Pentingnya Mengenal Jati Diri

By: Rohman Afandi

Sang mentari mulai membenamkan dirinya, langit mulai berubah warna. Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Aku perhatikan ke sekeliling tempat tidurku, sepi dan gelap. Lentera yang biasa menerangi kamarku kini telah redup, hingga akhirnya mati. Aku bangkit dan menyalakan lilin, ku terdiam sejenak memperhatikan lilin yang makin terang. Namun, semakin terang semakin pula lilin itu habis terbakar.

Aku membuka pintu kamar, cahaya dari lentera luar menembus kegelapan di dalam kamarku. Ku berjalan menuju kran di depan rumah, air mengucur dengan keras membasahi wajahku yang setengah redup. Kesegaran dari dinginnya air malam itu membuat kulitku merinding. Angin pun bertiup kencang, seakan-akan mengikrarkan kesepian di tengah-tengah kesendirian.

Selangkah demi selangkah ku langkahkan kaki menuju rumah tuhan, untuk menunaikan kewajiban. Hanya dengan suara-suara tartil ayat suci al-qur’an aku mencoba menenangkan hati. Meleburkan setiap masalah yang mengintai di keseharianku. Aku tersadar akan pentingnya sebuah perubahan. Perubahan kecil yang akan membawa pada perubahan yang besar. Yaa, dari diriku terlebih dahulu. Aku mulai mencoba mengenali jati diriku, namun entah apa yang terjadi, aku tak dapat menemukannya.

Haruskah aku belajar dari lilin yang selalu membakar dirinya hanya untuk menerangi yang ada di sekitarknya? Atau dari lentera yang kini cahayanya mulai redup dimakan usia? Aku kembali tertantang oleh fikiranku sendiri. Aku kembali dihadapkan pada permasalahan yang muncul dari dalam diriku sendiri. Perlukah aku cari atau aku abaikan? Langit tak mampu menjawab permasalahan dalam diriku, dan bumi pun enggan untuk mendengarnya.

Lantas, apakah aku harus diam saja meratapi permasalahan jati diriku? Bagaimana pun caranya aku harus menemukan jati diriku yang sebenaranya. Aku mulai belajar dari fenomena-fenomena yang terjadi setiap hari, dari siang dan malam yang selalu bergantian. Matahari, pelajaran apa yang bisa aku dapatkan dari matahari terkait dengan permasalahanku? Langit, bagaimana aku menghubungkannya dengan diriku? Awan, apakah aku pantas menyamakan diriku dengan awan? Bulan, bintang, bumi, dan semua yang terlibat dalam kehidupan sehari-hari. Mampukah aku mempelajari dengan detail diriku dari hal-hal itu? lagi-lagi aku hanya mampu bertanya pada diriku sendiri, iya… pada diriku sendiri.

Dan ternyata… dari matahari aku menemukan sedikit kecerahan. Aku yakin matahari akan terus bersinar walau awan mendung menutupinya. Aku ingin belajar dari matahari dalam setiap permasalahan. Langit, langit akan selalu ada walau kadang badai dan topan menyelimutinya. Aku yakin langit mengajarkanku tentang kebebasan. Awan? Apakah aku mampu membandingkannya atau menyamakannya dengan jati diriku yang hingga saat ini belum aku temukan. Dari awan aku hanya bisa belajar akan pentingnya kejujuran, entah dengan apa aku menafsirkannya. Terus, bagaimana dengan bulan, bintang, dan bumi? Bulan selalu setia mendampingi bumi, dan bintang selalu ada walau kadang aku tak dapat melihatnya.

Hidup menghadapkanku pada permasalahan dari dalam diriku. Aku yakin tuhan menyuruhku untuk terus berfikir. Apa mungkin semua yang terjadi pada kehidupan manusia adalah takdir dari tuhan? Atau mungkin malah manusia sendiri yang menakdirkan semua ini terjadi pada hidupnya?.

Dan akhirnya aku temukan sesuatu yang aku cari-cari, ternyata bagiku, jati diriku ada pada semua karya dan tulisanku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: