Aku

By: Fitri Aprilia

AQ????……

“Aku” sebuah kata yang mungkin menandakan akan sifat keindividual seseorang. Tapi dari kata “aku” inilah manusia bisa mengenal dirinya. Meskipun hanya sebagian, tapi cukup untuk mendapatkan sebuah jawaban akan jati diri. Banyak orang yang mencari hakikat dari kata “aku” tapi banyak juga yang terjerumus hingga tenggelam dalam jiwa orang lain dan tak bisa kembali menemukan hakikat makna tersebut. Dan sekarang aku kehilangan kata “aku” dalam diri ini. Entah apa yang bersemayam dalam jiwaku, karena mungkin aku belum pernah menmukan “aku” yang sebenarnya. Tapi sebelum aku menemukannya banyak kisah dalam hidup ini yang menjadi jembatan yang menghubungkan jati diri ini dengan “aku”. Bagai bentuk arketipe-arketipe yang menjadi lubang hitam dalam dinamika kehidupan. Ada tapi tidak ada. Kita tak bisa merasakannya tapi terkadang muncul dengan ketidak sadaran kita. Seakan kebingungan ini menjadi syarat untuk mencari hakikat “aku”. Diri ini hampir lelah untuk bisa melanjutkan perjalanan, tapi jiwa berontak agar aku terus mencarinya. Setiap kali aku mencoba untuk berhenti sejenak, jiwa itu masuk. Mungkin sebuah persona yang mempengaruhiku tuk jadi orang lain. Dan saat itu, aku tak bisa tuk meyakinkan diriku untuk menemukan “aku”. Jiwaku terhanyut dalam persona-persona orang lain dan tak tampak bagiku cahaya yang mengantarkan akan bintang jelmaan jati diriq. Aku ingin memetiknya dan menunjukan pada dunia bahwa inilah “aku” yang sebenarnya. Aku percaya suatu saat nanti bintang itu bisa kupetik dan kuambil cahaya ke”aku”anku.

Ya!…. meskipun keyakinanku begitu kuat untuk menemukan jati diriku. Tapi kesadaran itupun sangat kuat bahwa aku masih belum bisa berjalan dengan kaki yang masih pincang. perjalananku belum selesai. Aku masih punya pikulan di pundaku. Jiwa-jiwa yang selalu berjalan mengarah kepadaku menuntutku agar aku bisa menuntun mereka tuk mendapatkan “aku” yang mereka cari. Tapi bagaimana bisa aku menuntun sedangkan mataku masih gelap akan cahaya ilmu yang menjadi penunjuk arahku. dan perjalananku belum berakhir tuk mendapatkan hakikat jati diriku?.

Aku terus berjalan hingga akhirnya ku temui sedikit cahaya menuntunkan kearah jalan keluar dari gelapnya gua berjarak ribuan mil. Aku terus mengikutinya entah sampai kapan. Mungkin sampai air darah ini berhenti tuk mengalir atau sampai umurku meloncat satu tapak. Aku tak tahu! Tapi kesadaranku tuk jadi penuntun menjadikan jiwa ini bagai belut licin yang menggeliat agar aku segera menemukan “aku”. Dan hanya itu yang membuat aku kuat tuk berjalan menuntun arah cahaya bintang. Hingga jiwa ini bisa berkata “aku” adalah “Rohmatul Fitri” .

Advertisements

5 Responses

  1. dengan membuat tulisan di blog..bikin hidup lebih hidup,,mahasiswa tidak menulis,,,karijal laisa dzakar

  2. Ibnu Rusdi,,selama hidupnya,,tidak belajar dan membaca hanya dua malam,,yaitu malam pengantin dan malam kematiannya..berapa malam sebulan kita membaca? jadilah Intelektual Organizer

  3. PROFIL RINGAN PESANTREN RAKYAT SUMBERPUCUNG
    Di sebuah Desa yang berada di barat ibu kota Kabupaten Malang, tepatnya Desa Sumberpucung namanya, di situ masyarakatnya plural atau heterogen baik agamanya, pekerjaannya, budayanya dan kebiasaanya. Dalam Pengembangan Strategi Dakwah Islamiyah pada suatu hari ada anak rakyat “Cak Dul ” yang berfikir “bagaimana Dakwah Akhlaq Dan Aqidah Islamiyah ala Ahlussunnah Wal Jama’ah ini bisa Menembus Kalangan Yang Paling Hitam, Terpinggirkan, Ekonomi Lemah Dan Pendidikan Rendah” Yang Justru Sering Terlupakan. Selama ini kita tahu pendidikan baik Formal atau Pesantren di rasa menakutkan karena beberapa syarat dan biaya yang cuckup rumit dan tinggi untuk kalangan orang awam, (Tidak mungkit anaknya orang tidak punya bisa mengenyam pendidikan mahal) sehingga potensi-potensi jiwa agamawan dan negarawan yang ada pada anak rakyat kecil tidak tersentuh dan tidak akan pernah ada perkembangan. Padahal banyak mutiara-mutiara, Emas Permata Besar Yang Terpendam Di Kelurga-Kelurga Lemah yang selama ini Mengalami Jalan Buntu Dalam Menembus Ruang Kehidupan Yang Lebih Bermatabat, Ini Tugas Siapa?.
    Maka dari itu setelah mengalami beberapa uji coba pendekatan dan ulak-alik metode sejak Bulan Juli 1998, kemudian muncullah ide pendirian Pesantren Rakyat yang semua aktifitasnya ala rakyat yang kemudian kita bubuhi dengan nilai-nilai Ke-Islaman, Ke-Indonesiaan dan Kemanusiaan, maka Pada hari Rabu, 25 Juni 2008 berdirilah ide pendirian Pesantren Rakayat. Pesatren Rakyat ini hanyalah kubangan air keruh lagi kecil yang berada di padang pasir di bawah panasnya terik sinar matahari dimana di sekelilingnya banyak onta-onta haus dan kafilah-kafilah sedang melakukan perjalanan jauh. Sehingga kubangan air tersebut terasa lebih berharga dari pada emas permata yang mereka bawa. Begitu pula Pesantren Rakayat, yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah lingkungan Masyarakat Stasiun, Pasar, Pejudian, Togel, perselingkuhan, tempat wisata, penginapan gelap dan di daerah Prostitusi terbesar di Kab. Malang, dimana masyarakatnya sangat plural atau heterogen. Sehingga mempengaruhi mental dan prilaku keseharian masyarakat dan generasi muda di sekelilingnya.
    Dengan kekuatan modal dan kemampuan yang serba minimalis, kami keluarga kecil Pesantren Rakyat Ingin Ambil Bagian dalam proses perubahan sosial ke arah yang lebih baik demi terciptanya masyarakat yang saling Memanusiakan Manusia dan Bertaqwa Kepada Allah SWT, demi terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia menjadi Negara Baldatun Thoiyibatun Warabbun Ghofur atau gemah ripah loh jinawe toto tentrem kerto raharjo.
    Langkah kami tidak selalu berwujud formal dan serba mentereng, tetapi selalu berusaha Sinergi Dengan Alam, Budaya Dan Lingkungan (bagaikan air yang selalu menyesuaikan dengan tempatnya, bisa menembus lubang-lubang kecil, memberi tekanan ke atas, menguap jika di panaskan, membeku jika didingankan, tawaduk selalu mencari tempat yang rendah dan jika dibendung secara paksa maka air akan melakukan perlawanan yang hebat). Pesantren Rakyat mulai Dari Yang Kecil, Sepele, Remeh, Tidak Terlihat, Sederhana, Terpinggirkan/Termarjinalkan, Ndeso, Tradisional, Kampungan, Katrok, Tidak Menarik Dan Tidak Di Hiraukan Orang, kemudia kita kumpulkan jadi satu, kita menej dan Kita Ubah Menjadi Suatu Kekuatan Yang Dahsyat untuk melakukan Proses Akselerasi Revolusi Sosial ke arah yang lebih baik. Kita belajar dengan adanya angin sepoi yang menidurkan, air lembut yang menyejukkan, tetapi jika menjadi satu dalam jumlah yang besar serta bersamaan maka akan mampu merubah keadaan sekitarnya berbalik 180 derajat (sunami, putting beliung, tornado dll), ini hanya perumpamaan.
    Untuk itu Pesantren Rakyat dalam rangka Menyantrikan Rakyat, maka membuat semua Kurikulum Ala Rakyat, ngaji kebutuhan rakyat, perekonomian ala rakyat, pertemuan atau diskusi ala rakyat, pendidikan ala rakyat, menejemen ala rakyat, pakaian ala rakyat, pergaulan ala rakyat dan dalam berbagai aspek bidang kehidupan konsepnya selalu ala rakayat, Cuma Kita Tumpangi Dengan Nilai-Nilai Islam yang sesuai dengan ajaran Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW serta para ulama’ terdahulu, baik dalam tataran syari’at, tharekat, hakikat atau ma’rifatnya.
    Semoga kumpulan Ide Orang-Oarng Kampung dan bodoh ini ke depan dalam menjalankan Dakwah Islamiyah melalui Pesantren Rakayat akan Memiliki Tren Tersendiri Karena Kemudahannya, jadi tidak ada alumni Pondok Pesantren atau Madrasah yang pasif, semuanya bisa Bergerak Melalui Komunitas-Komunitas Kecil, mushola, masjid, jamah tahlil, sholawatan, istighosah, manaqib, arisan, karang taruna atau cangkruannya Wak Min, Wak Dol, Wak Jo, Yu Mi dan Yu Ton yang kemudian akan memberi pengaruh seluas-luasnya terhadap semua Stake Holders Islam dalam memajukan agama, bangsa dan Negara. Sehinga konsep Islam yang Pro Perubahan dan Pro Sosial tidak hanya pada tataran ide atau kognitif saja, sehingga Kemajuan Peradaban Islam Akan Datang Esok Hari.Amin

    Malang, Rabu 25 Juni 2008
    Pengasuh Pesantren Rakyat

    Dengan kekuatan modal dan kemampuan yang serba minimalis, kami keluarga kecil Pesantren Rakyat Ingin Ambil Bagian dalam proses perubahan sosial ke arah yang lebih baik demi terciptanya masyarakat yang saling Memanusiakan Manusia dan Bertaqwa Kepada Allah SWT, demi terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia menjadi Negara Baldatun Thoiyibatun Warabbun Ghofur atau gemah ripah loh jinawe toto tentrem kerto raharjo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: