MEMBANTAI SIFAT KEBINATANGAN

Dunia hari ini, sangat mendambakan sosok manusia seperti Ismail AS. yang  dengan ketulusan hati dan kehalusan budi,  rela mengorbankan kepentingan individual demi untuk meraih kesalehan sosial. Walaupun dia menyadari, tidak ada satu-satunya yang sangat berharga  dalam kehidupan ini melainkan nyawa, akan tetapi demi sebuah peradaban, betapa pentingnya nuansa sosial dalam sebuah peribadatan, nyawapun tidak berharga baginya, apa lagi ketika dia menyadari bahwa dirinya itupun bukanlah miliknya, dia adalah titipan atau pinjaman, ketika yang empunya menghendaki hak milik-Nya, tidak ada alasan untuk dia enggan mengembalikannya.

Ternyata Allah tidak sekejam yang dibanyangkan, sifat Arrahman dan Rahim-Nya lebih dahulu dari kemurkaan-Nya. Tuhan dalam Islam bukanlah Tuhan seperti dalam agama primitif, yang menggambarkan Tuhan dalam bentuk sadis dengan mata terbelalak, gigi sebesar kapak serta hauskan darah. Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang penuh dengan rasa kelembutan, kasih dan sayang-Nya kepada hamba-Nya melebihi dari kasih seorang ibu kepada anaknya. Sehingga dalam sebuah hadis qudsi dijelaskan; “Aku sangat ingin untuk mendekatimu wahai manusia, tapi kamu yang jauh-jauh dari-Ku, jika kamu mendekati-Ku dengan berjalan kaki,maka Aku akan mendekatimu dengan berlari”. Continue reading

JANGAN HANYA TINGGAL NAMA

Dunia Islam yang pernah suatu ketika dahulu mengalami masa kejayaan, kini hanya tinggal menjadi catatan tinta emas bagi penulis sejarah. Keterpurukan dan ketinggalan dunia Islam dalam berbagai aspek tergambar dari ungkapan salah seorang tokoh Pembaharuan dalam Islam Syeikh Muhammad Abduh ketika beliau pertama kali menjejakkan kakinya di Perancis. Ketika melihat Perancis dengan berbagai macam kemajuan dan keteraturannya, beliau tersentak seakan baru bangun dari tidur yang ditemani oleh mimpi buruk, maka secara spontan keluar ungkapan dari mulut beliau; “saya melihat Islam di Perancis, akan tetapi tidak ada Muslim”. Tidak lama kemudian, beliau kembali ke Mesir,tempat di mana beliau berkifrah. Sesampainya beliau di Mesir, karena masih dipengaruhi oleh suasana kekaguman terhadap Perancis, maka secara spontan pula terlontar lagi ungkapan dari mulutnya; “saya melihat muslim di Mesir, akan tetapi tidak ada Islam”. Andaikata pada waktu itu beliau menyempatkan diri datang ke Indonesia, yang konon mayoritas penduduknya beragama Islam, sudah pasti ungkapan yang sama ketika beliau pulang ke Mesir, sangat cocok dan sesuai pula ditujukan untuk umat Islam Indonesia; “saya melihat muslim di Indonesia, akan tetapi tidak ada Islam”.

Ternyata Islam  baru berada pada dataran formalitas, ataupun barangkali khusus untuk Indonesia, disinilah letak kelemahannya Islam yang datang ke Nusantara dahulunya melalui proses damai, adaptasi dan asimilasi, sehingga nilai-nilai buruk dari budaya lama,masih belum bisa tercabut sampai keakar-akarnya. Singapura umpamanya, yang mayoritas penduduknya beragama Konghucu, ternyata ruh Islam ada di sana. Sebagai contoh, denda sebanyak lima ratus dolar Singapura bagi yang membuang sampah dan meludah sembarangan masih tetap berlaku di sana. Ternyata hadis Rasulullah yang selalu menjadi hiasan bibir bagi umat Islam bahwa kebersihan itu adalah sebahagian dari iman, yang mengamalkannya bukan umat Islam di negara kita ini, akan tetapi umat Konghucu di Singapura. Belum lagi contoh yang lainnya, termasuk masalah korupsi yang boleh dikatakan hampir tidak kita dengar di negara yang berlambang singa tersebut, berbanding dengan negara kita yang mayoritas penduduk dan pemimpinnya  beragama Islam.

Ada pendapat yang mengatakan; “ bahwa korupsi itu adalah merupakan budaya bangsa Indonesia”,kalau pendapat ini memang benar adanya, yang dimaksud dengan budaya, berarti telah mengkristalisasi terhap kepribadian bangsa. Yang sangat mengkhawatirkan kalau-kalau bangsa ini sedang mengarah menuju kepada sebuah perumpamaan. Konon diceritakan ada sebuah perkampungan yang letaknya di kaki gunung Merapi. Karena masyarakat kampung tersebut mengkonsumsi air kekurangan yudium, sehingga pada umumnya masyarakatnya terkena penyakit gondok. Akhirnya penyakit gondok adalah merupakan hal yang biasa dan dianggap menjadi hiasan leher bagi seseorang. Ketika salah seorang pemuda dari kampung tersebut melanjutkan pendidikannya keluar daerah dan sempat berkenalan dengan seorang gadis dari daerah lain serta berencana akan melangsungkan pernikahan, sungguh sangat ironis, pernikahan terpaksa dibatalkan, karena dari pihak laki-laki tidak melihat tanda-tanda adanya gondok di leher calon isteri.

Kisah ini memberikan suatu gambaran, bahwa keburukan yang dilakukan jika sifatnya sudah menyeluruh dan terjadi berulang-ulang kali, hingga akhirnya dianggap sebagai suatu yang lumrah, maka tidak mustahil, pandangan menjadi berobah, atau dengan kata lain, bila kezaliman terus menerus dilakukan, maka lama kelamaan akan menjadi sebuah tindakan yang dibenarkan.

Sudah begitu kronisnya penyakit bangsa ini, kalau sudah demikian halnya apakah masih layak label Islam diberikan kepadanya?, karena apa yang dilakukannya sudah sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Yang sangat mengkhawatirkan lagi kalau-kalau nilai luhur dari ajaran Islam ternodai oleh perangai umatnya, khususnya lagi umat Islam Indonesia. Sudah cukuplah selama ini segala macam tuduhan yang sifatnya negatif diarahkan kepada Islam, Islam sebagai agama teroris, agama fondamentalis, agama kelas bawah dan sebagainya. Selanjutnya jika orang mengarahkan pula kepada umat Islam di Indonesia, maka semakin lengkaplah lagi tuduhan negatif brikutnya; “Islam agama perampok, alias maling, alias korupsi”, sebab dalam kenyataan yang kita lihat sangat jarang orang melihat suatu agama dari ajarannya, yang pertama kali dilihat adalah umatnya.

Mengapa harus jadi begini? Apakah perangai buruk seperti korupsi yang sudah membudaya ini tidak bisa dikikis oleh nilai-nilai kebudayaan lain seperti agama? Jika ditinjau dari sudut pendidikan, berarti ada yang tidak beres terhadap pengajaran agama yang diberikan selama ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Qutb; “pengajaran agama telah mengecut kepada kadar helaian-helaian teks yang kecil untuk dihadapi dan diuji pada setiap ujian semester, yang lebih ditekankan adalah aspek kognitifnya, kepada murid-murid dikehendaki menghapal dan mengemukakan hasil hapalannya itu pada waktu ujian dilaksanakan. Sementara aspek afektif, amaliah dan penghayatan terbiar dan tidak dititikberatkan. Akibatnya pendidikan agama yang tersepit hanya berfungsi memenuhi ruangan yang sempit.”

Penyakit  kronis ini sudah tentu tidak bisa dibiarkan dan hanya ditinjau dari satu aspek, diperlukan penanganan secara integral. Di samping itu keikhlasan kita selaku umat beragama, khususnya umat Islam sangat dituntut, karena tidak mustahil, jika kita sama-samakita bertekad untuk memperbaikinya, umat Islam di Indonesia akan menjadi umat yang terbaik  dan menjadi contoh  bagi umat di seluruh dunia. Akan tetapi jika tidak segera kita sadari, tidak musahil, Islam hanya tinggal nama.

Sebagai contoh, sebagaimana yang terjadi di Tunisia. Sudah lebih dari dua tahun Mohamad Bouazizi menjadi pejuang bagi bangsa tersebut. Pada tanggal 17 Desember 2010, selesai mengerjakan shalat Jumat, pemuda 26 tahun ini membakar diri di depan kantor pemerintah kota kelahirannya itu. Aksi nekatnya ini yang tidak ditemukan dalam akar budaya Arab ia lakukan karena frustrasi. Selepas lulus dari sebuah perguruan tinggi, pekerjaan tidak segera ia dapatkan, seperti halnya jutaan pemuda lainnya di negera kita pada saat ini.

Untuk menyambung hidup, tanpa rasa malu, walaupun dia seorang sarjana, Bouazizi mendorong gerobak berjualan sayur dan buah-buahan. Akan tetapi sungguh malang nasibnya, polisi merampas gerobaknya. Ia dilarang berjualan di pinggir jalan karena dianggap mengganggu ketertiban dan keindahan kota. Puncak dari frustrasinya, ia pun mengambil keputusan untuk membakar diri. Nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Tersentak, seluruh Tunisia pun bergolak. Nasib naas Bouazizi seolah-olah mewakili aspirasi sebagian besar rakyat Tunisia yang masih banyak hidup dalam kemiskinan, kenaikan harga pangan, pengangguran dalam jumlah besar, korupsi yang merajalela. Revolusi rakyat yang dipicu aksi bakar diri ini lalu menginspirasi rakyat di sejumlah negara Arab. Apa yang terjadi di Tunisia ini, mudah-mudahan tidak terjadi di negara kita, sebab negara kita ini tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi yang tidak kalah pentingnya dari itu adalah pemerataan ekonomi. Wallahu’alam.

Oleh : H. KASMURI, MA (REKTOR IAIN BATUSANGKAR)

 

FITRAH DALAM PENGERTIAN KESUCIAN KASIH SAYANG DAN KECINTAAN

Begitu tadi malam dikumandangkan suara takbir, berarti hal itu menunjukkan suatu pertanda, bahwa berakhirlah sudah ibadah bulan suci Ramadhan kita pada tahun ini.sehingga hari-hari yg akan datang,atau nanti malam, tidak kita dengar lagi suara imam yang mengimami shalat Tarawih, suara para pemuda pemudi yang bertadarus al-Quran. Kalaupun ada nanti sore, kita hanya mendengarkan suara-suara kaset yang diputar menjelang dikumandangkannya suara azan. Mesjid kembali sepi, mushalla kembali sunyi, di tengah malam yang terdengar hanya suara lolongan anjing, disertai bunyi jenggkrik dan lengkapi dengan bunyi detak detik jam di dinding masjid, yang memecah kesepian malam.

Selamat berpisah wahai Ramadhan, mudah-mudahan untuk tahun yang akan datang kami masih bisa lagi untuk bersama denganmu, dan khusus Ramadhan tahun ini, kepada-Mu ya Allah, dengan berbagai macam kekurangan dan kelemahan, hanya itu yang dapat kami persembahkan, dengan sifat ar-Rahman dan ar-RahimMu, terimalah ibadah kami yang sangat jauh dari kesempurnaan. Namun kami yakin, cita-cita dan harapan kami untuk mendapatkan maghfirah, Engkau kabulkan, sehingga kami berhasil lolos pada Ramadhan tahun ini sebagai hamba yang terlahir kembali dalam keaan fitrah. Continue reading

CINTA ITU MEMBAHAGIAKAN. KATA SIAPA ?

Oleh : Ade Novit Rachmawan

 

Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak menginginkan kebahagiaan. Semua tindak-tanduk aktifitas yang dilakukan manusia sudah pasti akan berorientasi pada satu tujuan, yaitu kebahagiaan. Lalu apakah makna kebahagiaan itu sendiri ?. Arisoteles memberikan pengertian menarik tentang ini. Menurutnya, kebahagiaan adalah good feeling (perasaan senang), having fun (besenang-senang),  having a good time (mempunyai waktu yang baik), atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Nah, hari-hari ini nih banyak diantara kita ketika sedang mencari kebahagiaan, selalu saja diidentikkan dengan pasangan (khususnya yang muda-mudi nih, heuheu), yang seakan-akan pasangan adalah segala-galanya, dan jomblo adalah status mengerikan yang sebisa mungkin harus dihindari, yang selama ini jomblo seakan-akan menjadi orang yang terkucilkan dalam sebuah tatanan masyarakat. Untung saja tak ada hukuman pasung bagi para jomblo. Huahaha. “Jomblo itu berat, kamu tak akan kuat, biar aku saja. heueheu”. Realitas seperti itu sudah tak bisa lagi dihindarkan lagi hari-hari ini. Realitas yang memberikan sebuah kesan bahwa “punya pasangan berarti bahagia, tidak punya pasangan berarti tak bahagia”. Maka jangan heran jika pada saat ini, manusia (anak muda) semakin menyempitkan makna kebahagian dengan hanya membubuhkan pasangan sebagai sumber kebahagian. Pun juga sebaliknya, bahwa sumber kesedihan orang terletak hanya dari seorang pasangan. Seakan sangat sulit menemukan kebahagian hidup selain mengenai pasangan. Realitas yang membuat saya semakin bertanya-tanya dengan kualitas hidup di zaman modern. Sebercanda itukah cinta ?. ecieeeee.

Biasanya, kata “cinta” selalu melekat dalam proses berpasangan. Kata “cinta” adalah simbol suci yang harus terbubuhkan dalam aktifitas berpasangan. Biasanya sih gitu ?, kamu gitu nggak ? heuheu. Cinta selalu tak bisa jauh dari kata bahagia. Kamu bahagia ngga sama dia ? Huahaha. Tapi kenapa banyak yang galau karena cinta ? cieeeee. Banyak yang stress, kacau, gundah, pusing, hancur, wa ala alihi wa sohbih. Loh, katanya cinta akan memberikan kebahagiaan ? lha ini trus gimana ? yang salah siapa ? cinta kah ? kamu kah ?. “Cinta itu berat, kamu tak akan kuat, biar aku saja.” Huahaha.

Coba kita tengok sebentar tips bercinta menurut Sabrang MDP alias Noe Letto. Nih, kata beliau, “ Rabi kui dudu mencari bahagia, lha kui konsep salah kui, rabi kok mencari bahagia ? tak jamin kecewa koe. Makanya ada konsep bahwa kawin di lima tahun pertama di jamin goyah, nanti setelah lewat lima tahun stabil, karena konsep rabimu golek bahagia ! ketika sebelum rabi kamu harus menemukan bahagia dalam dirimu sendiri. Dan ketika kowe rabi urusannya adalah membagi dan memberi kebahagiaan. lagi-lagi kita tertipu oleh peribahasa “badai pasti berlalu, kan ngono kalimate ? do lali, nek hari yang cerah ki yo berlalu, podo ae, mok pikir badai berlalu njuk entek ra ono badai maneh ? yok ono kok mestine, urip kok. Iki sing jomblo bahaya, njuk do wegah rabi ki”. *Jika anda butuh translate, anda bisa hubungi nomor ini, 085608244505. Huahaha …

Hmmm, gimana guys ? sudah sesak kah dada kalian ? hihihi. Biar semakin sesak, nih ada lagi pitutur dari mbah kita Erich Fromm, “Yang terpenting dalam hal ini (bercinta) bukan soal bahwa dia telah mengorbankan hidupnya demi orang lain, melainkan bahwa dia telah memberikan apa yang hidup dalam dirinya; dia memberikan kegembiraannya, kepentingannya, pemahamannya, pengetahuannya, kejenakaannya, kesedihannya-semua ekspresi serta manifestasi yang ada dalam dirinya. Dengan tindakan tersebut seseorang telah memperkaya orang lain, meningkatkan perasaan hidup orang lain lewat peningkatan perasaan hidupnya sendiri.” Iyuuuh benget kan ?

Dari dua pitutur tersebut, sebenarnya kita sudah bisa menebak inti keduanya. Bahwa sebenarnya dalam diri kita ada sebuah kebahagiaan yang harus terus kita cari, jangan sampai nggak dapet, harus dapet. Kita harus cerdas dan super kreatif untuk menemukan kebahagiaan dalam diri kita sendiri. Nah urusannya dengan cinta adalah kita tidak sedang mencari kebahagiaan. lha wong kita sudah bisa bahagia sendiri kok. Urusannya dengan cinta adalah bagaimana kita bisa dan mampu memberikan, membagi, mengeksplorasi kebahagiaan yang sudah ada dalam diri kita kepada orang lain, mungkin khususnya orang yang kita cinta. Dengan ini akan ada hubungan positif yang bernuansa take and give atau give and take. Dan mungkin tidak akan lagi ada cerita aktivis yang tak lagi aktif atau kritis karena sibuk pacaran. Tidak akan lagi ada cerita karir seorang hancur karena masalah cinta atau cerita-cerita semacamnya. Semua saling respect dan saling mendukung. Romantis beut kan guys ?.