Id vs Super Ego

By: Wisnu Wicaksono*

Pernah saya berkomitmen, konyol sih sebenarnya, hanya karena gak mau dibilang pecundang oleh sahabat saya. Memang komitmen itu hasil kesimpulan saya pada saat masih Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Tapi entah mengapa komitmen itu seperti sudah menjadi paradigma dalam kehidupan saya, entah seperti boomerang atau pedang yang bermata dua, komitmen itu perlahan-lahan menggerogoti akal sehat saya.

Sejenak saya menenangkan diri di warung kopi, disaat itulah saya merasa ada suatu hal yang kurang pada diri saya. Disitulah terbesit bahwasannya saya harus menjadi diri saya yang seutuhnya. Dan mulai detik itu pula lah saya merasa bahwa saya masih belum bisa menjadi diri saya yang seutuhnya.

Didalam diri selalu ada pertarungan antara akal sehat dan hati nurani, selalu ada pergesekan antara dua hal tersebut dikala saya sedang termenung.

Sampai kapan pergesekan ini akan tetap berlanjut, hanya waktulah yang akan membisikkan semuanya pada diriku.

*Mahasiswa Fakultas Psikologi Angkatan 2011, Pengurus PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: