Undangan

assalamualaikumwarohmatullohiwabarokatuh
pemberitahuan pada seluruh sahabat sahabati kader penakluk al adawyiah bahwasanya PMII rayon penakluk al adawiyah mengadakan pelatihan kader dasar / PKD pada tanggal 22 maret 2013 bertempat di tlekung.
dimohon kehadirannya
terima kasih

pm

Manajemen Aksi

I.    PENGERTIAN MANAJEMEN AKSI

Manajemen

Secara umum Manajemen memiliki pengertian pengelola potensi atau isi di dalam sebuah wadah atau komunitas.

 

Aksi

Aksi berasal dari kata “Action” yang bermakna “ Gerak”, Gerakan adalah berpindahnya energi, volume, tempat dan waktu dari kondisi semula menuju kondisi kemudian. Aksi di dalam dunia organisasi pergerakan dapat diterjemahkan sebagai segala pikiran dan perbuatan/tindakan yang mengarah pada capaian-capaian terhadap tujuan perjuangan itu sendiri.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen aksi merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengatur suatu massa aksi agar tetap terkoordinir dan sesuai dengan rencana dan target awal hingga mencapai hasil yang diinginkan.

Aksi umumnya dilatarbelakangi oleh matinya jalur penyampaian aspirasi atau buntunya metode dialog.. Dalam trias politika, aspirasi rakyat diwakili oleh anggota legislatif. Namun dalam kondisi pemerintahan yang korup, para legislator tak dapat memainkan perannya, sehingga rakyat langsung mengambil ‘jalan pintas’ dalam bentuk aksi. Aksi juga dilakukan dalam rangka pembentukan opini atau mencari dukungan publik. Dengan demikian isu yang digulirkan harapannya dapat menjadi snowball.

Salah satu bentuk penyampaian aspirasi kepada pemerintah serta penyampaian pesan kepada masyarakat adalah dengan melakukan aksi massa. Dalam negara yang berdemokrasi, aksi menjadi cara yang dilegalkan, oleh karena itu lembaga pendidikan seperti universitas juga harus berperan sebagai guardian of value dari pemerintah serta masyarakat. Mengapa cara yang dipilih adalah aksi ? karena aksi berdampak pada dua sisi, yakni sisi ketersampaian pesan kepada pihak yang diinginkan serta penyadaran masyarakat atas sebuah isu. Sehingga aksi masih menjadi cara yang relevan untuk dilakukan.

 

II.    ATURAN HUKUM

UU. NO. 9 TAHUN 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Beberapa hal; penting dalam undang-undang ini :

  • Penyampaian pendapat dimuka umum tidak boleh dilaksanakan ditempat tertentu, antara lain Istana Presiden (Radius 100m), tempat ibadah (Radius 150 m), Instalasi militer dan obyek vital nasional (Radius 500 m) dari pagar luar.
  • Dilarang membawa benda-benda yang membahayakan keselamatan umum (Sajam, Molotov, dll)
  • Menyampaikan laporan atau pemberitahuan tertulis kepada pihak kepolisian setempat
  • Surat pemberitahuan memuat tentang tujuan dan maksud aksi, waktu dan acara, rute, jumlah massa, penanggung jawab aksi dimana dalam UU ini 100 massa 1 orang penanggung jawab.

III.  BENTUK DAN SUSUNAN MASSA AKSI

Bentuk Aksi :

Aksi Demonstrasi, Aksi Mogok makan, Aksi Damai, Aksi Mimbar bebas, Aksi Theatrikal, dll

IV.  TAHAPAN AKSI

Dalam melaksanakan aksi, harus mempertimbangkan beberapa hal penting. baik perangkat yang mesti dipersiapkan maupun tahapan-tahapan yang harus dilalui bersama. Aksi memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui, antar lain:

A.      Pra Aksi

1.       Persiapan dan pematangan issue

2.       Menyusun Tim Aksi

Perangkat aksi adalah bagian kerja partisipan massa aksi. Perangkat massa aksi disesuaikan dengan kebutuhan, biasanya diperlukan perangkat sebagai berikut:

Koordinator lapangan.

Korlap bertugas memimpin aksi di lapangan, berhak memberikan instruksi kepada peserta aksi/massa. Keputusan untuk memulai ataupun membubarkan /mengakhiri massa aksi ditentukan oleh korlap.

Orator

Orator adalah orang yang bertugas menyampaikan tuntutan-tuntutan massa aksi dalam bahasa orasi, serta menjadi agitator yang membakar semangat massa.

Humas

Perangkat aksi yang bertugas menyebarkan seluas-luasnya perihal massa aksi kepada pihak-pihak berkepentingan, terutama pers.

Negosiator

Negosiator berfungsi sesuai dengan target dan sasaran aksi. Misalnya pendudukan gedung DPR/DPRD sementara target tersebut tidak dapat tercapai karena dihalangi aparat keamanan, maka negosiator dapat mendatangi komandannya dan melakukan negosiasi agar target aksi dapat tercapai. Karenanya seorang negosiator hendaknya memiliki kemampuan diplomasi.

  1. Kurir (menjembatani komunikasi antara massa aksi dengan massa aksi lain)
  2. Advokasi (memberi perlindungan hukum apabila tjd chaos)
  3. Asisten teritorial/keamanan/sweaper/dinamisator lapangan/intelejen
  4. Logistic dan medical rescue.
  5. Dokumentasi
  6. Tim kreatif
  7. Membuat press release (Berisikan pesan dan tuntutan dari isu yang telah dibahas)
  8. Mengumpulkan massa (estimasi)
  9. Menghubungi media
  10. Mempersiapkan perangkat / kelengkapan aksi

(spanduk, bendera, press release,perangkat dokumentasi, poster, , pengeras suara seperti TOA dan mobil sound system, dan identitas peserta aksi, dan failitas teatrical.)

  1. Skenario dan pembagian peran
  2. Menghubungi pihak kepolisian untuk perizinan

B.      Aksi

Dalam tahapan inilah peran, fungsi dari perangkat aksi diaplikasikan sesuai dengan tugas masing-masing, komunikasi serta koordinasi antar perangkat aksi tidak boleh terputus karena perubahan situasi di lapangan sangatlah cepat, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan dalam suatu aksi dapat dihindari, misalnya : Provokasi, Infiltran, Represif aparat, Chaos.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan aksi yakni :

  1. Membagikan pesan yang telah dibuat, seperti pamflet dan leaflet.
  2. Berorasi dalam perjalanan dan di tempat tujuan akhir, orasi adalah bagian dari penyampaian pesan aksi kepada masyarakat luas.
  3. Yel-yel dan menyanyikan lagu. Sebagai penyemangat massa aksi dan mendominasi/ menguasai suasana/ keadaan (situasi dan kondisi).
  4. Audiensi ke pihak yang dituju, dilakukan oleh perangkat aksi yang telah ditunjuk, negosiator maupun yang jago dalam beraudiensi.
  5. Pembacaan press release. Hal ini biasanya dilakukan pada akhir aksi dan diharapkan dapat diliput media agar pesan yang kita bawa dapat tersampaikan kepada khalayak luas.

C.       Pasca Aksi

  • Absensi, sebagai pemastian terhadap jumlah peserta aksi yang terlibat selama pelaksanan aksi.
  • Evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan dari aksi
  • Rekomendasi, dari hasil-hasil yang telah dicapai melalui aksi dapat dikerangkakan menjadi sebuah masukan untuk gerakan yang akan dilaksanakan selanjutnya.

Peranan kelembagaan organisasi di lingkungan yang dihadapi menjadi mutlak untuk dipersiapkan. Pikiran tanpa praktek hanya akan melahirkan mimpi saja, sedangkan praktek tindakan tanpa pikiran hanya akan melahirkan ugal-ugalan atau anarki gerakan sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Bung Karno bahwa gerakan harus Massa Aksi (Massa yang sadar akan pikiran dan perbuatannya) bukan Aksi Massa (Aksi yang gemerlap tampilannya saja atau hanya ikut-ikutan). Program perjuangan organisasi pergerakan yang dipraktekkan dalam Manajemen Aksi dan Propaganda harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.

“AKSI TANPA TEORI ADALAH ANARKI, TEORI TANPA AKSI ADALAH OMONG KOSONG”

Antropologi Kampus

“Sorang terpelajar harus bersikap adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”
– Pramoedya Ananta Toer –

Kerangka Konseptual
Antropologi secara terminologis (bahasa) berasal dari kata anthropos = manusia, dan logos = ilmu, oleh karenanya Antropologi merupakan suatu ilmu yang jangkauan pembahasannya membicarakan seputar manusia seperti perilaku (behavior), kebudayaan (culture), agama/kepercayaan (religion), bentuk fisik masyarakat (Suku dan ras), bahasa dan aspek-aspek materian maupun non-material lainnya dari manusia

Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Secara garis besar Antropologi bisa dibagi menjadi dua macam. Yang pertama ialah antropologi fisik, yang obyek kajiannya berupa manusia sebagai organisme biologis. Sedangkan kedua ialah antropologi budaya, yang obyek kajiannya terkait manusia sebagai makhluk sosial (ber)budaya.

Sementara itu, kampus sebagai lingkungan akademis terdiri dari berbagai “warna kehidupan”, ada yang berperan sebagai dosen, mahasiswa, karyawan/pegawai. Peran yang paling penting dan merupakan ciri utama universitas (kampus) adalah dosen dan mahasiswa yang merepresentasikan adanya hubungan saling bertukar informasi atau pengetahuan. Sebagaimana mahasiswa secara umum, para dosen pun sejatinya memiliki karakteristik yang jika dipandang dengan kacamata antropologi memiliki beragam karakter dalam menjalankan perannya itu.

Mahasiswa sendiri, sebagai kelompok atau golongan yang berjuang untuk mencapai tujuan masing-masing, sangat menarik menjadi pembahasan, selain adanya proses mencari (search) dan ‘menjadi’ (become), ada pula peran-perannya yang sangat penting dan potensial bagi sekelompok orang. Jika pembicaraan mengenai mahasiswa dirangkum dalam sebuah forum, maka diskusi akan berlangsung panjang, mulai dari definisi hingga konsep tujuan.

Dalam pembahasan mengenai materi antropologi kampus, kita perlu menyesuaikan kondisi manusia dimana kacamata antropologi ini digunakan untuk melihat dan mengenali seluk-beluk manusia. Dalam hal ini tentu sala dalam lingkungan kampus, dimana manusia melakukan kegiatan pertukaran informasi dan kegiatan sosial akademis guna tercapainya tujuan-tujuan yang menjadi motivasi masing-masing.

Antropologi kampus pada dasarnya berusaha menjelaskan bagaimana kehidupan (manusia) dalam lingkungan kampus, utamanya mahasiswa sebagai pemeran utama disana. Secara sistematis, pembahasan akan dimulai dengan membangun kerangka seperti berikut;

Apa itu mahasiswa (Rasionalisasi definisi)

  •  Karakteristik (behavior)
  •  Paradigma

Kenapa mahasiswa harus ada (Rasionalisasi eksistensi)

  •  Tujuan
  •  Peran
  •  Sikap/perilaku

Efek atas keberadaan mahasiswa

  •  Kebudayaan
  •  Lingkungan

Eksistensi Mahasiswa

  •  Ilmu Pengetahuan (Apa manfaat eksistensi mahasiswa di tengah masyarakat?)
  •  Simbol

Mahasiswa Kini, Mahasiswa Kuno
Membincang dunia mahasiswa kini, biasanya tidak lepas dari upaya membandingkan realitas kehidupan mahasiswa pada zaman atau periode sebelumnya. Jika hadir pertanyaan, apakah ada perubahan dalam dunia mahasiswa dari setiap periode/generasi? Tentu saja ada. Toh perubahan terjadi seiring dengan berjalannya waktu, apalagi sistem sosial yang saat ini telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang kian baru, berkembang dengan pesat.

Memperdebatkan kondisi atau realitas mahasiswa di setiap generasi untuk menetapkan generasi mahasiswa mana yang paling unggul, tentu merupakan sebuah perdebatan kusir, mahasiswa membentuk karakteristik masing-masing untuk setiap generasi, belum lagi jika diperhatikan bahwa dalam satu generasi terdapat begitu banyak dinamika dan karakter mahasiswa yang heterogen.

Oleh karena itu, hal kekal (berlaku untuk setiap generasi) dari mahasiswa hanyalah definisi, dan konsep individual yang memotivasi seseorang untuk menjadi mahasiswa. Selain itu, karena mahasiswa belajar, mendalam ilmu pengetahuan, maka tentu saja ada tanggung jawab bijak yang diembannya, sebagaimana peran atau fungsi ilmu pengetahuan dalam kehidupan kita. Lebih lanjut, bagian ini akan secara rinci jika diadakan diskusi mengenasi konsep mahasiswa dan ilmu pengetahuan, untuk memahami bagaimana seorang manusia yang menjadi mahasiswa.

Gaya Hidup Mahasiswa
Membicarakan gaya hidup, secara umum kita mengenal beberapa istilah untuk dikenakan (menggolongkan) mahasiswa dalam beberapa kategori:

Hedonis, yakni mahasiswa yang hidup dengan mengikuti perkembangan zaman, up to date, gaul dan populer, namun usaha mengikuti perkembangan zaman tidak dibarenge dengan kesadaran bahwa perkembangan zaman bersifat absurd yakni menawarkan kesenangan tanpa manfaat. Bersinggungan dengan label hedoni ini, kita mengenal istilah borjuis, yaitu golongan kaya dengan kehidupan mewah yang membangun tembok besar dengan orang-orang proletar dan anti borjuasi, golongan ini biasanya bersikap apatis terhadap realitas sosial-politik.

Akademis, golongan mahasiswa yang memanfaatkan status kemahasiswaannya sebagai waktu untuk menuntut ilmu.

Aktivis, Label ini biasanya disematkan pada mahasiswa yang ikut dan aktiv pada oraganisasi, baik intra maupun ekstra (namun lebih cenderung pada organisasi ekstra). Banyak anggapan negatif yang akhirnya dikonsumsi sendiri oleh para aktivis bahwa, dengan aktif di organisasi, maka kuliah dapat berantakan, sementara organisasi dianggap sebagai tempat mebuang waktu semata. Sayangnya, pendapat ini datang dari orang-orang yang kurang mengecap dan memahami manfaat berorganisasi.

Apatis, yakni sikap acuh tak acuh, tak mau tahu tentang kondisi sosial dan politik, sebagaimana disampaikan sebelumnya, hidup hedonis dan borjuis mengarah pada sikap ini, walaupun tidak semuanya.

Humoris, yakni mahasiswa yang memanfaatkan status mahasiswanya sebagai masa liburan, mendapatkan kebebasan dari perhatian orang tua. Biasanya mahasiswa ini memanfaatkan waktu dengan kegiatan suka-suka (sebenarnya bersifat candu), salah satu contoh ril misalnya adalah game.

Perubahan-perubahan Behavioral Mahasiswa
Dalam ilmu antropologi, terdapat beberapa pola perubahan perilaku manusia yakni sebagai berikut;

Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul dimana suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu yang mereka miliki dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing. Sehingga kebudayaan asing itu lambat laun akan diterima/diresap dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan asli dari kelompok itu sendiri.

Dalam perkembangannya, proses akulturasi mengalami pemutakhiran metode yang awalnya suatu kebudayaan dipaksakan untuk dilaksanakan oleh suatu kelompok budaya/masyarakat tertentu (kolonialisasi) hingga saat ini, akulturasi berlangsung semakin halus yaitu dengan hegemoni kebudayaan melalui media massay dengan membangun persepsi superioritas, menggiring minat, dll.

Asimilasi
Asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaa campuran. Biasanya golongan yang ikut dalam suatu proses asimilasi dalah suatu golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas. Biasanya golongan minoritas inilah yang mengubah sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan dan menyesuaikannya dengan kebudayaan golongan mayoritas secara sedemikian rupa sehingga lambat laun kehilangan kebudayaannya, dan masuk kedalam kebudayaan mayoritas ( Koentjaraningrat, 1979:255). Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara golongan atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimilasi meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.

Difusi
Difusi adalah salah satu bentuk penyebaran antau bergeraknya unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dimana penyebaran unsur-unsur kebudayaan biasanya dibawa oleh sekelompok manusia dari suatu kebudayaan yang melakukan migrasi ke suatu tempat.

Evolusi
Evolusi merupakan perubahan yang dialami suatu masyarakat yang biasanya berkembang dari tingkat sederhana ke tingkat yang lebih kompleks. Dimana perubahan ini terjadi dalam waktu yang lama dan melalui beberapa tahap-tahapan. Dalam konteks pembahasan antropologi kampus, adanya suatu evolusi dipengaruhi oleh kebijakan kampus, pengalihan wacana atau pengalihan pemahaman, misalahnya awalnya mahasiswa menganggap dirinya berperan sebagai pelopor perubahan bangsa namun pelan-pelan pemahaman tersebut dialihkan bahwa mahasiswa berperan sebagai seseorang yang harus belajar dan mendapatkan prestasi.

Pembaruan Atau Inovasi
secara material/fisik, pembaruan atau inovasi yang dimaksu adalah penemuan (discovery) sebagai dampak dari berkembangnya pola pikir manusia dan adanya bantuan teknologi. Namun secara sosial, adanya pembaruan terjadi karena adanya evaluasi atas kehidupan, dimana timbul pengetahuan/pemikiran baru. Dalam dunia kemahasiswaan hal ini bisa berupa berubahnya arah atau tujuan perjuangan kelompok mahasiswa, hadirnya berbagai kelompok atau komunitas yang mengusung ide maupun ciri khas yang berbeda, dll.

Secara umum, terdapat tiga alasan akan adanya suatu pembaharuan, sebagaimana disampaikan oleh Koentjaraningrat bahwa ada tiga hal pendorong penemuan baru yaitu ( Koentjaraningrat, 1979:258): (1) kesadaran akan para individu akan kekurangan dalam kebudayaan; (2) mutu keahlian dalam suatu kebudayaan; (3) sistem perangsang bagi aktivitas mencipta dalam masyarakat.

Ciri utama seorang mahasiswa adalah memberikan manfaat kepada masyarakat atas kualitas ilmu pengetahuan yang dituntutnya di universitas dan tempat belajar lainnya.

Paradigma PMII

Pendahuluan
Paradigma merupakan sesuatu yang vital bagi pergerakan organisasi, karena paradigma merupakan titik pijak dalam membangun konstruksi pemikiran dan cara memandang sebuah persoalan yang akan termanifestasikan dalam sikap dan prilaku organisasi. Disamping itu, dengan paradigma ini pula sebuah organisasi akan menentukan dan memilih nilai-nilai yang universal dan abstrak menjadi khusus dan praksis operasional yang akhirnya menjadi karakteristik sebuah organisasi dan gaya berpikir seseorang.
Konsep pengkaderan yang baik selalu berangkat dari kenyataan riil sebuah zaman dan selalu mengarah pada tujuan organisasi. Sehingga kader yang telah dididik oleh organisasi mampu memahami keadaan zamannya, mampu mengambil pelajaran dan mampu mengambil posisi gerak sesuai tujuan organsasi.
Selain itu sebuah konsep pengkaderan yang baik juga senantiasa berorientasi  untuk meningkatkan tiga aspek utama, yakni keilmuan, pengetahuan dan keterampilan. Keimanan mendorong kader untuk berani dan tidak mau tunduk dihadapan segala bentuk kemapanan serta ancaman duniawi. Pengetahuan membekali kader atas keadaan zaman dimana dia bergerak, dan keterampilan merupakan bekal bagi kader agar mampu survive sekaligus bergerak dizamannya.
Pengertian Paradigma
Dalam  khazanah ilmu sosial, ada beberapa pengertian paradigma yang dibangun oleh para pimikir sosiologi. Salah satu diantaranya adalah G. Ritzer yang memberi pengertian paradigma sebagai pandangan fundamental tentang apa yang menjadi pokok persoalan dalam ilmu. Paradigma membantu apa yang harus dipelajari, pertanyaan yang harus dijawab, bagaimana semestinya pertanyaan-pertanyaan itu diajukan dan aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperoleh. Paradigma merupakan kesatuan consensus yang terluas dalam suatu bidang ilmu dan membedakan antara kelompok ilmuwan. Menggolongkan, mendefinisikan dan yang menghubungkan antara eksemplar, teori, metode serta instrumen yang terdapat di dalamnya. Mengingat banyaknya difinisi yang dibentuk oleh para sosiologi, maka perlu ada pemilihan atau perumusan yang tegas mengenai definisi paradigma yang hendak dimabil oleh PMII. Hal ini peril dilakukan untuk memberi batasan yang jelas mengenai paradigma dalam pengertian komunitas PMII agar tidak terjadi perbedaan persepsi dalam memaknai paradigma.
Berdasarkan pemikiran dan rumusan yang disusun oleh para ahli sosiologi, maka pengertian paradigma dalam masyarakat PMII dapat dirumuskan sebagai titik pijak untuk menentukan cara pandang, menyusun sebuah teori, menyusun pertanyaan dan membuat rumusan mengenai suatu masalah. Lewat paradigma ini pemikiran seseorang dapat dikenali dalam melihat dan melakukan analisis terhadap suatu masalah. Dengan kata lain, paradigma merupakan cara dalam “mendekati”obyek kajianya (the subject matter of particular dicipline) yang ada dalam ilmu pengetahuan. Orientasi atau pendekatan umum (general orientations) ini didasarkan pada asumsi-asumsi yang dibangun dalam kaitan dengan bagaimana “realitas” dilihat. Perbedaan paradigma yang digunakan oleg seseorang dalam memandang suatu masalah, akan berakibat pada timbulnya perbedaan dalamm menyusun teori, membuat konstruk pemikiran, cara pandang, sampai pada aksi dan solusi yang diambil.
Refleksi Paradigma Pergerakan
Paradigma gerakan adalah alat dalam membedah pola, arah dan tujuan ber-PMII, ber-Islam dan ber-Indonesia. Paradigma kritis tansformatif yang selama ini dipakai sebagai pisau analisa di anggap mampu dalam menghadapi tekanan baik internal maupun  eksternal.
Dengan kritisismenya, PMII terbukti masih bisa tegak berdiri ketika sejumlah badai mengahadang. PMII juga masih mampu mentransformasikan sistem nilai yang berakar pada tradisi saat sistem nilai naru bermunculan. Tetapi dunia terus berubah-bergerak ke arah yang kadang sulit diprediksi. Arus globalisasi, neoliberalisme, dam fundamintalisme ekstrim tak hentinya menggempur. Ada banyak tantangan saat dunia semakin datar, persaingan kian ketat. Karena itu, PMII perlu terus melakukan men-formulasi ulang paradigma gerakannya agar tidak gagap terhadap perubahan dunia yang terus mengealami percepatan.
Bahwa nalar gerak PMII secara teoritik mulai terbangun sistematis pada masa kepengurusan Sahabat Muhaimin Iskandar (Ketum) dan Rusdin M. Noor (Sekjend). Untuk pertama kalinya istilah paradigma yang populer dibidang sosiologi digunakan untuk menyatakan prinsip dasar PMII yang dijadikan acuan dalam segenap pluralitas strategi sesuai lokalitas masalah dan medan juang. Dimuat dalam buku Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran (November 1997), Paradigma Pergerakan disambut massif oleh seluruh anggota dan kader PMII di seluruh Indonesia. Paradigma Pergerakan, demikian ‘judul’nya dirasa mampu menjawab kegelisahan anggota pergerakan yang gerah dengan situasi sosial politik nasional kala itu.
Adapun titik tolak dari paradigma pergerakan (atau populer dengan nama paradigma arus balik) ini adalah kondisi sosio-politik bangsa Indonesia yang ditandai oleh: 1). Munculnya negara sebagai aktor atau agen otonom yang peranannya “mengatasi” masyarakat yang merupakan asal-usul eksistensinya. 2). Menonjolnya peran dan fungsi birokrasi dan teknokrasi dalam proses rekayasa sosial, ekonomi dan politik. 3). Semakin terpinggirkannya sektor-sektor “populer” dalam masyarakat, termasuk intelektual. 4). Diterapkannya model politik eksklusioner melalui jaringan korporatis untuk menangani berbagai kepentingan politik. 5). Penggunaan secara efektif hegemoni secara ideologi untuk memperkokoh dan melestarikan legitimasi sistem politik yang ada. Lima ciri diatas tak jauh beda dengan negara-negara kapitalis pinggiran (peripherial capitalist state) (1997; hal. 3).
Medan politik Orde Baru merupakan arena subur bagi sikap perlawanan PMII terhadap negara. Sikap ini didorong oleh konstruksi (bangunan pemikiran) teologi antroposentrisme transendental yang menekankan posisi khalifatullah fil ardh sebagai perwujudan penghambaan kepada Allah SWT.  Tapi selain dasar ini, sikap perlawanan itu di dorong dua tema pokok. Pertama, tidak setuju adanya otoritas penuh yang melingkupi otoritas masyarakat. Kedua, menentang ekspansi dan hegemoni negara terhadap keinginan bebas individu dan masyarakat (1997; hal.17).
Pilihan Paradigma PMII
Pada periode Sahabat Syaiful Bahri Anshari, diperkenalkan Paradigma Kritis Transformatif. Hakikatnya tak jauh beda dengan Paradigma Pergerakan. Titik bedanya terletak pada pendalaman teoritik paradigma serta pengambilan eksemplar teori kritis madzhab Frankfurt serta nilai kritisisme wacana intelektual muslim seperti Hassan Hanafi, Muhamad Arkoun, Asghar Ali Engineer dll. Sementara di lapangan polanya sama dengan periode sebelumnya. Gerakan PMII terkonsentrasi pada aktivitas jalanan dan wacana kritis. Semangat perlawanan oposisi (perang terbuka), baik dengan negara maupun dengan kapitalisme global terus hangat mewarnai semangat PMII.
Kedua paradigma di atas mendapat ujian berat ketika Gus Dur terpilih sebagai presiden  RI  pada November 1999. para aktifis PMII dan aktfis prodem mengalami kebingungan saat Gus Dur yang menjadi tokoh dan simbol perjuangan civil society.
Secara massif, paradigma gerakan PMII masih kental dengan nuansa perlawana frontal baik terhadap negara maupun terhadap kekuatan di atas negara (kapitalis internasional). Sehingga ruang taktis-strategis dalam kerangka cita-cita gerakan yang berorientasi jangka panjang justru tidak memperleh tempat. Aktifis-aktifis PMII masih mudah terjebak-larut dalm persoalan temporal-spasial, sehingga gerak perkembangan internasional yang sangat berpengaruh terhadap arah perkembangan indonesia luput dibaca.
“Membangun Sentrum Gerakan Di Era Neo Liberal”, pada masa Sahabat Malik Haramain, paradigama di atas adalah melanjutkan kegagapan PMII dalam bersinggungan dengan kekuasaan. Paradigama ini oleh banyak kader di anggap sesisten terhadap pembacaan otoritarisme tanpa melihat kompleksitas aktor di level nasional yang selalu terkait dengan perubahan ditingkat global dan siklus politik ekonomi yang terjadi. Dengan kata lain, paradigma yang dibangun ini di anggap hanya sebagai bunyi-bunyian yang tidak pernah secara riil menjadi habitus atau laku di PMII.
Begitu juga dengan kepenurusan Sahabat Heri Haryanto Azumi yang dengan susah payah membangun paradigma dengan nama “Multi Level Strategi”. Hakikatnya paradigma yang dibangun mulai dari Sahabat Muhaimin Iskandar sampai pada Sahabat Heri Azumi adalah pencarian identitas (berdialektika) yang tepat bagi PMII untuk melangkah, melihat dengan cermat, menuju organisasi pergerakan yang lebih dinamis dan kompetetif yang membela kaum mustad’afin dan anti kemapanan (sivil cosiety-nation state).