Menulis Tentang Waktu

By: Muhammad Saiful

Sudah akhir bulan di tahun 2012, wah tanggal bagus 121212, hmm sekarang juga uda mau ganti tahun, terasa banget, ada banyak kejadian-kejadian yang cetar membahana yang saya rasakan di tahun ini, membuat saya terus berproses menjadi lebih segalanya dan semoga itu ke arah yang positif.

Jika dulu saya harus kepengetikan buat nulis postingan, sekarang alhamdulillah ibarat kata sambil merem pun bisa nulis dimanapun, kapanpun, sambil apapun.
Dulu ketika mau telfon-telfonan sama teman hati saya, Kachipo, harus ngumpet takut ketahuan sama pengurus pondok sekarang sampai ngiler mengalir deras pun masih telfon. Ah sudahlah ada sesuatu hal yang hangat mau mengalir.
*sambil mengusap ujung mata*

Saya menyebut tahun ini sebagai tahun Peralihan dimana ditahun ini banyak hal yang begitu berubah dari saya, semua beralih dari yang dulunya memakai seragam buat belajar dikelas sekarang cukup bermodalkan satu helai kemeja selama seminggu yang dikasih parfum biar baunya beralih jadi wangi lengkap dengan celana jeans kebanggaan dipadukan lagi dengan sepatu Toms yang sudah kumus, orang-orang tidak tahu dibalik penampilan yang ajaib itu, telah tumbuh karakter seorang akademisi dan aktifis kampus yang militan siap lahir batin berfikir kritis didalam kelas.

*mengusap hidung dengan jempol*

Tapi itulah hidup sahabat, penuh peralihan di dalamnya yang kadang kita belum siap menghadapinya dia sudah datang lebih dulu tanpa memberi solusi cara beradaptasi dengan keadaan tersebut. Namun, Tuhan yang maha bijaksana itu menawarkan waktu sebagai solusi dari peralihan yang kita alami, bukankah waktu biasa mencairkan yang beku, melemahkan yang kuat, membiasakan yang belum terbiasa.

Advertisements

Tahun Baru 2013 Masehi

By: Rohman Afandi

Tahun baru, beberapa hari ini berita tentang hal ini tengah booming di seluruh dunia. Namun ada sebuah realita yang sangat disayangkan mengenai tahun baru. Semua orang dari semua golongan dan agama sangat antusias menyambut dan merayakan tahun baru 2013 masehi dengan cara yang berbeda-beda pula. Yang jadi pertanyaan sekarang untuk kita remaja muslim, seantusias itukah kita ketika menyambut tahun baru Hijriah? Tahun baru kita para umat Islam… jawabannya pasti “GAK TAU”, “LUPA”, atau apa lah jawabannya.

Bila kita mengaitkan dengan arus globalisasi yang terjadi saat ini boleh lah biar gak dianggap ketinggalan zaman, tapi setidaknya kita berlaku adil untuk agama kita, “ISLAM”. Tapi nyatanya apa? Hanya anda sendiri yang tau jawabannya.

Perayaan sangat dinanti-nanti oleh semua orang. Moment ini di anggap sebagai moment yang sangat special dan langka, karena hanya setahun sekali dirayakan. Namun menurut pandangan Islam, dikebanyakan Negara, perayaan tahun baru sangat dekat dengan kemaksiatan. Pasalnya kebanyakan orang dibeberapa Negara yang menjadikan tahun baru sebagai moment untuk pesta seks dan keperawanan.

Lantas, apakah kita sebagai mahasiswa muslim hanya terdiam dan membiarkan hal tersebut terus menjamur hingga ke Negara kita??

Gadis Hujan

By: Naila Kamaliya @nailakamall

Mendung itu hitam…

Mendung itu kelabu…

Tapi hari ini matahari mengubah mendung tak kelabu lagi

Senyumnya menyapa  hati yang gundah

Cahayanya mengobati hati yang terluka

Sinarnya mengajak fantasiku untuk selalu mengingatnya

Tiba – tiba hujan datang

Hujan, tolong jangan hapus sinarnya

Jangan sembunyikan cahayanya

Hujan… berhentilah…

Bawakan pelangi untuk mewarnai matahariku

Cahayanya diatas cahaya

Walau tak sempurna tapi nyata adanya

Pandangan Islam Terhadap Pluralisme

By: Lutfina Nur Azizah

Islam secara tegas memandang pluralisme sebagai suatu keniscayaan dan bahkan secara positif menyikapinya. Bukti normatif lain yang ditunjukan Nurcholish adalah terdapatnya gagasan ahl al-kitab dalam al-quran, yaitu konsep yang memberikan pengakuan tertentu kepada para penganut agama lain yang memiliki kitab suci. ini tidak berarti memandang semua agama sama, suatu hal yang mustahil, mengingat kenyataan agama yang ada adalah berbeda-beda dalam banyak hal sampai sampai ke hal yang prinsip. Tetapi memberi pengakuan sebatas hak masing-masing untuk berada (bereksistensi) dengan kebebasan menjalankan agama masing-masing.

Islam tidak memandang pluralitas sebagai sebuah perpecahan yang membawa kepada bencana. Islam memandang pluralitas sebagai rahmat yang Allah turunkan kepada makhluk-Nya. Dengan pluralitas, kehidupan menjadi dinamis dan tidak stagnan karena terdapat kompetisi dari masing masing elemen untuk berbuat yang terbaik. Hal ini membuat hidup menjadi tidak membosankan karena selalu ada pembaruan menuju kemajuan.

Pandangan islam yang lebih luwes dalam memaknai pluralitas menjadikan warna-warni dalam khasanah keilmuan Islam. Nurcholis Majid selaku tokoh yang sangat konsisten dalam pluralitas mencoba mengaplikasikan suatu paham dimana dia menganggap bahwa tidak perlu di Indonesia ini diberlakukan syariat Islam karena Pancasila pun sudah memiliki nafas Islam.

Dari sisi perkembangan dan perluasan, ekonomi harus tetap ada pada beberapa kelompok kekuatan ekonomi yang terdapat dalam masyarakat. Sebagaimana yang telah disinggung seperti dalam masalah-masalah diatas, pluralisme berusaha menyamakan permasalahan agama dengan perkara-perkara politik, ekonomi dan partai. Sehingga dari situ mereka berkesimpulan bahwa dalam segala aspek sosial diperlukan pluralitas, oleh karenanya hal itu harus dimunculkan dan dikembangkan.

Nurcholis hendak mengiring bahwa umat islam Indonesia pun harus bisa mewarisi semangat pluralisme yang tinggi. Ia selalu menekankan baik pada umat islam sendiri maupun non muslim bahwa bersikap positif pada pluralisme adalah suatu keharusan, bukan saja karena doktrin agama memang mendukung demikian, tetapi terlebih karena tuntutan objektif dari realitas kehidupan modern.