STRATAK ala JOKOWI

By: Dwi Kresdianto

Seolah tak ada habisnya, kemenangan fenomenal Jokowi dalam pilkada DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu meninggalkan banyak pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang umum terlontar adalah, tentang bagaimana sebenarnya strategi kemenangan yang pada akhirnya mengantarkan sang walikota Solo menduduki posisi “B-1” tersebut. Melalui penelusuran berbagai media, pada akhirnya didapat gambaran umum bahwa apa yang dilakukan Jokowi bersama tim suksesnya secara marketing politik adalah sebuah terobosan yang berani. Berikut adalah gambaran umum strategi marketing Jokowi tersebut.

Sebagaimana persis yang dilakukan oleh seorang pemasar, tim sukses (timses) Jokowi pertama kali berusaha menetapkan target pemilih yang akan mereka “rengkuh” suaranya. Pada tahapan ini, analisa demografis dilakukan dengan membagi wilayah DKI menjadi beberapa “front”. Analisis selanjutnya merambah kepada analisa psikografis penduduk masing-masing “front” dengan mencari komunitas yang memiliki ikatan emosionil apapun bentuknya dengan pasangan Jokowi-Ahok. Secara tradisional kaum urban pendatang DKI yang secara sukuisme memiliki pertalian menjadi target kuat.

Setelah analisis tersebut dilakukan, strategi marketing politik timses Jokowi merambah pada analisa perilaku populasi yang diperkirakan akan menjadi basis kuat mereka. Yang dilakukan kemudian adalah mencoba mengembangkan sentimen “avantgarde” dengan terus melempar isu-isu pembaruan serta memberikan solusi-solusi dinamis atas kelemahan para lawannya. Adapun sumber isu-isu tersebut didapat dari analisa perilaku populasi potensial di masing-masing “front” pemilihan. Ide-ide dasar dari masyarakat yang dicetuskan spontan tersebut kemudian kembali disaring dengan menggunakan matriks “kebermanfaatan & masalah”. Hasil dari matriks tersebut disaring kembali hingga didapatkan sederetan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi populasi tersebut dalam memilih seorang kepala daerah. Hasil lain dari matriks kebermanfaatan itu adalah “attitude meter” terhadap gubernur terkini berikut program-program yang telah dan sedang dilaksanakannya. Kombinasi dari hasil-hasil tersebut kemudian diformulasikan menjadi deretan indikator “keidealan” figur seorang gubernur DKI serta program apa saja yang seharusnya direalisasikan. “Feedback” yang didapatkan dari masyarakat inilah yang kemudian diolah sedemikian rupa dan pada akhirnya menjadi “materi kampanye” pasangan Jokowi-Ahok.

Langkah selanjutnya, timses pasangan Jokowi-Ahok melakukan tes “kedalaman” dan “kekentalan” pada masing-masing “front” pemilihan. Maksud dari tes kedalaman dan kekentalan tersebut adalah aktivitas pengukuran terhadap tanggapan penduduk di masing-masing daerah tentang kemungkinan hadirnya figur baru yang membawa “perubahan positif” akan tetapi berbeda secara “budaya” dengan mereka. Mereka melakukan pendataan populasi pemilih dan membaginya ke dalam 5 kelompok pemilih. Yakni pemilih negatif pembaruan, pemuilih apatis, pemilih potensial yang peragu, pemilih potensial yang pasif, dan pemilih potensial yang aktif. Dari masing-masing segmentasi pemilih tersebut, timses Jokowi-Ahok juga melakukan pengukuran terhadap jumlah populasi, jumlah pemilih potensial awal, serta jumlah pemilih potensial paling optimal. Analisis lanjutan yang kemudian dilakukan oleh timses Jokowi-Ahok adalah, melakukan pemetaan terhadap program-program apa saja dari gubernur terkini DKI, yang telah dinikmati maupun yang belum dinikmati oleh penduduk masing-masing segementasi populasi.

Setelah didapatkan ukuran pasti serta potensi masing-masing segmen pemilih, timses Jokowi-Ahok melaksanakan analisis kompetitif terhadap para pesaingnya. Pengumpulan indikator-indikator SWOT masing-masing pasangan pesaing dilakukan secepat dan secermat mungkin, untuk kemudian dianalisis lebih lanjut. Dari analisis SWOT tersebut didapatkan data mengenai potensi masing-masing pesaing serta indikator-indikator pendukung atas potensi yang dimiliki masing-masing kompetitor tersebut. Hasil dari analisis SWOT tersebut juga menyarikan program-program yang akan ditawarkan dan menjadi materi kampanye masing-masing pesaing, dengan terlebih dahulu melakukan segementasi isu dari yang “berkadar” sangat penting, penting, kurang penting, biasa, hingga isu tidak penting.

Analisis SWOT tersebut juga menghasilkan basis-basis pendukung masing-masing kompetitor, strategi promosi yang dieksekusi, para mitra dan sekutu, serta penetrasi mereka di berbagai media.

Masing-masing potensi yang dimiliki pesaing tersebut, timses Jokowi-Ahok merumuskan langkah-langkah “penanggulangan”. Termasuk didalamnya mendiskusikan faktor-faktor apa saja yang bisa dilakukan agar dapat mempengaruhi basis pemilih pesaing disetiap segmentasinya. Kegiatan ini juga melibatkan usaha-usaha “audit” terhadap keberadaan mitra dan jenis saluran kampanye dari pesaing yang bisa “diolah” dan “digunakan”  senjata yang membawa manfaat sebesar-besarnya bagi pasangan Jokowi-Ahok.

Cara terakhir dilakukan adalah mencocokkan hasil analisis pesaing tersebut dengan berbagai skenario makropolitik yang mungkin terjadi di masa depan. Termasuk didalamnya pergeseran konstelasi dukungan dari “kekuatan atas”, plus langkah-langkah antisipatif untuk menyesuaikan dengan setiap kondisi yang ada. Hasilnya ? Jokowi-Ahok pun masuk Balaikota DKI dengan langkah wibawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: