MENAPAKI JALAN TERJAL

By: Ahmad Zaini Farid*

“Cogito Ergo Sum” begitulah Rene Descartes menyatakan eksistensi dirinya. Bigitu istimewa-nya Descartes mendiskripsikan dirinya. Something yang terlahir darinya bisa di jadikan acuan berpijak, memahami dirinya, lingkungan dan tuhannya tidak dari ontologinya saja melainkan epistimologi dan aksiologinya oleh Descartes telanjangi  untuk menemukan hakekat kebenaran alam dan seisinya. Akan memberi konstribusi yang cukup besar dalam mencari kebermaknaan hidup bila pembaca memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai itu.

Memahami Secara tekstual dan substansi dari segala sesuatu tidak bisa pisahkan, bagaikan hubungan seorang kekasih yang senantiasa melangkah di atas garis kesucian cintanya. Secara tekstual akan memberikan gambaran lahiriah saja, yang terkadang menipu panca indera. sedangkan secara substansi mencoba menyelami kedalaman yang sebenarnya. Terdapat usaha yang serius untuk menggali seluk beluknya.  Mempersepsikan samudera luas hanya hamparan air dengan gelombang ombak yang tiada henti menghantam batu karang, terdapat perahu yang mencoba bertahan dengan hantaman ombak,(begitulah, tekstual saja). Namun di samuderalah akan menemukan  banyak kekayaan bumi bila di banding di daratan, termasuk mutiara-mutiara yang terkandung di dalamnya, (substansi).

Percaya atau tidak kita harus meyakini bahwa tuhan selalu memberikan yang terbaik buat mahluknya, semua makhluk yang tuhan ciptakan terdapat hubungan “determinan resiprokal”.   Manusia tidak mampu hidup tanpa ciptaan tuhan lainnya seperti tumbuhan dan binatang. Karena sebagian kebutuhan fisiologis yang harus di penuhi tuhan selipkan padanya. bigitu pula dengan tumbuhan dan binatang, udara yang di hirup oleh tumbuhan adalah karbon dioksida hasil pernafasan manusia, binatang bisa bertahan hidup karena manusia melestarikan lingkungannya.

Sembari memikirkan kelestarian hidup, hemat saya sejatinya menyisakan langkah buat lingkungan tercinta. Lingkungan terlalu bersahabat dengan manusia, merelakan tempat buat bangunan yang manusia kehendaki, merelakan lahan buat tanamannya, menjaga dan memberi kesuburan padanya, dan sumber mata air tiada henti alam berikan padanya.

Nilai-nilai dasar pergerakan mahasiswa adalah Hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam. Semua itu adalah ibadah yang tuhan murka bila salah satunya di tinggalkan. Terkadang akan menemukan suatu pemikiran yang terlalu ekstrim memaknai ibadah, seakan pahala hanya akan terlahir dengan mengerjakan shalat, zakat, puasa, dan haji saja. Bangunlah dan sadarilah bahwa mahasiswa tidak mati langkah mencari ridlonya, tidak tersesat di banyak jalan yang tersedia menuju surganya.

Memberikan suatu pembelaan bagi saudara-saudara yang tidak mampu adalah aplikasi dari nilai dasar pergerakan yang kedua yaitu hablum minannas. Mengapa takud mengepalkan tangan demi memberantas penindasan yang menghegemoni saurdara kita, mengapa jijik mengotori tangan demi kebersihan lingkungan, mengapa enggan menjulurkan tangan demi sesuap nasi untuk anak jalanan yang bertaburan di kolom jempatan.

“JANGAN PERNAH BERNIAT MEMBACA YANG TERSIRAT  KARENA DENGAN SENDIRINYA ITU AKAN TERBACA, TAPI BERNIAT DAN BERJUANGLAH MEMBACA SESUATU YANG TIDAK TERSIRAT KARENA TANPANYA TIDAK AKAN TERBACA”.

*Mahasiswa Fak. Psikologi Semester V, Ketua Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah 2012-2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: