GENDER IS TOO SEXIST TODAY

Oleh : Naila Kamaliya https://m.facebook.com/naila.kamaliya
Dunia adalah panggung kausalitas manusia dimana peran manusia sangat bersinergi dengan alam, Tuhan, dan sesamanya . Sesama manusia tak lagi sama sekarang, dominasi laki – laki dan penyetaraan perempuan dengan penindasan menjadi keprihatinan dalam pemahaman peran  gender yang sebenarnya. Gender merupakan peran atau tanggung jawab antara perempuan dan laki – laki yang diciptakan oleh lingkungan atau hasil dari konstruksi sosial dan budaya, hal ini membuat gender memiliki peran yang dinamis dan selalu berdampingan dengan perkembangan zaman.  Peran gender dengan kodrat manusia tidaklah sama, kodrat merupakan pemberian Tuhan kepada perempuan maupun laki – laki yang sifatnya tidak dapat dipindah tangankan. Perempuan memiliki kodratnya tersendiri  begitu juga dengan laki – laki kodrat perempuan adalah hamil, melahirkan, menyusui, menstruasi, memiliki sel telur dll. Sedangkan kodrat laki – laki adalah memiliki sperma, testis, dll. Sedangkan peran gender adalah tanggung jawab yang bisa dilakukan oleh laki – laki maupun perempuan. Sampai saat ini masyarakat Indonesia masih menafikkan peran gender yang sebenarnya, mereka beranggapan bahwa laki – laki adalah tonggak keberhasilah sebuah sistem dan perempuan Indonesia –pun masih ada yang mengaku bahwa kodrat dia dilahirkan adalah untuk memasak, mengasuh anak, dan hal – hal lain yang hanya melibatkan dirinya diwilayah domestik. Patriarkisme tersebut terjadi karena terjangan konstruksi sosial dan budaya telah membentuk pikiran perempuan Indonesia sehingga mind set perempuan Indonsesia hingga saat ini masih terlalu sexist.

Seringkali perempuan diidentikkan dengan mengasuh anak, memasak, menyapu, dan hal – hal lain yang dilakukan diwilayah domestik, hal tersebut bukanlah kodrat melainkan peran gender yang dapat ditangani oleh perempuan dan laki – laki terlepas dari kodrat mereka  sesungguhnya. Menurut Oakley menjadi Ibu bukanlah kodrat perempuan namun menjadi Ibu adalah serangkaian sosialisasi yang diterima oleh anak – anak perempuan, hingga kini masih banyak media yang menayangkan perempuan – perempuan Indonesia dengan segenap ke-sexis- annya, tak heran jika hegemoni tersebut melekat pada konstruksi pikiran perempuan – perempuan Indonesia hingga saat ini, penegakkan hak asasai manusia dan hak asasi perempuan tak akan mencapai ekspektasi jika keadilan dan kesetaraan gender tidak bisa diwujudkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: