REFLEKSI DIRI DI HARI SUMPAH PEMUDA

IMG_2274Malang – Di depan gedung megawati UIN Maliki Malang, ditemani oleh terangnya bulan dan gemerlapnya bintang-bintang serta dihadiri oleh segenap Pengurus dan Anggota Baru PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah, Rabu (28/10) diperingati dan dirayakanlah Hari Sumpah Pemuda ke-87 dengan agenda  REFLEKSI DIRI SEBAGAI SEORANG PEMUDA INDONESIA. Continue reading

Advertisements

Kesekian Kalinya ! Masihkah Sekedar “INGAT” ??

sumpah_pemuda_by_wisesa-d5j8rmlBangsa ini tidak bodoh, bangsa ini tidak buta, hanya saja mereka pura-pura bodoh dan lupa dengan sesuatu yang telah menjadi cita-cita kemerdekaan orang-orang besar di jaman penjajahan dahulu. Waktu bisa  saja sudah terlalu jauh, namun haruskah hanya sekedar “INGAT” ??

  • KAMI PUTERA-PUTERI INDONESIA, MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH AIR INDONESIA
  • KAMI PUTERA-PUTERI INDONESIA, MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA
  • KAMI PUTERA-PUTERI INDONESIA, MENJUNJUNG TINGGI BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Continue reading

ETIKA DAN PENGEMBANGAN KEPRIBDIAN (Sebuah Renungan Ulang) Oleh: Diyah*

Mendiskusikan etika, jadi teringat dengan kuliah Filsafat Manusia yang substansinya membahas tentang bagaimana seharusnya manusia atau bersifat teleologis. Bagaimana seharusnya manusia yang dikonstruksi dalam konsepsi ideal tentang manusia itu sendiri. perubahan-kepribadian-ilustrasi-_120421104543-298Misalnya, rumusan Kant tentang manusia yang terbelah menjadi dua sisi, yakni sisi imanen dan sisi transenden. Pada sisi imanen, manusia digambarkan oleh Kant sebagai sisi yang memuat potensi hewaniah pada manusia. Misalnya ‘jika aku lapar dan di depanku ada makanan, maka sisi imanen mengerakkan aku untuk memakannya’. Berbeda dengan sisi transenden yang mempertanyakan keberadaan makanan tersebut dikarenakan makanan tersebut sesungguhnya bukan milikku, sehingga aku tidak berhak untuk memakannya. Singkatnya, sisi transenden itulah yang memuat nilai moral (baik/buruk, benar/salah) yang bersifat universal. Sayangnya, Kant tidak luput oleh kritik filosof setelahnya, misalnya dalam filsafat dekonstruksinya Derrida yang menelanjangi determinasi konsep moral tersebut. Nilai moral baik tidak akan pernah hadir jika tidak menghadirkan juga nilai moral buruk. Atau, sesuatu tidak akan terdefinisikan benar jika tidak ada yang terdefinisikan salah.

Akan tetapi, saya tidak sedang bermaksud untuk menulis review mata kuliah filsafat manusia. Tulisan ini dibuat sebagai hasil renungan setelah membaca tulisan yang terhormat Bapak Wakil Dekan III Fakultas Psikologi, Moh. Mahpur yang berjudul Etika dan Pengembangan Kepribadian. Tulisan ini meruapakan hasil renungan tersebut yang kemudian saya beri judul yang sama.  Harus saya akui, tulisannya enak dibaca, mengalur dan mengalir, tapi terlihat hati-hati yang mungkin selaras dengan gaya keseharian beliau. Pesan yang disampaikannya pun saya kira sangat baik dan sangat mudah dipahami. Tentu saja, dalam setiap kelompok sosial atau masayarakat memiliki nilia-nilai tertentu yang harus ditaati oleh anggotanya yang kemudian disebut sebagai etika, tidak terkecuali masyarakat kampus UIN malang yang kita cintai ini.

Continue reading

TERSADAR ITU SALAHKU, SAHABAT !

IMG_1799(Berjalan dalam kesendirian)
Kala mencari sebuah kebenaran dalam diri, ku tak temukan secercah cahaya harapan yang membimbingku berjalan beriringan bersama sahabat sejatiku. Entahlah…mungkin karena aku yang berbeda atau mereka yang menganggapku beda. Bukannya aku ingin berbeda dalam sebuah kebersamaan ini, sahabat ku ! Aku tetaplah aku yang selalu bersamamu…
Aku tak ingin kau anggap aku berbeda, wahai sahabat !
Mencari dan terus mencari, yang akhirnya menuju pada kata “TERBENTUK” pada diri yang sejatinya ku ingin “MEMBENTUK” diri. Tetap ku berjalan…berjalan…dan berjalan sahabat ! Baiklah, walaupun engkau tak melihat bahwa aku berjalan untuk “MEMBENTUK” diri namun setidaknya engkau melihat cara diriku “MEMBENTUK” diri. Aku tetaplah aku yang “MEMBENTUK” bersamamu…
Aku ingin cara “MEMBENTUK” ku engkau lihat, wahai sahabat !

Continue reading