FITRAH DALAM PENGERTIAN KESUCIAN KASIH SAYANG DAN KECINTAAN

Begitu tadi malam dikumandangkan suara takbir, berarti hal itu menunjukkan suatu pertanda, bahwa berakhirlah sudah ibadah bulan suci Ramadhan kita pada tahun ini.sehingga hari-hari yg akan datang,atau nanti malam, tidak kita dengar lagi suara imam yang mengimami shalat Tarawih, suara para pemuda pemudi yang bertadarus al-Quran. Kalaupun ada nanti sore, kita hanya mendengarkan suara-suara kaset yang diputar menjelang dikumandangkannya suara azan. Mesjid kembali sepi, mushalla kembali sunyi, di tengah malam yang terdengar hanya suara lolongan anjing, disertai bunyi jenggkrik dan lengkapi dengan bunyi detak detik jam di dinding masjid, yang memecah kesepian malam.

Selamat berpisah wahai Ramadhan, mudah-mudahan untuk tahun yang akan datang kami masih bisa lagi untuk bersama denganmu, dan khusus Ramadhan tahun ini, kepada-Mu ya Allah, dengan berbagai macam kekurangan dan kelemahan, hanya itu yang dapat kami persembahkan, dengan sifat ar-Rahman dan ar-RahimMu, terimalah ibadah kami yang sangat jauh dari kesempurnaan. Namun kami yakin, cita-cita dan harapan kami untuk mendapatkan maghfirah, Engkau kabulkan, sehingga kami berhasil lolos pada Ramadhan tahun ini sebagai hamba yang terlahir kembali dalam keaan fitrah.

Hadirin yang berbahagia.

Jika kita menyebut kata-kata fitrah, terlalu banyak pengertian yang terkandung di dalamnya. Khusus khutbah kita pada hari ini, khatib hanya akan memberi judul: Fitrah Dalam Pengertian Kesucian, kasih sayang dan kecintaan

Manusia dari semenjak dilahirkan dlm keadaan suci, dia harus tetap mempertahankan kesuciannya itu sampai dia mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang fanak ini, caranya tidak lain adalah; karena manusia ditugaskan kedunia ini sebagai khalifah, khalifah dapat diartikan sebagai pemimpin, namun dalam pengertian lain dapat diartikan sebagai pengganti. pengganti siapa? Tidak lain adalah pengganti Allah atau perpanjangan tangan Allah dalam upaya memakmurkan dunia serta menjadi rahmat bagi alam semesta. Justru itu sebagai wakil atau pengganti, dia harus mempunyai sifat yang sama dengan yang diganti, maka tidak ada jalan lain kecuali meniru atau menyerap sifat-sifat yang dimiliki oleh Zat Yang Maha Suci yaitu Allah Robbul izzati.

Diantara sifat kesucian yang dimiliki olh Allah SWT. Yang harus diwarisi oleh kita selaku hamba-Nya, adalah sifat Ar-Rahman dan Arrahim Allah. Berangkat dari sifat ini pulalah Allah menyuruh kita melaksanakan ibadah puasa, tujuannya apa? Tidak lain adalah supaya meniru sifat-Nya, Allah tidak makan dan tidak minum, dalam keadaan tidak makan dan tidak minum, Dia tetap memberi rezeki atau memberi makan dan minum kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Justru itu kepada kita juga diharapkan demikian, manifestasi akhir atau puncak dari ibadah puasa yang kita kerjakan, Allah menyuruh kita membayar zakat fitrah, tujuannya adalah supaya kita bisa memberi makan kepada yang tidak berpunya atau berbagi kepada sesama.

Sifat Arrahman dan Arrahim Allah yg harus kita tiru tdk hanya cukup sampai di situ, dan tidak hanya terbatas utk umat agama tertentu, akan tetapi jangkauannya secara universal,sebagaimana Allah mencintai dan menyayangi semua hambaNya, sehingga jika benar-benar kita terapkan dalam kehidupan, maka kita akan benar-benar tampil sebagai umat pilihan.

Sebagai contoh dalam suatu riwayat diceritakan; setelah Rasulullah meninggal dunia, Abu Bakar Shiddik berkunjung ke rumah isteri Rasulullah, yaitu anaknya Aisyah. Abu Bakar bertanya kepada anaknya: “Wahai anakku, apa kira-kira amal ibadah yang pernah dilaksanakan oleh Rasulullah yang belum ayahnda kerjakan? Jawab Aisyah: “wahai ayahnda, setahu ananda apa yang pernah dilaksanakan oleh Rasulullah sudah ayahnda kerjakan semuanya, kalau adapun barangkali hanya satu”. “Apah itu?” tanya Abu Bakar. Jawab Aisyah: “Di sudut pasar kota Madinah, ada seorang pengemis buta nenek tua beragama Yahudi, hampir setiap pagi setelah selesai mengerjakan shalat Subuh, Rasulullah memberi makan pengemis buta tersebut, walaupun hapir setiap hari pula nenek tua itu mencaci maki beliau dengan berbagai macam perkataan kotor”. Singkat cerita, keesokan harinya selesai mengerjakan shalat Subuh, Abu Bakar Shiddik mengunjungi pengemis tersebut, juga membawa makanan utk diberikan kepada nenek tua si Yahudi itu. Mengetahui ada orang yang datang menyuguhkan makanan kepadanya dan ketika makanan itu akan dikunyahnya, nenek tua itu bertanya; “Siapa kamu”. Abu Bakar langsung menjawab; “aku ingin melakukan seperti biasanya. “Kamu bukan orang yang biasanya memberi aku makan, buat pengetahuan kamu, orang yang setiap pagi menyuguhkan makanan kepadaku, dia tahu dengan keadaanku, aku sudah tua, gigiku sudah tidak ada, makanan yang disuapkan ke mulutku adalah makanan yang lembut-lembut, sehingga mudah mulut ini mengunyahnya.

Mendengar ungkapan tersebut, Abu Bakar menangis terisak-isak, tidak tahan menahan deriaian air matanya serta berkata: “Buat pengetahuan kamu wahai nenek tua, orang yg setiap pagi memberi kamu makan itu dan setiap hari kamu caci maki, kini sudah tiada, dia sudah mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang fanak ini, pergi yang tidak mungkin akan kemali lagi, dia adalah Muhammad SAW.

 Mendengar ungkapan tersebut,nenek tua Yahudi buta itupun  jatuh tersungkur, karena tidak menduga, bahwa org yg dicaci makinya selama ini, ternyata adalah org yang menyuapkan makanan ke mulutnya setiap hari, dan dengan spontan terlafas dari bibirnya ungkapan dua kalimah syahadat, sebagai pertanda keislamannya. Ini sifat arrahman dan ar-Rahim Allah yang telah menyatu ke dalam jiwa Rasulullah.

Sifat tersebut tidak hanya pada diri Rasulullah, ternyata juga terdapat pada diri para sahabatnya, diantara sahabatnya itu adalah Umar bin Khattab. Umar terkenal sebagai seorang khalifah yang sangat kurang tidur pada waktu malam hari, ketika waktu malam tiba, dia sering meronda ke sana ke mari, mengawasi dan memperhatikan nasib dan keadaan rakyatnya.

Kejadian pada suatu malam, dari kejauhan dia melihat dua orang pedagang Nasrani yg sedang menunggang kuda serta membawa penuh sarat barang dagangan. Karena hari sudah larut malam, pedagang tersebut kelihatan letih dan mengantuk, tidak lama kemudian mereka mengikatkan kudanya pada sebatang pohon kayu rindang serta tertidur dalam keadaan pulas.

Melihat keadaan demikian itu, Umar bin Khattab langsung menghunus mata pedangnya, sambil mengelilingi dua pedagang tersebut sampai menjelang waktu subuh tiba. Tidak lama kemudian pedagang itu terjaga, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat seorang khalifah atau Presiden berada di samping mereka serta bertanya: “wahai khalifah, apa yang tuan lakukan di tempat ini?” dengan penuh senyuman khalifah Umar menjawab: “Aku lihat kamu tadi dalam keadaan mengantuk dan tertidur pulas, aku ingin memastikan kamu selamat berada di daerah kekuasaanku ini, dan aku tidak menginginkan kejadian buruk terjadi pada diri kalian berdua, seperti perampokan dan sebagainya”. Mendengar ungkapan tersebut, alangkah terharunya kedua pedagang Nasrani itu, serta secara tulus karena tertarik dengan kehalusan akhlak dan budi pekerti dalam Islam yang di dalamnya terdapat nuansa kasih dan sayang kepada sesama, secara spontan pula mereka melafaskan dua kalimah syahadat dan menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam.

Selain Umar, tidak kalah pentingnya sebagaimana yang dilakukan oleh seorang panglima perang dalam Islam ketika menghadapi tentara salib, atau dikenal dengan Perang Salib, yaitu Panglima Salahuddin Al-Ayyubi.

Ketika perang sedang berkecamuk, terdengar berita, panglima tentara salib yang dipimpin oleh panglima Richad atau dikenal dengan singa padang pasir dalam keadaan sakit. Sudah puluhan dokter dari Eropa mengobati beliau, tidak juga sembuh. Maka ketika itu juga panglima Salahuddin al-Ayyubi menyamar sebagai seorang kakek tua, lalu masuk ke dalam kemah panglima Ricdhad dan mengobatinya, maka tidak lama kemudian, panglima Ricad sehat seperti sedia kala.

Karena merasa berhutang budi, panglima Richad lalu bertanya: “Siapa kamu wahai pak tua?” maka seketika itu juga panglima Salahuddin al-Ayyubi membuka samarannya. Alangkah terkejutnya panglima Richad lalu berkata: “wahai Salahauddin, apa yg kamu lakukan ini? Bukankah aku ini musuhmu dalam peperangan? Bahkan ketika kamu mengobatiku, ada kesempatan untukmu membunuhku, kenapa hal itu tdk engkau lakukan?

Dengan tenang panglima Salahuddin menjawab: “Wahai panglima Richad, agamaku Islam melarang membunuh orang yang dalam keadaan lemah, kini kamu sudah sehat, maka besok kita teruskan peperangan kembali.

Hadirin yang berbahagia, ternyata Panglima Salahuddin Al-Ayyubi di samping dia adalah panglima yang gagah dan perkasa dalam Islam dia juga seorang dokter yang handal dalam mengobati berbagai macam penyakit. Dalam suatu riwayat pula dikatakan, karena terharu menyaksikan kehalusan budi pekerti dalam Islam yang dipraktekkan oleh Salahuddin al-Ayyubi, ada pendapat yang mengatakan secara diam-diam panglima Richad memeluk agama Islam.

Hadirin jemaah Id yang berbahagia

Ada ahli tafsir yang menafsirkan surah al-Fatihah, khususnya ketika berbicara tentang sifat ar-Rahman dan ar-Rahim Allah, menggambarkan bahwa kasih sayang Allah itu terpancar pada setiap makhluk ciptaan-Nya, sebagai contoh seekor induk ayam yg sedang bermain di halaman bersama anak-anaknya, tiba-tiba kelihatanlah seekor elang di udara, maka dengan secepat mungkin dia menyelamatkan anak-anaknya dengan cara memasukkan semua ananya di bawah sayapnya. Ini juga sebagai bukti pancaran dari kasih sayang Allah.

Binatang saja punya perasaan kasih sayang, sepatutnya apa lagi manusia. Dalam sebuah kisah diceritakan, kebiasaan masyarakat Jepang pada masa silam tidak menginginkan kehadiran orang tuanya yang sudah tua bangka dalam kehidupan keluarganya. Apabila orang tuanya sudah tua renta, maka dengan secepat mungkin mereka akan membuang orang tuanya itu ke dalam hutan belantara, tujuannya tidak lain adalah supaya orang tuanya itu mati dan dimakan oleh binatang buas.

Kejadian pada suatu hari, ketika seorang pemuda melihat ibunya yang sudah tua renta, bahkan sudah mendekati pikun, maka dengan secepat mungkin pula ia menggendong ibunya itu menuju ke arah hutan belantara, dalam perjalanan menuju distinasi, si ibu yang digendong itu menggapai apa saja yang berdekatan dengannya, mematah ranting-ranting kayu dan melemparkannya ke tanah.

Setelah sampai di tempat tujuan, pemuda tadi langsung meletakkan ibunya ke tanah lalu berkata; “Ibu, maafkan aku, karena terpaksa meninggalkan ibu di hutan belantara ini”. Dengan perasaan tenang si ibu berkata: “terima kasih wahai anakku atas kemurahan hatimu telah memelihara ibu sehingga tua renta seperti ini”. Buat pengetahuanmu walaupun hal ini engkau lakukan, kasih sayang ibu tidak pernah pudar kepada dirimu, dari kecil engkau ibu besarkan, bahkan kalau dapat tidak ada seekor nyamukpun ibu izinkan menggigit tubuhmu, setiap hari ibu khawatir akan keselamatanmu,termasuk juga kekhawatiran ibu, kalau-kalau engkau tersesat ketika akan keluar dari hutan ini. Akan tetapi jangan bimbang wahai anakku, di sepanjang perjalanan tadi, ibu sempat mematahkan ranting-ranting kayu, ikutilah tanda-tanda ranting kayu yang dipatah itu, agar engkau selamat pulang ke rumah.” Mendengar ungkapan dan ketulusan hati ibunya itu, pemuda tadi langsung kembali menggendong ibunya pulang ke rumah, serta bertekad utuk memeihara ibunya sampai ibunya itu meninggal dunia.

Hadirin yang berbahagia.

Kisah yang mengharukan itu juga adalah sebagai pancaran dari sifat kasih dan sayang Allah. Walaupun sudah demikian kasih sayang orang tua kepada anaknya, tapi masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Orang tua bisa saja mengusir dari rumah seorang anak yang durhaka kepadanya. Akan tetapi Allah, kasih sayangNya lebih dahulu dari kemurkaan-Nya.walaupun kita durhakan kepada-Nya, nikmatNya tetap berlimpah ruah yang  dikurniakan kepada kita.

Lihatlah matahari yang bersinar pada hari ini, tidak kira apakah kita seorang hamba yang beriman ataupun yang durhaka dan kafir, kita sama-sama menikmatinya, dan Allah tidak pernah meminta rekning matahari, sebagaimana PLN yang menagih rekning listrik setiap bulannya. Udara segar yang kita hirup, gratis, dan tidak dapat kita bayangkan berapa uang yang harus kita siapkan, andaikata setiap kita menghirup udara harus dibayar.

Justru itu wajarlah jika dalam surah Ar-Rahman, Allah bertanya kepada kita: “Nikmat manakah lagi yang engkau dustakan wahai manusia?” Bahkan dalam sebuah hadis qudsi dijelaskan, bahwa Allah berfirman: “jika kamu mendekatiKu dengan berjalan kaki, maka Aku akan mendekatimu dengan berlari, aku sangat ingin untuk mendekatimu, tapi kamu yang  jauh-jauh dari dari-Ku”.

Diceritakan pula bahwa Nabi Musa A. S pernah berdoa kepada Allah: “Ya Allah, janganlah hendaknya ada lagi orang yang mencaci makiku dan janganlah ada lagi orang memfitnahku”. Mendengar doa Nabi Musa yang demikian itu, maka Allah berfirman: “Wahai Musa jika itu doa yang kamu minta kepada-Ku, berarti kamu lebih hebat dari diri-Ku, buat pengetahuanmu wahai Musa, Aku ini Tuhan Zat Maha Pencipta serta Maha Pemurah, dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahimku berbagai nikmat yang telah Aku anugerahkan kepada manusia, walaupun demikian, mereka tetap mencaci maki-Ku dengan mengatakan Aku tidak adil dan sebagainya.

Demikianlah firah atau sifat kesucian yang dimiliki oleh Allah, yang jika kita berhasil meniru atau menyerapnya dan mempraktekkan dalam kehidupan, maka barulah kita menjadi umat yang memberi rahmat bagi sekalian alam. Umat yang saling mengasihi, mau berbagi dan penuh rasa peduli. Umat yang tidak tega menyaksikan, di sebelah rumahnya atau tetangganya bermandikan air mata karena derita,sementara di sebelahnya lagi atau di rumahnya sendiri penghuninya berdisko dan berdansa.

Jika  sifat positif ini telah mendarah daging dalam diri setiap pribadi kita, maka barulah sejalan dengan sebuah judul buku yang ditulis oleh Ahmad Rifa’i Rifan : “hidup sekali, berarti, lalu mati”.

Kekacauan yang terjadi dan hiruk pikuk di sana sini, tidak lain adalah karena mulai terkikisnya rasa kasih  sayang atau cinta di antara sesama kita, sehingga Islam selaku agama yang kita anut, yang artinya selamat dan harus menyelamatkan, hanya berada pada dataran formalitas, belum menjelma dalam bentuk aktifitas yang berkualitas. Masih melangit dan belum membumi. Kita tidak menyadari bahawa dahulu asal kita satu, lalu menjadi banyak, kemudian kembali kepada yang satu. Kita juga terlupa, bahawa syurga yang diciptakan Allah tidak enak jika ditempati sendirian, melainkan Allah menyuruh kita untuk masuk ke dalamnya secara berjemaah.

Sepetutnya kita harus lebih banyak menyerap atau meniru sifat-sifat ketuhanan, sehingga kita menjadi umat yang saling asah, saling asih dan saling asuh, akan tetapi dalam perjalanan kehidupan ini kita lebih banyak menyerap sifat-sifat kesyaitanan, sehingga kita menjadi umat yang saling gasak, saling gesek dan saling gosok. Kita terlupa akan tujuan dari kehidupan ini, kita juga tidak menyadari, bahw bahtera kehidupan yang sdang kita layari, akan berakhir kepada suatu titik pulau hentian yaitu kematian.

Ternyata dalam pengalaman kehidupan sehari-hari yang kita lihat, kematian itu bukan karena sakit, banyak orang yang sakit di rumah sakit tidak juga mati-mati, kematian bukan karena tua, banyak orang tua yang kita saksikan belum juga mati, kematian itu adalah karena kita hidup, orang yang hidup wajib mati, tidak kira sehat ataupun sakit, tidak kira tua ataupun muda.

Bahkan dalam sebuah perumpaan yang disampaikan oleh Ibn Tufail salah seorang tokoh filosof dalam Islam, dia mengibaratkan kematian itu tidak obahnya persis seperti seorang pemburu dikejar oleh seekor singa yang sangat lapar, si pemburu berusaha berlari menyelamatkan diri, akhirnya dalam pelariannya tersebut dia berhadapan dengan jurang yang sangat dalam, pilih satu anatara dua, terjun ke dalam jurang berarti mati, bertahan di tempat juga akan mati diterkam oleh singa. Dalam keadaan panik dia terlihat sebatang pohon, dengan tidak berpikir panjang, lalu dipanjatnyalah pohon itu. Ternyata sesampai di atas baru dia tahu bahwa pohon yang dipanjatnya itu sudah sangat rapuh, dan di atasnya ada dua ekor tikus yang satu warnanya hitam sedang yang satunya lagi berwarna putih lalu mengerip pohon kayu tersebut.

Orang bertanya: “siapakah singa dan dua ekor tikus itu wahai Ibn Tufail?. Kata beliau, singa diibaratkan seperti malaikat maut yang setiap hari mengintai umur kita, sedangkan tikus yang berwarna putih ibarat hari siang dan tikus berwarna hitam ibarat hari malam. Pertukaran malam dan siang, siang dan malam akhirnya menghabisi umur kita, diujung-ujungnya kita pasti berhadapan dengan kematian.

Hadirin yang berbahagia

Hidup ini adalah cerita pendek, dari tanah, di atas tanah dan bakal kembali ke dalam tanah.

Bagi kita yang sudah kembali kepada fitrah, kematian adalah suatu impian dan peristiwa yang sangat menyenangkan, kita harus menyadari, bahwa kita bukanlah penduduk asli bumi ini, asal kita adalah syurga, tempat di mana nenek moyang kita Adam dan Hawa tinggal pertama kali di sana. Kita tinggal di sini hanya utk sementara, untuk mengikuti ujian lalu segera kembali.

Buya Hamka ketika berbicara tentang kematian berpendapat; orang yg takut menghadapi kematian adalah orang yang tidak tahu akan hakikat mati, dulu selama sembilan bulan kita berada dalam kandungan ibu, kita sudah merasa enak dan betah di sana dan kita beranggapan alam perut ibulah alam yang paling luas, sehingga enggan untuk kita berpisah dengannya dan beranggapan alam dunia tempat kita bakal dilahirkan adalah alam yg paling sempit,sehingga ketika kita lahir hampir semuanya kita menangis, tetapi tangisan kita hanya seketika, ternyata setelah kita dilahirkan, dunia yg kita takutkan sekian kali lebih besar ketimbang alam perut ibu kita. Setelah kita dilahirkan ke dunia ini saya yakin tidak seorangpun di antara kita yang mau dimasukkan ke dalam perut ibu kembali.

Sekian lama pula kita berada dalam alam kandungan dunia, sudah betah pula berada di dalamnya dan sangat enggan utk berpisah dengannya. Karena tidak lama lagi kita bakal dilahirkan kembali menuju alam berikutnya, yaitu alam kandundungan barzah. Yakinlah, bagi kita yang sudah kembali kepada fitrah dan tetap mempertahankan kefitrahan kita itu, alam barzah adalah sesuatu yang sangat indah, setelah terlahir ke sana pasti kita tidak mau kembali lagi ke dunia. Justru itu, bagi orang-orang yang mati dalam keadaan beriman, ungkapan kematian yang ditujukan kepadanya lebih cocok diganti dengan kelahiran kembali ke alam yang baru, kata-kata selamat menempuh hidup baru semoga berbahagia yang selama ini hanya kita tujukan kepada orang yang baru berumahtanga, padahal kata-kata itu juga sangat sesuai atau cocok jika ditujukan kepada mereka.

Dulu kita pernah bersama Allah, kemudian berpisah dengannya dan sekarang dalam perjalanan untuk kembali menuju Allah. Allah hanya akan menerima hamba-hamba-Nya yang sudah kembali kepada Fitrah, dan tetap mempertahankan kefitrahannya, sampai ajal menjemputnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: