Kutunggu Pulangmu

siluet-orang-laki-merenung-soreKetika komitmen menjadi barang mahal. Ketika kebersamaan teramat sulit dirasakan, ego siapa yang sedang kita menangkan?

Hujan disenja kedua februari terasa dingin, gigil terdensi bias, ada redup amygdala di temaram durja. Tunggu sebentar, apa ini yang dinmakan diperanak jarak atau waktukah yang terlibat?

Merindukanmu membutku mengekspresikan kelemahan, kesepian, kesendirian, dengan berbagai cara. Aku jatuh, lalu bangkit seribu langkah kembali.

Dimatamu sahabat

Seluruh sendu berpadu satu. Ada kabut di pelupuknya, ada senja yang kentara, dan percaya menjadi abu. Mungkin karena rinduku yng membatu pada suaramu

Sahabat,

Ia adalah perjalanan dalam pekerjaan paling agung, memberi, memperhatikan, dan menumbuhkan.

Baru sadar, ternyata belum sempat mewujudkan mimpi mimpi mu terdahulu, sekarang masih terbengkalai begitu saja. Percayalah kita belum punah. Hati kita sedang sama yakinnya, jangan menangis, kau bahkan sudah tau semesta merestui kita.

Hanya saja saat ini menunggu kepulanganmu serasa mustahil. Kelengkapanmu yang selama ini kutunggu, ia seperti permadani yang tak dapat kulipat agar rekat tanpa sekat.

Hanya saja aku sekarang disesaki rindu yang entah akan kepulanganmu, sahabat…

Hati-hati lah dalam perjalananmu, meski perjalananku kini tak menjadi perjalananmu. Karena sahabat adalah kepulangan bukan kepergian

Karya : Amelia Cahyani (Adawiyah’15)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: