PEMIMPIN KAMI, DENGARKANLAH !

ilustasi-tokoh-politikSudah lama bangsa ini tenggelam dalam kelamnya kebodohan, kemunafikan dan kebengisan pemimpin-pemimpin bangsa ini. Pemimpin yang seharusnya memimpin, sekarang tak merasa bahwa mereka adalah pemimpin. Pemimpin yang merasa dirinya seorang pemimpin, malah keasyikan dengan jabatan pemimpin yang melekat pada diri mereka. Dan pemimpin yang tengah keasyikan dan tergila-gila pada jabatannya itu, selalu melihat siapa yang diatasnya bukan melihat siapa yang dibawahnya. Sungguh ironi pemimpin bangsa kita ini, sahabat.

Sudah lama bangsa ini terpuruk dalam gemerlapnya dunia modern. Di tengah majunya teknologi dan informasi yang makin menjadi-jadi, pemimpin bangsa ini bukan semakin pintar malah semakin bodoh dengan tingkahnya yang juga bodoh sebodoh-bodohnya manusia. Buktinya, jika mereka pintar seharusnya rupiah tak jatuh menjadi Rp 15.000,00/dolar. Mereka tak membenahi apa yang seharunya dibenahi dengan kemajuan teknologi, malah membuat masalah baru dengan teknologi-teknologi yang semakin baru. Sungguh mirisnya melihat pemimpin bangsa ini, sahabat. Continue reading

Advertisements

Mengapa Harus PMII??? (2)

IMG_20150914_130514Ya, mungkin pertanyaan ini lah yang pertama kali muncul di benak teman-teman ketika ada seorang Sahabat yang mengajak untuk bergabung dengan PMII melalui kegiatan MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru). Ini hal yang lumrah. Saya pun ketika diajak untuk mengikuti MAPABA, pertanyaan itulah yang pertama kali saya lontarkan. Saya yang kala itu telah lebih dulu bergabung dengan organisasi ekstra lain tidak serta merta mengiyakan ajakan tersebut, dan berbagai pertanyaan lain pun menyusul. Tulisan ini saya buat untuk membantu teman-teman menemukan jawaban “Mengapa harus PMII?”.

PMII yang merupakan singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia seperti halnya organisasi-organisasi ekstra lainnya merupakan suatu wadah pembelajaran nyata layaknya laboratorium sosial yang menawarkan sentuhan langsung pada masyarakat. Salah satu hal yang membedakan PMII dengan organisasi ekstra lainnya adalah paradigma PMII, yaitu paradigma kritis – transformatif. Hal ini meliputi penegakkan harkat dan martabat kemanusiaan dari berbagai belenggu yang diakibatkan oleh proses sosial yang bersifat profan, tegas dalam melawan segala bentuk dominasi dan penindasan, serta membuka tabir dan selubung pengetahuan yang munafik dan hegemonic. Pokok-pokok pikiran inilah yang dapat diterima sebagai titik pijak paradigma kritis di kalangan warga PMII. Continue reading

CECUNGUK YANG COBA MELAWAN

10329172_759126934118137_3191452876674932502_nBy: A Nazaruddin Faiz

Ahhh… Masih seperti dulu.
Tanpa perubahan
Tanpa perkembangan
Dan tetap berhenti dalam satu titik
Disini siapa aku … ???
Aku hanya cecungguk. Yang harus tunduk.
Tunduk dg sisitem…. Bahkan dalam budayapun aku masih tertunduk.
Apakah aku masih jalan ditempat… ???
Ahhh…. Perasaan tidak kok.
Aku sudah berusaha..
Aku juga mencoba berjuang..
Tapi aku ini siapa ??? hah… Cecunguk. haha
Aku bingung. Bingung dan kebingungan
Sekarang aku bahkan tak mampu berjalan
Masih kebingungan. Bingung…
Ahhh. Persetan dengan perubahan
Budaya memerintah dan tunduk
Kapan itu hilang….
Mungkin mustahil….
Bahkan Sudah mengakar…
Samapai kapan kita seperti ini .
Hidup dalam sebuah jeruji..
Tanpa kita tau kemana arah tujuan kita.
Kita dididik untuk bingung mencari tujuan hidup…
Kebebasan mungkin sedikit lagi akan punah
Dan mungkinn juga akan menjadi mitos…
Arti kebabasan, makna sebuah kebebasan
Semua sudah mulai dihilangkan..
Aku sudah berjuang untuk sadar
Sadar diri . bahwa itu salah..
Aku harus melawann.
Aku tak boleh diam.
Tapiiiii….. Siapa aku ????
Aku tak mampu bergerak.
Aku harus tunduk.
Dan menangisi ketundukanku….
Duduk diam kebingungan menangisi sebuah ceritaku….

Pelangi 14

11412164_1005090129530747_1745984920816681923_n“Kau tahu Jack, pelangi itu indah bukan ?”
Pertanyaan itu selalu terngiang di kepala Jack ketika ia mau memejamkan matanya untuk tidur. Ia benar-benar selalu merindukan masa-masa itu. Masa ketika ia benar-benar tak bisa membedakan baik dan buruk karena tenggelam dalam keindahan persahabatan. Ia hanya tersenyum dan kadang tertawa jika ingatannya mengembalikan ia di waktu itu.
“kau tahu Jack, Pelangi itu indah bukan ?” …. “ Aku tak tahu Queen”. Jack berusaha menyembunyikan jawabannya. Dan si Queen memang tahu, Jack selalu ingin mendengar jawaban Queen lebih dulu. “Kau benar-benar tak tahu Jack ?”, Queen berpura-pura tak tahu kebiasan Jack. “baiklah, tapi boleh aku berbincang tentang pelangi itu Jack ??. “ Ah, iya. Boleh-boleh, seperti apa memang ?? Tanya Jack bersemangat. “ Pelangi selalu muncul ketika sinar matahari menerobos masuk ke setiap tetes air hujan, dimana ada kombinasi antara cahaya dan air yang memunculkan warna-warna indah itu. Kau tahu Jack ? aku selalu menikmati ini. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku begitu hanyut dalam warna-warni itu, warna itu … . ‘’. Tiba-tiba Queen berhenti bicara. Matanya terlihat berkunang, seperti ingin menangis tapi bibirnya terlihat ingin menyungging pertanda ingin senyum. “.… warna itu, aku menginginkannya Jack. Kau lihat kan ?? setiap warnanya melengkapi, berkolaborasi, penuh inspirasi, dan … fantastis.” Dan Queen beranjak dari tempatnya, seakan ingin meraih warna pelanginya.
“Hahahahaha,!!!” terpingkal-pingkal Jack mendengarnya, karena baru kali ini ia mendengar Queen berbicara dengan gaya setengah puitis sepeti itu. “ tumben sekali kau Queen ?? bicara seperti penyair saja kau ini’’. “ Ah, terserah kau saja Jack ! aku tak peduli !”. “dan kau sendiri gimana Jack ??”.
“Aku tak tertarik dengan pelangimu. Aku hanya ingin melihat pelangi di langit malam , pelangimu sudah banyak pengagumnya. Dan kau pasti mengira aku sedang bercanda. Aku benar-benar ingin melihatnya. Meski orang akan menertawaiku dan akan bilang, “ Bodoh, mana ada pelangi di Malam hari ? dasar gila !!”. Queen, dalam benakku sekarang, pelangi yang kau sebut tadi hanya pelangi khayalmu, pelangi yang hanya menyihir setiap mata yang ingin menikmati keindahan semu !!! meraihnya saja kau tak kan bias. Queen … bagiku, Pelangiku itu adalah sahabat-sahabatku, yang melengkapi diriku. Dan sekarang mereka hidup disekitarku, nyata ! tak khayal ! karena bagiku, hakikat pelangi adalah manifestasi keindahan yang benar-benar bisa kau rasakan. Ahh, hahahahahaha … dan aku tak peduli kata orang tentang pelangiku.” Jack tertawa lepas setelah menjawabnya.
Queen ikut tertawa dalam hangat canda Jack. Queen hanya bisa menjawab dalam hatinya. “Kau masih seperti biasa Jack. Kau selalu bangga dengan pelangimu. Kau benar-benar gila. Nikmatilah Jack, mengalirlah dengan warna-warnamu sampai muara yang kau rindukan bersama mereka”.
_ Gubuk sederhana, 10 10 2015_ secangkir kopi bersama sahabat