Tuhan Pun Menyuruhku Untuk Berfikir

By: Rohman Afandi

Sore hari aku berjalan menyusuri lebatnya belantara, hingga suatu ketika di tengah perjalanan aku bertemu dengan seorang pertapa tua. Beliau berkata “tidak usah lah kamu mencari sesuatu yang tidak perlu kamu cari”. Aku hanya terdiam dan berfikir, apa maksud dari petapa tua itu?. Pertapa itu pun langsung pergi entah kemana, sirna begitu saja. Aku terus melanjutkan perjalanan, hingga kembali aku bertemu dengan seorang perempuan dan berkata “tidak ada gunanya kamu terus mencari sesuatu yang tidak perlu kamu cari”. Seperti sebelumnya, perempuan itu langsung pergi entah kemana, enyah begitu saja. Aku semakin penasaran dan berfikir apa yang dimaksud dua orang tadi?. Aku kembali melanjutkan perjalanan tanpa tujuan yang jelas.

Di pertengahan malam, ketika kondisiku berada pada ambang kesadaran terdengar suara pintu diketuk. Aku mencoba bangkit dan membuka pintu. Terlihat seorang kakek tua dengan membawa sebuah lentera mendekatiku. Dia berkata “apa yang kamu cari ada disini” sambil menunjuk ke dadaku. Lalu dia meninggalkanku dan menghilang di tengah-tengah kepekatan malam.

Aku kembali berfikir dan merenungkan setiap perkataan orang-orang yang seharian ini aku temui. Memangnya aku sedang mencari apa? Istri kah? Aku masih muda, harta kah? Aku belum membutuhkannya, atau mencari tuhan kah? Aku semakin tidak mengerti teka-teki ini.  Kembali aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sebelum sang fajar menampakkan dirinya. Lagi-lagi aku dihadapkan dengan teka-teki, seekor burung hantu terbang dan hinggap pas di depanku. Sepertinya sedang terluka, aku mencoba untuk mengobati lukanya dan membalutnya dengan kain bekas di dalam tasku. Akhirnya burung itu bisa terbang lagi, namun dia meninggalkan satu helai bulu yang ujungnya lancip dan tajam. Seperti sebuah pena, aku coba untuk menulis di selembar kain putih, tapi tak dapat ku temukan sesuatu yang bisa digunakan untuk tintanya. Aku melihat ke sekeliling, ada cahaya yang mulai menerangi bumi. Tidak salah lagi, sang fajar sudah muncul untuk menggantikan pekatnya malam.

Aku melanjutkan perjalanan dan menyimpan sehelai bulu tadi, aku berfikir bagaimana aku ada disini? Langit semakin terang, dan benar sang mentari sudah menampakkan wujudnya. Apa maksud tuhan membawaku ke tempat seperti ini? Lagi-lagi tuhan mengujiku dengan teka-teki yang belum dapat aku pecahkan. Hening dalam lamunan, dan tuhan pun membimbingku untuk terus berfikir.

Aku menengadah ke langit yang mulai kebiruan, tiba-tiba dari belakang terdengar suara seseorang. Ternyata seorang gadis desa, dia berkata “berfikirlah seolah-olah yang kamu cari masih mengambang di atas langit itu”. Setelah itu gadis itu pun langsung pergi entah kemana. Batinku makin tertantang untuk terus berfikir dan memecahkan semua teka-teki ini. Aku melanjutkan perjalanan sambil terus berfikir. Setapak demi setapak jalan bebatuan terus aku lalui, bukit demi bukit terus aku daki. Hingga akhirnya langkahku terhenti di depan sebuah air tejun yang cukup tinggi dan deras. Aku putuskan untuk beristirahat sejenak dan mencuci mukaku yang sudah dibasahi oleh keringat. Aku duduk di sebuah batu di pinggir sungai, air mengalir dengan tenang dan jernih. Sampai-sampai hal-hal yang ada dibawahnya tampak terlihat jelas.

Aku lihat ada banyak ikan yang saling berkejaran kesana dan kemari. Aku juga melihat bayanganku di air. Aku melempar sebuah kerikil ke dalam sungai, membuat air bergelombang, namun setelah itu kembali tenang. Aku lempar lagi, bergelombang dan kembali tenang seperti semula.

Sekarang aku mulai mengerti semua teka-teki hidup ini. Aku berfikir dalam keberadaanku, dan aku mencari dalam pencarianku. Apakah tuhan sedang menguji pemikiranku, atau memang tuhan ikut berfikir dalam pemikiranku. Semua teka-teki ini kini satu persatu mulai terpecahkan. Tuhan tidak membawaku kesini, tapi membimbingku. Tuhan tidak serta merta menentukan alur perjalanan hidupku tapi menuntun dan membawaku menjalani setiap alur kehidupanku. Aku berfikir di dalam keberadaan, karena aku ada aku mencari, karena aku mencari aku menjalani, karena aku menjalani aku menemukan, karena aku menemukan maka aku kembali berfikir. Dan tuhan menuntunku untuk terus berfikir akan semua hal yang tampak maupun tidak tampak.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: