ISYARAT

images(5)Terhampar luas penuh keikhlasan…

Menunduk sayu membubuhkan arti…

Hijau merata kedamaian dipermulaan sebab…

Sampai tak terpikikan gelisah pertanda musim hujan…

Hujan luar hujan dalam kala sapuan kemarauh jauh dari perkiraan damai…

Lalu kuning merekah disela-sela wajah…

Pembubuh mengisyaratkan telah siap dituai…

Lesung bertaluh gemuruh jejaka-jejaka membawa layang…

Kehamparan sawah ladang yang berisikan sisa…

Jadi dimana hijau tadi ?…

Jadi hijau berada dimana saat ini ?…

Jerih asa kuasa menunggu…

Sikit lama empat bulan jatuh pasti…

Berton-ton, berkwintal-kwintal, berkilo-kilo gram…

Apadayamu yang sampai saat ini masih tega memasak nasi bercampur air mata pertani ?…

 

Karya : IlhamPriambodo (Anggota Baru PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah

Advertisements

Hilangkan Egoisme dalam Organisasi!!!

Organisasi, komunitas maupun perkumpulan lainnya didirikan dengan suatu tujuan tertentu yang menjadi keinginan kolektif dari para anggotanya. Mereka sama-sama memiliki satu tujuan hingga akhirnya mau membentuk atau mengikuti suatu organisasi tertentu. Kasarnya kurang lebih seperti itu. Namun, tak bisa disangkal pula jika masing-masing anggota suatu organisasi memiliki tujuan pribadi yang berbeda dari dari tujuan bersama. Bahkan terkadang ia sendiri tak menyadari akan tujuan tersembunyinya. Artinya, perilaku yang ia tampilkan kadang mencerminkan keinginan batinnya walau ia berdalih melakukan sesuatu karena ini dan karena itu demi kepentingan bersama. Egosime salah satunya. Tidak perlu disalahkan, karena pada dasarnya manusia memang memiliki keinginan, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda meski mengikuti organisasi yang sama.

Akan tetapi, hal tersebut semestinya tak dijadikan alasan untuk seseorang tidak memahami tujuan bersama organisasi. Setiap anggota mestinya paham akan apa tujuan organisasinya dan rela kehilangan waktu, tenaga, pikiran bahkan uang untuk mencapai tujuan itu, idealnya. Namun, banyak dari mereka yang bahkan belum menyadari apa tujuan organisasi yang dimasukinya, sehingga jika ada suatu permasalahan lalu ia memandang bahwa permasalahan ini bukan bagian dari tujuannya, dengan mudah ia akan lari. Mengatakan bahwa, “Ini bukan masalah saya” atau bahkan “Ini masalah saya maka tak perlu saya bicarakan dengan anggota lain” mencerminkan ketidaksadarannya akan peran dan tanggung jawabnya maupun kehadiran dan peran orang lain dalam suatu organisasi. Itulah EGOISME.

Kita tahu bahwa adanya organisasi bukan hanya adanya satu orang, melainkan banyak orang. Perlu adanya kesadaran bahwa setiap orang membutuhkan bantuan orang lain. Maka, tak semestinya ia bersikap seolah tak peduli jika itu bukan masalahnya atau bahkan seolah ia adalah dewa yang mampu mengatasi persoalannya sendiri. Saya rasa, semua orang paham dan mengerti mana yang merupakan masalah pribadi dan mana yang merupakan masalah umum atau bersama. Jangan menjadikan masalah pribadi di atas segalanya lalu menjadikannya masalah umum sehingga merugikan orang lain. Begitu pula sebaliknya, jangan menjadikan masalah yang sebenarnya merupakan masalah umum dan perlu diatasi bersama menjadi masalah pribadi, sehingga jika tak terselesaikan semua orang pun dapat membantu.

Tak bisa disangkal bahwa setiap orang memiliki tujuan masing-masing dan lagi-lagi, punya keterbatasan pula. Silahkan mewujudkan impian dan tujuan masing-masing bahkan jika harus berpolitik. Tak kan ada yang melarangnya, toh itu merupakan hak individu. Tapi, bisakah ia juga menggunakan kesadarannya bahwa ia pun adalah anggota dari suatu organisasi yang juga memiliki kepentingan dan tujuan bersama? Jangan hanya mengambil keuntungan dari sesuatu meski itu tak dilarang. Namun, tak ada salahnya jika kita juga memberi. Kebermanfaatan diukur dari seberapa banyak ia memberi, bukan menerima. Ini pun jika kita mampu. Jika tidak, berarti itu merupakan keterbatasan kita. Namun, saya rasa setiap orang itu istimewa dan pasti memiliki sesuatu yang mampu ia berikan untuk orang lain, sekecil apa pun itu.

Jangan salah, egosime bukan hanya soal mementingakan dirinya sendiri. Merampas hak orang lain lalu merugikannya juga merupakan sebuah bentuk egoisme. Merasa bahwa dirinya mampu mengatasi segalanya sendiri, tak mau bekerja sama dengan orang lain dalam artian tak mengindahkan kehadiran dan peran orang lain juga merupakan penyakit dalam organisasi. Sehebat apapun seseorang, tak menghilangkan kewajibannya dalam menghargai orang lain. Bagus jika akhirnya suatu permasalahan bersama dapat ia selesaikan dengan baik. Jika tidak? Tiba-tiba gagal di tengah jalan lalu merugikan banyak orang? Apa lantas ia akan menyalahkan orang lain dengan dalih tak ada yang membantunya?

Saling salah-menyalahkan juga adalah salah satu dampak dari egosime. Termasuk menyalahkan orang lain karena tak mau membantu tanpa mempertanyakan apa keterbatasannya, apa masalahnya, apa kendalanya. Menyalahkan kinerja seseorang karena tak paham apa masalah yang ditemuinya juga salah satunya. Sehingga, pemahaman akan keadaan orang lain dirasa juga sangat perlu dan hal itu tak akan terwujud jika masih saja ada rasa egoisme yang tinggi dalam hati. Sebagaimana sebuah ungkapan yang menyindir, Kau takkan pernah memahami orang lain jika ego masih saja bersarang di hatimu.

 

By: Yuni Hadziqoh, LSO Jurnalistik PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah

PMII “Penakluk” Al-Adawiyah Adakan Diskusi Tentang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)

 

Jumat, 1 Desember 2017

Malang – PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah melalui program YKS (Yuk Kita Sinau) mengadakan diskusi dengan tema Peran Psikologi Terhadap ODHA dalam rangka memperingati hari AIDS se-dunia. Kegiatan diskusi rutin ini dihadiri oleh beberapa mahasiswa psikologi UIN  Malang sendiri dan juga mahasiswa dari luar UIN Malang. Dalam diskusi kali ini, YKS menghadirkan seorang psikolog yang merupakan salah satu dosen psikologi UIN Malang sendiri, yaitu sahabati Fuji Astutik, M.Psi. Beliau juga merupakan demisioner pengurus PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Desember 2017 yang bertepatan dengan libur perkuliahan. Diskusi dimulai pada pukul 08.00 sampai 11.30 WIB di balkon gedung B lantai 2.

Kegiatan ini sangat penting diselenggarakan, karena melihat realita yang ada di masyarakat yang menganggap bahwa ODHA (orang dengan HIV/AIDS) adalah penyakit di masyarakat. Akhirnya,mereka dikucilkan dari aktivitas sehari-hari. Adanya acara ini tentu diharapkan bisa merubah stigma masyarakat melalui pandangan psikologi”, terang Naila Shofia selaku CO Biro Intelektual Adawiyah.

Menurut sahabati Fuji Astutik, cara menghadapi masalah ODHA adalah dengan pemberian wawasan mengenai penyebab penularan HIV/AIDS dan bahaya HIV/AIDS dalam hidup berkeluarga. Dengan demikian, diharapkan setiap orang yang telah memahami HIV/AIDS mampu memperlakukan ODHA dengan benar, tidak serta merta menjauhi mereka apalagi sampai menghina mereka.

Acara ini juga mendapat apresiasi positif dari peserta diskusi. Salah seorang peserta diskusi dari UNISMA, Dimas Abidin menuturkan, “Setelah mengikuti acara ini, saya jadi tahu bahwa ODHA bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan kita harus memberi support lebih kepada mereka. Mereka juga layak untuk kita beri semangat, bukan malah sebaliknya.”

Diharapkan kegiatan seperti ini terus dikembangkan dan tidak hanya pada peringatan hari AIDS  saja, akan tetapi juga pada acara peringatan hari yang dianggap perlu untuk dibahas sebagai wawasan pengetahuan kita sebagai mahasiswa.

Penulis : Emha Ainun Najib, LSO Jurnalistik PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah

 

Implementasi Nilai-Nilai Aswaja dalam Kehidupan Sehari-hari

1. TAWASUT (Sikap tengah-tengah)
Maksud dari sikap tengah-tengah yaitu kita sebagai manusia kita tidak boleh bersifat ekstrim kanan dan ekstrim kiri, kita harus bersifat sedang-sedang saja atau tengah-tengah, tidak pilih-pilih, dan dalam konteks kehidupan sehari-hari kita harus bisa memilih pergaulan yang menurut diri kita itu baik dan bisa mendorong kita untuk menuju cita-cita atau mencapai apa yang ingin kita tuju.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari saya yaitu, ketika ada anak kamar saya yang sedang bertengkar disebabkan karna perbedaan pendapat maka saya sebagai temannya ikut campur untuk mennyelesaikan atau menengahi masalah tersebut, pada saat itu mereka tetap bercekcok ngomong ini ngomong itu tetapi saya tidak membela salah satu diantara mereka karena diantara mereka ada yang dekat dengan saya, tetapi saya tetap untuk tidak pilih kasih akan tetapi saya memilih keputusan tengah-tengah. Dan disalah satu dari mereka ada yang mengalah karena dia merasa bahwa dia sudah dewasa, akhirnya masalah tersebut selesai.

2. TAWAZUN ( SEIMBANG)
Maksudnya, seimbang dalam segala hal yaitu dalam sebuah musyawarah pastinya ada tujuan yang akan dituju dan ada bermusyawarah karena akan merencanakan sesuatu, didalam musyawarah tersebut ada suatu sikap yaitu berusaha mengintegrasikan antara pendapat satu dengan pendapat yang lain, maka dalam mengambil keputusan kita harus seimbang dalam hasil musyawarah tersebut.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari saya yaitu dikamar saya ada perbedaan sifat yang membut saya tidak nyaman berada di kamar, saya merasa sulit mengintegrasikan diri saya kepada mereka, tetapi seiring berjalannya waktu saya mulai bisa menyeimbangkan antara sifat yang satuu dengan yang lain, mereka ada yang hiper aktif, sukanya lelucon, keras, pendiam, ada juga yang setiap perkataannya menyakitkan hati, tetapi saya berusaha menyeimbangkan antara sifat saya dengan mereka, dan akhirnya saya bisa.

3. TASAMUH (Toleransi)
Maksudnya, toleransi yaitu menghargai orang lain,menghargai pendapat yang diutarakan tidak memikirkan diri sendiri, toleransi disini juga bisa dilihat dari keragaman budaya, agama, ras, dan bahasa, di indonesia keberagaman-keberagaman tersebut sangat dihargai oleh semua warga indonesia yang tidak bersifat memaksa.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari saya yaitu, ketika saya presentasi didepan kelas materi yang dipresentasikan oleh kelompok saya dihargai oleh teman-teman, tetapi ketika kelompok saya menyampaikan isi dari materi, teman-teman malah sibuk sendiri dengan hp nya, tetapi wujud dari sikap toleransi menghargai posisi mereka yang pada saat itu mereka sedang bosen dengan padatnya jadwal mahad maka salah satunya mainan hp didalam kelas reguler ,tetapi kelompok saya menghargai itu, kelompok saya lebih memilih untuk membirkan saja.

4. TA’ADUL (Adil)
Maksudnya, adill dalam melihat, menimbang, menyikapi, dan menyelesaikan segala permasalahan. Adil hanya dilakukan dikehidupan sehari-hari itu benar-benar sama dan setara secara sama persis dalam segala sifat-sifatnya, apabila terjadi keunggulan disalah satunya maka keadilan menuntut perbedaan dan keutamaan dan allah berifrman “Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat dengan Taqwa”.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari saya yaitu ketika saya mempunyai uang dan saya belikan jajan, setelah itu jajan yang saya beli saya kasihkan kepada teman-teman satu kamar, jajan yang saya beli tidak saya makan sendiri tetapi saya langsung bagikan kepada teman-teman secara adil dan merata, dan saya taruh di meja dan setelah itu teman-teman ambil sendiri-sendiri.

Penulis : Nabila, Anggota PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah Angkatan 2017