Harlah ke-8 TEKAD : Hidupkan Seni Berorganisasi

Minggu, 17 Desember 2017

Malang – Kala banyak mahasiswa mulai tak sabar pergi berlibur, entah pulang kampung atau menjadi bolang dadakan, sahabat-sahabati Rayon Al-Adawiyah tampak masih bersemangat menghidupkan nafas kegiatan rayon. Selama dua malam kemarin, yakni malam Minggu dan malam Senin (16-17/12) Rayon Adawiyah memperingati Hari Lahir TEKAD (Teater Khas Adawiyah) ke-8. Acara pada malam pertama berupa doa bersama atau istighitsah yang diakhiri dengan makan tumpeng bersama. Kegiatan ini diadakan di gedung B lantai 2 pada pukul 20.00 WIB. Selain dihadiri anggota baru atau angkatan 2017 dan para pengurus angkatan 2015 dan 2016, acara ini juga dihadiri sahabat-sahabati angkatan 2014 hingga 2012. Istighotsah yang dipimpin oleh sahabat Aji kali ini, dibacakan dengan harapan agar TEKAD dan PMII terkhusus Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah semakin hari semakin lebih baik lagi. Tak lupa pula agar kader-kadernya mampu berproses lebih jauh lagi, hingga akhirnya nanti bisa menjadi insan yang bermanfaat bagi masyarakat, agama dan bangsa.

Kegiatan selanjutnya pada malam kedua adalah penampilan-penampilan seni dari sahabat-sahabati Adawiyah. Acara tersebut dilaksanakan di gedung B lantai 1 mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB. Beberapa sahabat, seperti sahabat Rijal Alami membawakan mars TEKAD dan  lagu-lagu lainnya yang diiringi dentingan gitar yang merdu. Masih ditemani alunan gitar oleh sahabat Panji dan Iqbal, sahabati Adhara membacakan salah satu puisi dan refleksi sejenak. Diterangi lilin-lilin dalam kegelapan, suara sahabat Rijal “gondrong” saat membawakan lagu milik Iksan Skuter berjudul  “Bangsa Penakluk”  mampu memecah kebekuan hati dan menghanyutkan suasana. Selanjutnya, penampilan terakhir adalah dari sahabat Mohan yang menyanyikan mars TEKAD dan lagu “Di Udara” milik Efek Rumah Kaca yang diiringi musik gitar oleh sabahat Rois.

Peringatan hari lahirnya TEKAD ini diadakan bukan tanpa maksud. Acara ini mengingatkan kita bahwa seni itu penting. Berorganisasi bukan hanya soal pergerakan, administrasi, kebijakan, rapat dan sebagainya. Berorganisasi juga memerlukan seni, yakni seni berorganisasi. Hal itu diungkapkan sahabat Rijal “gondrong” saat menutup acara. “TEKAD adalah ruh dari Adawiyah”, tambahnya yang mengutip dari perkataan salah satu warga Adawiyah.

TEKAD merupakan wadah mengekspresikan bakat teater dari sahabat-sahabati. Selain mampu berorganisasi yang baik, sahabat-sahabati Adawiyah juga mampu beradu akting di atas panggung. Seperti yang dilakukan sahabat Aji dan kawan-kawan kemarin saat acara Malam Puncak Psychofunday (9/12). Sahabat Aji dan kawan-kawan membawakan cerita tentang Ande-Ande Lumut. Hal ini menunjukkan bahwa TEKAD tetap ada, tak mati walau telah 8 tahun mengiringi perjalanan Adawiyah mengantarkan kader-kadernya menjadi manusia yang bermanfaat.

 

Penulis : Yuni Hadziqoh, LSO Jurnalistik PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: