Merenung; Menjaga Ketenangan Pikiran Dan Jiwa

By: Fadlur Rahman

Sediakan beberapa menit dalam sehari untuk melakukan perenungan. Lakukanlah di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur. Merenunglah dalam keheningan, jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan kita tidak mencari jawaban, cukup berteman dengan ketenangan maka kita akan mendapatkan kejernihan pikiran. Jawaban berasal dari pikiran kita yang bening. Selama berhari-hari kita disibukkan oleh berbagai macam kesibukan dan pikiran, tugas, keluarga, pacar, dan lain sebagainya. Sadarilah bahwa pikiran kita memerlukan istirahat, dan itu tidak cukup hanya dengan tidur saja, kita perlu tidur dalam keadaan bangun, merenunglah dan dapatkan ketentraman batin.

Pikiran yang digunakan itu bagaikan air sabun yang diaduk dalam sebuah gelas kaca, semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh air tersebut. Semakin cepat kita mengaduk maka semakin kencang pusaran air itu. Merenung adalah menghentikan adukan dan membiarkan air berputar perlahan. Coba perhatikan partikel sabun yang turun satu persatu menyentuh dasar gelas, benar-benar perlahan tanpa suara bahkan kita tak mampu mendengar luruhnya partikel sabun tersebut. Dan kini kita mendapatkan kejernihan air yang tersisa di permukaan. Bukankah air yang jernih mampu meneruskan cahaya, demikian pula dengan pikiran kita yang bening.

Sahabat… Sekarang coba lempar sebutir kerikil ke dalam telaga yang tenang, berpusat dari tempat jatuhnya kerikil itu akan tercipta sebuah riak gelombang yang mengalun ke penjuru telaga. Kini, bisakah kita menghentikan laju riak gelombang itu? Mungkin kita mencoba dengan memasukkan telapak tangan kita kedalam air, atau menghadangnya dengan kedua belah kaki kita, namun yang terjadi adalah semakin banyak riak gelombang baru yang bermunculan. Satu-satunya cara menghentikan laju riak gelombang itu hanyalah dengan membiarkannya berhenti sendiri.

Demikian pula dengan ketenangan dan pikiran, semakin keras kita melakukan sesuatu pada pikiran kita maka semakin sulit kita mencapai ketenangan itu, amati saja, jangan tolak atau menghentikan riak pikiran kita, biarkan pikiran berangsur-angsur tenang. Ketenangan diri dimulai dari ketenangan pikiran; sedangkan ketenangan pikiran bermula dari ketenangan bernafas dan dalam nafas yang tenang akan ditemukan jiwa yang tenang.

Ayo kita merenung, kita rehatkan sejenak pikiran kita karena dengan ketenangan pikiran dan ketenangan jiwa mampu mengalahkan emosi dan hawa nafsu yang sering menguasai pikiran kita. Salam pergerakan..

Memaafkan Dalam Prespektif Psikologi

By: Huda Nur Aziz

Salah satu kekurangan manusia adalah suka berbuat salah dan dosa. Manusia membutuhkan cara untuk menutupi kekurangannya itu, khususnya dosa yang terarah kepada sesama manusia. Saat orang lain berbuat salah dan dosa yang terarah kepada kita, kita diajari untuk memaafkan. Saat kita berbuat salah dan dosa kepada orang lain, kita diajari untuk meminta maaf.

Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kehilangan harta dan jiwa. Namun, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang yang apabila ditimpa musibah mengucapkan β€˜sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) (QS al-Baqarah <2>: 155).

Maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) (al-Ma’idah <5>: 13).

Memaafkan adalah proses untuk menghentikan perasaan dendam, jengkel, atau marah karena merasa disakiti atau didzalimi. Pemaafan (forgiveness) sendiri, menurut ahli psikologi Robert D. Enright (2002), adalah kesediaan seseorang untuk meninggalkan kemarahan, penilaian negatif, dan perilaku acuh-tidak-acuh terhadap orang lain yang telah menyakitinya secara tidak adil. Melengkapi pandangan Enright di atas, Thompson (2005) mendefinisikan pemaafan sebagai upaya untuk menempatkan peristiwa pelanggaran yang dirasakan sedemikian hingga respon seseorang terhadap pelaku, peristiwa, dan akibat dari peristiwa yang dialami diubah dari negatif menjadi netral atau positif.

Memaafkan memang tidak mudah. Butuh proses dan perjuangan untuk melakukannya. Adanya kebaikan bagi diri kita dan bagi orang lain akan menjadikan memaafkan menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan. Seorang ahli psikologi dari Universitas Stanford California, Frederic Luskin (Martin, 2003), pernah melakukan eksperimen memaafkan pada sejumlah orang. Hasil penelitian Luskin menunjukkan bahwa memaafkan akan menjadikan seseorang: (a) Jauh lebih tenang kehidupannya. Mereka juga (b): tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, dan dapat membina hubungan lebih baik dengan sesama. Dan yang pasti, mereka (c) semakin jarang mengalami konflik dengan orang lain.

Para ahli psikologi mempercayai bahwa memaafkan memiliki efek yang sangat positif bagi kesehatan. Pemaafan (forgiveness) merupakan salah satu karakter positif yang membantu individu mencapai tingkatan optimal dalam hal kesehatan fisik, psikologis, dan spiritual. Pada beberapa tahun belakangan, pemaafan semakin populer sebagai psikoterapi atau sebagai suatu cara untuk menerima dan membebaskan emosi negatif seperti marah, depresi, rasa bersalah akibat ketidakadilan, memfasilitasi penyembuhan, perbaikan diri, dan perbaikan hubungan interpersonal dengan berbagai situasi permasalahan (Walton, 2005). Pemaafan selanjutnya secara langsung mempengaruhi ketahanan dan kesehatan fisik dengan mengurangi tingkat permusuhan, meningkatkan sistem kekebalan pada sel dan neuro-endokrin, membebaskan antibodi, dan mempengaruhi proses dalam sistem saraf pusat (Worthington & Scherer, 2004).

Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahla. (QS Ali Imron <3>: 159)

Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah Saw, β€œBarangsiapa pernah melakukan kedzaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia memiliki amal shaleh, akan diambil darinya seukuran kedzalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibenankan kepadanya. (HR Al-Bukhari).

~ Domain intrapersonal (personal): menghapus kebencian dan kedendaman dari kesalahan orang lain yang kita persepsikan telah merugikan, menyakiti atau membahayakan kita.

~ Domain interpersonal (sosial): menghapus tuntutan atas pembalasan atau menghapus tuntutan atas ganti-rugi, baik secara materi atau non-materi.

Psikologi dalam konteks memaafkan

Mekanisme psikis apa yang berlangsung dalam diri orang yang memaafkan? Mengapa memaafkan? Agar dapat memahami makna memaafkan, kita perlu merenungkan situasi hidup tanpa permaafan. Hidup tanpa permaafan melanggengkan derita psikis yang berawal dari sikap permusuhan dan keinginan mengalahkan. Biasanya sikap dan keinginan ini (tanpa disadari) berlatar belakang amarah, suatu emosi yang menghabiskan energi mental dan melanggengkan stres. Dendam, tulis John Monbourquette (2000) dalam How to Forgive, merupakan keadilan instinktual yang mencuat dari alam bawah sadar. Derita menghendaki derita atas nama keadilan instinktual. Akibatnya, kita terikat rantai derita, berbalut kekerasan yang tiada putus. Rantai derita mesti diputus oleh sikap memaafkan. Permaafan menyesatkan Madame Swetchine (penulis Rusia, 1782-1857) mengingatkan, ”Sangat jarang kita memaafkan dan sangat sering kita melupakan.” Ya, kita sering menyalahmaknakan memaafkan dengan melupakan. Kita bersadar diri dan menemukan berbagai kelemahan sendiri seperti rasa malu, kecenderungan agresif, keinginan berbalas dendam, rasa tertelantar, dan keinginan untuk melupakan begitu saja. Sungguh menyakitkan karena pemeriksaan batin menyadarkan kita bahwa ternyata kita tidak jauh berbeda dari orang yang bersalah pada kita. Kata Jacques-Marie Pohier dalam John Monbourquette (2000): ”Karena itu memaafkan itu sulit karena kita takut akan risikonya.”Langkah-langkah memaafkan Dalam Putting Forgiveness into Practice, Doris Donneley (1982) menjabarkan langkah-langkah memaafkan sebagai berikut: mengenali luka batin kita, memutuskan untuk memaafkan, menyadari kesulitan dalam memberi maaf, dan menyadari dampak negatif dari ketiadaan permaafan. Sementara David Norris (1984) dalam Forgiving from the Heart mengusulkan lima langkah: memperteguh niat memaafkan, secara akurat memeriksa kembali pelanggaran (kesalahan) orang yang akan dimaafkan, memaknakan kembali luka batin akibat kesalahan, membina kembali relasi yang terputus, dan mengintegrasikan kembali berbagai retak psikis yang dialami akibat luka batin.

Pentingnya Mengenal Jati Diri

By: Rohman Afandi

Sang mentari mulai membenamkan dirinya, langit mulai berubah warna. Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Aku perhatikan ke sekeliling tempat tidurku, sepi dan gelap. Lentera yang biasa menerangi kamarku kini telah redup, hingga akhirnya mati. Aku bangkit dan menyalakan lilin, ku terdiam sejenak memperhatikan lilin yang makin terang. Namun, semakin terang semakin pula lilin itu habis terbakar.

Aku membuka pintu kamar, cahaya dari lentera luar menembus kegelapan di dalam kamarku. Ku berjalan menuju kran di depan rumah, air mengucur dengan keras membasahi wajahku yang setengah redup. Kesegaran dari dinginnya air malam itu membuat kulitku merinding. Angin pun bertiup kencang, seakan-akan mengikrarkan kesepian di tengah-tengah kesendirian.

Selangkah demi selangkah ku langkahkan kaki menuju rumah tuhan, untuk menunaikan kewajiban. Hanya dengan suara-suara tartil ayat suci al-qur’an aku mencoba menenangkan hati. Meleburkan setiap masalah yang mengintai di keseharianku. Aku tersadar akan pentingnya sebuah perubahan. Perubahan kecil yang akan membawa pada perubahan yang besar. Yaa, dari diriku terlebih dahulu. Aku mulai mencoba mengenali jati diriku, namun entah apa yang terjadi, aku tak dapat menemukannya.

Haruskah aku belajar dari lilin yang selalu membakar dirinya hanya untuk menerangi yang ada di sekitarknya? Atau dari lentera yang kini cahayanya mulai redup dimakan usia? Aku kembali tertantang oleh fikiranku sendiri. Aku kembali dihadapkan pada permasalahan yang muncul dari dalam diriku sendiri. Perlukah aku cari atau aku abaikan? Langit tak mampu menjawab permasalahan dalam diriku, dan bumi pun enggan untuk mendengarnya.

Lantas, apakah aku harus diam saja meratapi permasalahan jati diriku? Bagaimana pun caranya aku harus menemukan jati diriku yang sebenaranya. Aku mulai belajar dari fenomena-fenomena yang terjadi setiap hari, dari siang dan malam yang selalu bergantian. Matahari, pelajaran apa yang bisa aku dapatkan dari matahari terkait dengan permasalahanku? Langit, bagaimana aku menghubungkannya dengan diriku? Awan, apakah aku pantas menyamakan diriku dengan awan? Bulan, bintang, bumi, dan semua yang terlibat dalam kehidupan sehari-hari. Mampukah aku mempelajari dengan detail diriku dari hal-hal itu? lagi-lagi aku hanya mampu bertanya pada diriku sendiri, iya… pada diriku sendiri.

Dan ternyata… dari matahari aku menemukan sedikit kecerahan. Aku yakin matahari akan terus bersinar walau awan mendung menutupinya. Aku ingin belajar dari matahari dalam setiap permasalahan. Langit, langit akan selalu ada walau kadang badai dan topan menyelimutinya. Aku yakin langit mengajarkanku tentang kebebasan. Awan? Apakah aku mampu membandingkannya atau menyamakannya dengan jati diriku yang hingga saat ini belum aku temukan. Dari awan aku hanya bisa belajar akan pentingnya kejujuran, entah dengan apa aku menafsirkannya. Terus, bagaimana dengan bulan, bintang, dan bumi? Bulan selalu setia mendampingi bumi, dan bintang selalu ada walau kadang aku tak dapat melihatnya.

Hidup menghadapkanku pada permasalahan dari dalam diriku. Aku yakin tuhan menyuruhku untuk terus berfikir. Apa mungkin semua yang terjadi pada kehidupan manusia adalah takdir dari tuhan? Atau mungkin malah manusia sendiri yang menakdirkan semua ini terjadi pada hidupnya?.

Dan akhirnya aku temukan sesuatu yang aku cari-cari, ternyata bagiku, jati diriku ada pada semua karya dan tulisanku…

53 Untukmu, Selamanya Untukku

By: Niedha

 

Bersemilah, perisai angkuh nan gagah..

Pangku asa sampai merekah mekar

 

Di tikungan jalan, liku memangsa lemah butamu itu

Tapi bersemilah, bersemilah..

Bukan kau jika tak tebaskan kerah-kerah yang serakah

Bukan pula kau, jika layu, jika kuyu..

 

Bersemilah, bendera kemuning nan suci..

Bila tak jua ada sekat di persimpangan,

Kau pun tau cinta itu bukan pidana

Maka makin dibuktikan, makin tampak saja kekosongan buktinya..

Makin dicari, makin hampa saja rasanya..

Tak usahlah kau meminta …

 

Tak usah lagi mengais-ngais moleknya kuasa

Di kehidupan memang kau mati

Jakal di penghidupan hanya kau yang hidup

Bersemilah, biar bagimu berbilang lima tiga

Bagiku selamanya..