualitas dan militan sehingga mampu tercapainya visi dan misi Rayon Adaiwyah sendiri yaitu menjadikan Rayon “Penakluk” Al Adawiyah sebagai barometer pergerakan. Hidup PMII! Hidup Adawiyah! #vivaAdawiyah (naa).

Nama Pendamping:

Kelompok :

Anggota PMII Rayon “penakluk” Al Adawiyah diharapkan mampu:

  1. Mengerti dan memahami secara general tentang PMII
  2. Mengerti dan memahami secara general tentang PMII Rayon “penakluk” Al Adawiyah
  3. Mengerti dan memahami materi yang diberikan ketika pra & MAPABA
  4. Mampu menjelaskan kembali materi yang sudah diberikan ketika pra & MAPABA
  5. ……………………………………………………………………………………….
  6. ……………………………………………………………………………………….

No

Nama

Indikator Pemahaman Materi

Materi

1

2

3

4

5

6

7

8

1

2

3

4

5

6

7

8

9

√ = Paham        O = Kurang Paham           X = Tidak paham

Keterangan:

  1. Stadium General
  2. Ke-PMIIan
  3. Nilai Dasar Pergerakan (NDP)
  4. Aswaja
  5. Ke-Rayonan
  6. Analisa Diri (ANDIR)
  7. Gender
  8. Tipologi Mahasiswa