MEMBANTAI SIFAT KEBINATANGAN

Dunia hari ini, sangat mendambakan sosok manusia seperti Ismail AS. yang  dengan ketulusan hati dan kehalusan budi,  rela mengorbankan kepentingan individual demi untuk meraih kesalehan sosial. Walaupun dia menyadari, tidak ada satu-satunya yang sangat berharga  dalam kehidupan ini melainkan nyawa, akan tetapi demi sebuah peradaban, betapa pentingnya nuansa sosial dalam sebuah peribadatan, nyawapun tidak berharga baginya, apa lagi ketika dia menyadari bahwa dirinya itupun bukanlah miliknya, dia adalah titipan atau pinjaman, ketika yang empunya menghendaki hak milik-Nya, tidak ada alasan untuk dia enggan mengembalikannya.

Ternyata Allah tidak sekejam yang dibanyangkan, sifat Arrahman dan Rahim-Nya lebih dahulu dari kemurkaan-Nya. Tuhan dalam Islam bukanlah Tuhan seperti dalam agama primitif, yang menggambarkan Tuhan dalam bentuk sadis dengan mata terbelalak, gigi sebesar kapak serta hauskan darah. Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang penuh dengan rasa kelembutan, kasih dan sayang-Nya kepada hamba-Nya melebihi dari kasih seorang ibu kepada anaknya. Sehingga dalam sebuah hadis qudsi dijelaskan; “Aku sangat ingin untuk mendekatimu wahai manusia, tapi kamu yang jauh-jauh dari-Ku, jika kamu mendekati-Ku dengan berjalan kaki,maka Aku akan mendekatimu dengan berlari”.

Terbukti, peristiwa pembantaian Ibrahim terhadap anaknya Ismail adalah sebuah anti tesis terhadap sifat sadis yang kadangkala terdapat dalam diri manusia, yang suka membunuh antara  satu dengan yang lainnya. Pembunuhan yang dimaksudkan di sini adalah pembunuhan dalam pengertian universal, pembunuhan secara fisik, pembunuhan secara politik, pembunuhan karakter, pembunuhan karir dan sebagainya. Allah tidak menghendaki semuanya itu. Ketidaksetujuan Allah, dikiaskannya dalam  peristiwa pembantaian atau penyembelihan Ibrahim terhadap Ismail anaknya, kemudian ditukar oleh Allah dengan seekor domba, yang di dalamnya mengisyaratkan sebuah pengertian, bahwa, dalam kondisi apapun juga,manusia jangan dikorbankan. Sebab sifat saling korban mengorbankan itu adalah sifat binatang, jika kita mengorbankan sesama manusia, berarti kita menganggap bahwa manusia yang kita korbankan itu adalah binatang, dan logikanya pula, kita yang mengorbankan itupun adalah binatang.

Nuansa sosial yang lainnya dari peristiwa tersebut, dengan penyembelihan hewan korban, Allah menyuruh kita berbagi dalam kehidupan ini, sebab di dalam Islam kesolehan sosial lebih besar pahalanya ketimbang kesolehan individual. Terbukti, shalat sendirian pahalanya hanya satu darjat, shalat berjemaah, karena ada nuansa sosialnya pahalanya 27 darjat. Di dalamnya juga mengandung makna, Allah menghendaki kita, saling cinta menyintai, saling sayang menyayangi antara satu dengan yang lain, saling asah, saling asih,saling asuh, sebab Allah tidak mengehendaki kita masuk syurga sendirian, syurga yang penuh rahmah, dikehendaki oleh Allah supaya kita masuk ke dalamnya secara berjemaah.

Tak kalah pentingnya dari peristiwa korban tersebut, Allah menyuruh kita supaya membantai sifat kebinatangan di dalam diri, karena dengan sifat kebinatangan ini, kita saling cakar mencakar antara yang satu dengan yang lain, saling gasak, saling gesek, saling gosok, bahkan manusia tidak obahnya seperti “homo ho mini lupus” yaitu serigala bagi manusia lainnya. Justru itulah, untuk menggambarkan sifat kebinatangan ini, di dalam al-Quran sengaja Allah cantumkan nama-nama surah yang berhubungan dengan nama binatang, seperti surah An-Namal yang artinya semut dan surah Al-Ankabut yang artinya laba-labah.

Ada apa dengan semut? Di satu sisi Allah melarang kita meniru sipat semut, semut membikin rumah sama sifatnya dengan rumah manusia, berbilik-bilik atau berkamar-kamar, bahkan ada gudang sebagai tempat penyimpanan barang.

Dengan sifat ketamakannya, seringkali kita lihat, semut membawa barang atau makanan yang lebih besar dari badannya. Barang tersebut ditimbun dan disimpan untuk persediaan tujuh keturunan dan puluhan tahun, tapi sayang, umurnya sendiri tidak sampai satu tahun.

Lain pula halnya dengan surah Al-Ankabut yang artinya laba-labah, mungkin tidak ada binatang yang lebih mengerikan dari binatang ini. Sarangnya walaupun lemah, jelas bukan tempat yang aman bagi makhluk lainnya. Apapun yang berlindung atau terjaring di sana pasti akan disergapnya dengan tidak kenal ampun. Bukan itu saja, jantannya sendiri selepas berhubungan selalu dibunuh oleh betinanya, bahkan telurnya yang menetaspun selalu saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan antara sesamanya.

Manusia berbudaya semut senang menghimpun dan menumpuk sesuatu yang kadangkala tidak sempat dinikmatinya. Ia menumpuk-numpuk harta tanpa mengerti makna dan tujuan dari harta titipan Allah itu kepadanya, sehingga ia tetap saja seolah-olah fakir dan miskin sepanjang masa. Aji mumpung adalah handalan ilmunya. Sedangkan manusia yang bermentalitas laba-labah, tidak lagi butuh berpikir apa, di mana dan kapan ia makan , tetapi yang mereka pikirkan adalah, siapa hari ini yang akan mereka makan.

Logikanya apa? Manusia yang bermentalitas seperti binatang-binatang ini, semuanya ingin serba mudah. Semboyannya: mencari yang haram saja sulit. Apa lagi yang halal.

Di samping itu, Ibdah kurban yang dilaksanakan pada hari Raya Kurban sering juga disebut dengan hari raya haji. Menyebut kata-kata haji atau ibadah haji, fakta sejarah berbicara, penjajah Belanda pernah mempersulit umat Islam Indonesia untuk menunaikan ibadah haji, yang mereka takutkan bukan mengerjakan ibadah haji secara formalitas, akan tetapi kengerian mereka, kalau-kalau ibadah yang bersifat formalitas itu,memanifestasikan dalam bentuk aktifitas yang berkualitas.

Untuk memastikan hal ini, penjajah Belanda mengutus Snouck Hurgronje seorang orientalis dengan menukar namanya menjadi Abdul Gaffar, untuk menyelidiki umat Islam yang mengerjakan ibadah haji. setelah berbulan-bulan lamanya dia berada di Mekkah dan Masjidil Haram,serta berpura-pura masuk Islam, kemudian setelah mengamati pola tingkah laku umat Islam Nusantara, akhirnya dia merekomendasikan kepada pihak penjajah Belanda dengan mengatakan: “ izinkan saja umat Islam Indonesia mengerjakan ibadah haji, sebab ibadah haji yang dikerjakannya tidak sedikitpun berpengaruh kepada perangainya. Sebagaimana dia pergi, begitu juga dia kembali.” Apa yang dikatakan oleh Snouck Hurgronje itu memang benar adanya, sebab tujuan berhaji kadangkala hanya untuk meningkatkan status sosial dalam kehidupan masyarakat, bahkan tidak jarang juga untuk mengelabui mata masyarakat, sebagai manipulase terhadap perangai buruk yang dilakukan selama ini”.

Contoh yang sangat sederhana, bagi kita yang sudah berpengalaman mengerjakan ibadah haji. Kita pernah menyaksikan bagaimana pengotornya umat Islam Indonesia, mereka membuang sampah sembarangan, tidak jauh dari tempat melontar jumrah di sepanjang jalan, kadangkala botol-botol aqua berserakan.

Nampaknya hadis Rasulullah yang sering kita baca, bahkan kadangkala tulisan hadis tersebut ada di pinggir-pinggir jalan kota yang berbunyi “Kebersihan itu adalah sebagian dari iman”. Hanya sekedar ungkapan bibir atau polesan lifstik belaka. Yang mengamalkan hadis ini adalah umat yang beragma lain, terbukti jika kita keluar negeri seperti ke Singapura, dengan penduduknya mayoritas cina dengan agamanya konghucu, jika kita membuang sampah  dan juga meludah sembarangan, maka kita akan didenda. Jika kita keluar negeri juga, kita akan melihat, wc.wc umum mereka sangat bersih, bahkan harum baunya, melebihi harumnya bau kamar tidur di rumah kita.

Akan tetapi yang sangat eronis, di tempat kita, institusi-institusi agama, yang sepatutnya memberikan contoh bagi tempat yang lain, seperti pesantren-psantren, perguruan tinggi Islam, bahkan masjid dan mushalla, bau wc nya sungguh na’uzubillah, rasanya seperti mau muntah.

Dari hadis “kebersihan  sebahagian dari iman” itu orang bisa jadi kaya raya. Berhadapan dengan rambut yang kotor, akhirnya melahirkan pabrik shampo, pakaian yang kotor melahirkan pabrik rinso, badan yang berbau busuk melahirkan sabun lux, rumah atau karpet yang berdebu melahirkan vacuum cleaner. Tapi sangat disayangkan, kesemua pabrik-pabrik itu yang menciptakannya atau yang memilikinya bukanlah umat Islam, akan tetapi umat yang beragama lain. Usahkan itu, untuk benda yang sangat sederhana saja, ketika kita mengerjakan ibadah haji, berbagai macam bentuk tasbih yang dijual di Makkah, itupun kebanyakannya adalah made in Cina.

Jika kita mau merenung dan berpikir, ternyata ibadah di dalam Islam seperti shalat apa lagi haji adalah ibadah yang aktif dan kreatif. Shalat mulai dari berdiri, rukuk, sujud dan sebagainya, begitu juga dengan ibadah haji, thawaf dengan cara mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali, sa,i yaitu berlari-lari kecil antara bukit shafa dan marwa juga tujuh kali, melontar jumrah dan sebagainya itu, semuanya itu penuh dengan berbagai macam gerakan. Sepatutnya sifat ibadahnya sama dengan perangai umatnya. Akan tetapi yang kita temukan adalah kebalikan, ibadahnya saja yang aktif, akan tetapi umatnya fasif. Umatnya sering membiarkan diri dalam kebodohan, kemalasan dan sifat keputus asaan. Kemudian disenandung pula dengan lagu-lagu yang penuh rasa kesedihan. “Patah hati terus merajuk, merajuk sampai ke hutan belukar, kain yang buruk berikan kami, buat penyapu si air mata, akhirnya karena pemikirannya tiap hari terkonsentrasi hanya untuk perut, sehingga tudung periukpun dibawa menari.

Di pihak yang lain pula jika kita mau membandingkan, dari sekian banyak umat yang beragama lain di dunia ini, umat Islamlah satu-satunya umat yang masih memiliki kitab suci yang tetap asli, akan tetapi yang menimbulkan tanda tanya di hati kita,mengapa umat ini pula nasibnya sangat terpuruk jika dibandingkan dengan umat yang beragama lain?

Berarti ada yang tidak beres dengan umat ini ataupun umat ini apa yang dilakukannya sangat tepat seperti yang dikatakan oleh Yusuf Qardhawi: “Kita sering menghiasi dinding-dinding rumah kita dengan ayat-ayat al-Quran. Akan tetapi kita membiarkan kepribadian kita gersang kering kerontang, tidak mau berakhlak seperti akhlaknya al-Quran. Kita sering membacakan al-Quran untuk orang yang sudah mati, akan tetapi kita tidak mau menjadikan al-Quran, sebagai hukum atau pedoman bagi kita yang masih hidup”.

Inilah salah satu di antara sekian banyak penyebab, mengapa umat Islam itu mundur. Karena sangat berbeda dalam memperlakukan al-Quran antara umat Islam sekarang dengan umat Islam terdahulu. Umat Islam pada masa sekarang membaca al-Quran tujuannya hanya semata-mata untuk mendapatkan pahala di hari akhirat, sementara umat Islam pada zaman kejayaan dahulu, membaca al-Quran apa lagi ketika mereka membaca ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, maka mereka lanjutkan dengan melakukan penelitian atau penyelidikan, sehingga melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan dalam Islam, seperti ahli ilmu kedokteran Ibn Sina, ahli sosiologi Ibn Khaldun, matematika Al-khawarizmi, pakar geologi Al-Biruni dan lain-lainnya lagi.

Kita tidak dapat membayangkan, betapa bangga dan berbahagianya kita, sekiranya listrik, pesawat terbang, komputer, hp dan sebagainya itu yang menemukannya adalah umat Islam, betapa besar manfaatnya untk kemajuan manusia sejagat, dan betapa besar pahala yang bakal diterima bagi yang menemukannya di hari akhirat. Sekali lagi sangat disayangkan, yang menemukannya bukanlah umat Islam, akan tetapi umat yang beragama lain.

Ibadah haji adalah pertemuan akbar yang dihadiri oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Dengan demikian haji memberikan kesempatan yang sangat besar bagi umat Islam untuk menggalang kesatuan di antara sesamanya, menyatukan tekad dan semangat, dan bersama-sama memikirkan persoalan yang mendera umat Islam pada saat ini.

Namun sangat disayangkan, tiap tahun umat Islam negerjakan ibadah haji, tiap tahun pula mereka dari seluruh penjuru dunia bertemu dan berkumpul. Akan tetapi sampai saat sekarang, semangat kesatuan itu tidak juga mereka miliki. Mereka saling gontok-gontokan antara yang satu dengan yang lain bahkan bunuh-membunuh atau saling berperang diantara sesama mereka.

Hal ini membuktikan sifat kebinatangan lebih dominan mengusai umat ini, atau dengan kata lain, umat Isam pada saat ini lebih banyak menonjolkan hal-hal yang bersifat negatif ketimbang hal-hal yang bersifat positif. Kenapa demikian? Sebab fenomena yang kita saksikan selama ini, umat Islam lebih banyak menyerap sifat-sifat kebinatangan atau kesyaitanan, ketimbang menyerap sifat-sifat Ketuhanan. justru itu melalui peristiwa kurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. terhadap anaknya Nabi Ismail AS. adalah momentum umat Islam untuk bangkit dari keterpurukan, dengan cara membantai sifat kebinatangan di dalam diri guna memberi tempat untuk menyerap sifat-sifat Ilahi. Wallahua’lam.

Oleh :  Kasmuri Selamat, Doktor Alumni Universiti Malaya

 

               

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: