Melangkah Menuju PMII

DSC01702

Siang itu Pertama kali kami melangkahkan kaki menuju PMII. Beberapa orang merasa sangat semangat dan beberapa lagi hanya tersenyum dan tersimpu sambil memantapkan niat. Berbekal keyakinan kami mulai berjalan bersama.

Tidak banyak yang kami ketahui tentang PMII, namun bercermin dari kakak-kakak dan juga sahabat sahabati yang lain PMII adalah organisasi yang menarik. Masa penerimaan anggota baru merupakan acara pertama kami. Tepatnya pada bulan Oktober 2015. Dalam acara tersebut beberapa dari kita di suguhi pertanyaan-pertanyaan,

“Lapo Kon kok Melu PMII?”

” Aku pengen dadi pengusaha mas”

“La rumangsamu PMII Iki perusahaan e bapak mu a?”

“Lek Kon Lapo kok melebu PMII?”

“Aku pengen nambah konco mas”

“Iyo lek di konfirmasi pertemanan mu la nek ora?”

Kon Lapo ?”

“Aku pengen berproses mas”.

“Proses-proses tok, hasil e ora onok”.

Berbagai proyeksi tematik muncul di benak kami. Sebelum masuk ke dalam organisasi ini, banyak “ocehan-ocehan” yang seakan melarang kami tercebur dalam ancaman. Ancaman seperti apa itu? , Beredar kabar bahwa mahasiswa yang mengikuti organisasi PMII adalah orang yang di musuhi dosen, melawan dosen, tidak pernah kuliah hingga molor lulusnya, IPK jelek dan lain sebagainya. Akan tetapi kami memberanikan diri mencoba mencicipi ancaman tersebut.

Waktu berlalu dan kami mulai berkenalan dengan PMII. Ternyata, banyak hal yang kami ketahui. Beberapa dari tokoh-tokoh besar lahir dari organisasi ini. Akan tetapi disisi lain ancaman-ancaman itu mulai terasa. Banyak anggapan bahwa anak-anak PMII terlalu “kiri” dalam hal akademik. Seleksi alam pun terjadi.

Beberapa sahabat-sahabati mulai menjauh dan memundurkan langkah dari bendera kuning biru. Kekhawatiran akan ancaman mereka memenuhi hati ada lagi yang terhalang oleh masalah lingkungan keluarga, tugas akademik yang berbelit-belit, ruang dan waktu yang seakan menjadi kurang pemisah kami dan PMII. Akan tetapi satu yang kami yakini bahwa ikatan sahabat dan sahabati itu tak pernah terikat keresahan. Kami yakin bahwa pertemuan kami adalah rencana Tuhan yang paling indah, yang kelak akan menghantarkan kami ke tempat tertinggi disisi-Nya.

Jika prinsip Humanisme mengatakan bahwa manusia itu bebas, akan tetapi bertanggung jawab akan kebebasannya maka itu pula yang kami terapkan kepada keadaan ini. Beberapa jalan yang di pilih oleh sahabat sahabati adalah pilihan mereka. Kami tetap sahabat dalam tangisan, senyuman maupun marahan.

Kapal organisasi terus berlayar, dengan nahkoda baru, navigator baru dan kru-kru yang baru. Sebuah kapal tua yang di makan oleh zaman, akan tetapi dengan kekompakan orang orang didalamnya tidak akan hancur di terjang ombak dan badai yang menunggu.

Kami masih merajut asa untuk memenuhi harapan kami. Tidak akan gentar mesti waktu menghadang. Menuju harapan-harapan bisu , meraih bintang yang tertinggi.

Setegar batu karang, seluas langit biru karena kami “sang penakluk”.

 

Malang, 10 Februari 2017.

Oleh: Iqbal Nur Huda

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: