NILAI-NILAI ASWAJA

Dalam kegiatan mapaba, salah satu materi yang diberikan adalah mengenai nilai-nilai aswaja. Nilai-nilai aswaja terdiri dari 4 macam, yaitu;

  1. Tawasuth (Moderat)

Tawasuth adalah sebuah sikap tengah yang tidak cenderung ke kanan atau ke kiri. Sikap tengah yang berintikan  kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah–tengah kehidupan bersama dan tidak ekstrim.
kebalikan dari tawasuth yaitu tatharruf, ekstrim, berlebih-lebihan. Misalnya, pada zaman sekarang kita banyak melihat tren baju syar’i dan menggunakan niqab. Orang awam banyak yang ikut-ikutan berpakaian dengan cara tersebut. Padahal pakaian yang mereka pakai itu panjangnya sampai jatuh ke lantai sehingga menjadikan pakaian tersebut najis. Itu yang dimaksud tatharruf atau berlebihan. Sikap tersebut dilarang dalam agama Islam. Karakter at-tawasuth ini harus mampu diwujudkan dalam berbagai bidang, agar nantinya sikap dan tingkah laku umat Islam dapat dijadikan sebagai teladan dan ukuran manusia pada umumnya. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat ekstrim.

 

  1. Tawazun (Berimbang)

Tawazun adalah sikap berimbang dalam menghadapi persoalan atau pertimbangan-pertimbangan untuk mencetuskan sebuah keputusan. Dalam konteks pemikiran, tawazun menghindari sikap tatharruf. Tawazun sangat erat hubungannya dengan peraturan (manage) waktu agar dapat mencapai tujuan yang ingin dicapainya. Misalnya, kita belajar di UIN Malang bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi sekaligus mahasantri Ma’had Sunan Ampel al-Aly yang memiliki kewajiban-kewajiban selain belajar di kuliah reguler. Kita juga belajar ta’lim di ma’had. Kegiatan di ma’had lebih banyak dibanding kegiatan kampus. Terlebih bagi mahasiswa tahfidz yang harus bertanggung jawab dengan ayat-ayat yang telah dihafalnya. Mereka harus pandai me-manage waktu semaksimal mungkin untuk mencapai target yang ingin dicapainya. Bukan hanya mendapatkan nilai yang baik di kampus, tapi mereka juga mendapatkan nilai yang memuaskan di ta’lim ma’hadnya dan bisa murajaah hafalannya dengan lancar.

 

  1. Ta’adul (Netral dan Adil)

Ta’adul ialah sikap adil dalam menyikapi suatu persoalan. Adil adalah sikap proporsional dalam menyikapi persoalan berdasarkan hak dan kewajiban. Ta’adul merupakan sikap yang bernilai tinggi, baik, dan mulia. Apabila Ta’adul diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, serta bangsa dan negara, sudah tentu ketinggian, kebaikan, dan kemuliaan akan diraih. Jika seseorang mampu mewujudkan keadilan dalam dirinya sendiri, tentu akan meraih keberhasilan dalam hidupnya, memperoleh kegembiraan batin, disenangi banyak orang, dapat meningkatkan kualitas diri, dan memperoleh kesejahteraan hidup duniawi serta ukhrawi (akhirat). Cara membiasakan diri bersikap ta’adul yaitu dengan cara menyadari pentingnya keadilan dalam kehidupan. Saya pernah mengalami kebimbangan antara diajak teman yang sejak SD sampai sekarang untuk pergi makan berdua karena kami sudah lama tidak bertemu. Di sisi lain, saya diajak teman yang baru saya kenal satu semester ini untuk menemani dia sowan ke Pak Kyai sore itu juga. Akhirnya saya memilih menemani teman saya sowan ke Pak Kyai terlebih dahulu karena lebih mendesak. Baru kemudian saya menemani makan teman SD saya.

 

  1. Tasamuh (Toleransi)

Tasamuh ialah sikap toleran terhadap perbedaan, baik agama, pemikiran, keyakinan, sosial kemasyarakatan, budaya, dan berbagai perbedaan lain. Istilah Toleransi dalam konteks sosial budaya dan agama berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu masyarakat. Islam sebuah agama yang mengajarkan kepada umat manusia untuk selalu menghormati serta toleransi terhadap sesama dan menjaga kesucian serta kebenaran ajaran Islam. Dengan ini, fakta telah membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan hidup toleransi terhadap semua agama. Dalam keadaan apapun dan kapan saja, Islam sebagai agama Rahmatal Lil’alamin senantiasa menghargai dan menghormati perbedaan, baik perbedaan suku, bangsa, dan keyakinan. Hal sangat ini jelas, bahwa Islam selalu memberikan kebebasan berbicara dan toleransi terhadap semua pemeluk agama dan berkeyakinan serta rasa hormat bagi umat manusia, tampa membeda-bedakan satu sama lain. Contoh dari toleransi yang pernah saya alami adalah saya pernah berkunjung ke rumah relasi kerja ayah saya yang beragama Katolik ketika Hari Natal. Kedatangan saya sekeluarga disambut penuh kebahagian seperti kami sedang merayakan natal bersama.

 

Penulis : Fairuza Maulidia, Anggota PMII Rayon                                                                            “Penakluk”  Al-Adawiyah angkatan 2017

 

Advertisements

MEMBANTAI SIFAT KEBINATANGAN

Dunia hari ini, sangat mendambakan sosok manusia seperti Ismail AS. yang  dengan ketulusan hati dan kehalusan budi,  rela mengorbankan kepentingan individual demi untuk meraih kesalehan sosial. Walaupun dia menyadari, tidak ada satu-satunya yang sangat berharga  dalam kehidupan ini melainkan nyawa, akan tetapi demi sebuah peradaban, betapa pentingnya nuansa sosial dalam sebuah peribadatan, nyawapun tidak berharga baginya, apa lagi ketika dia menyadari bahwa dirinya itupun bukanlah miliknya, dia adalah titipan atau pinjaman, ketika yang empunya menghendaki hak milik-Nya, tidak ada alasan untuk dia enggan mengembalikannya.

Ternyata Allah tidak sekejam yang dibanyangkan, sifat Arrahman dan Rahim-Nya lebih dahulu dari kemurkaan-Nya. Tuhan dalam Islam bukanlah Tuhan seperti dalam agama primitif, yang menggambarkan Tuhan dalam bentuk sadis dengan mata terbelalak, gigi sebesar kapak serta hauskan darah. Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang penuh dengan rasa kelembutan, kasih dan sayang-Nya kepada hamba-Nya melebihi dari kasih seorang ibu kepada anaknya. Sehingga dalam sebuah hadis qudsi dijelaskan; “Aku sangat ingin untuk mendekatimu wahai manusia, tapi kamu yang jauh-jauh dari-Ku, jika kamu mendekati-Ku dengan berjalan kaki,maka Aku akan mendekatimu dengan berlari”.

Terbukti, peristiwa pembantaian Ibrahim terhadap anaknya Ismail adalah sebuah anti tesis terhadap sifat sadis yang kadangkala terdapat dalam diri manusia, yang suka membunuh antara  satu dengan yang lainnya. Pembunuhan yang dimaksudkan di sini adalah pembunuhan dalam pengertian universal, pembunuhan secara fisik, pembunuhan secara politik, pembunuhan karakter, pembunuhan karir dan sebagainya. Allah tidak menghendaki semuanya itu. Ketidaksetujuan Allah, dikiaskannya dalam  peristiwa pembantaian atau penyembelihan Ibrahim terhadap Ismail anaknya, kemudian ditukar oleh Allah dengan seekor domba, yang di dalamnya mengisyaratkan sebuah pengertian, bahwa, dalam kondisi apapun juga,manusia jangan dikorbankan. Sebab sifat saling korban mengorbankan itu adalah sifat binatang, jika kita mengorbankan sesama manusia, berarti kita menganggap bahwa manusia yang kita korbankan itu adalah binatang, dan logikanya pula, kita yang mengorbankan itupun adalah binatang.

Nuansa sosial yang lainnya dari peristiwa tersebut, dengan penyembelihan hewan korban, Allah menyuruh kita berbagi dalam kehidupan ini, sebab di dalam Islam kesolehan sosial lebih besar pahalanya ketimbang kesolehan individual. Terbukti, shalat sendirian pahalanya hanya satu darjat, shalat berjemaah, karena ada nuansa sosialnya pahalanya 27 darjat. Di dalamnya juga mengandung makna, Allah menghendaki kita, saling cinta menyintai, saling sayang menyayangi antara satu dengan yang lain, saling asah, saling asih,saling asuh, sebab Allah tidak mengehendaki kita masuk syurga sendirian, syurga yang penuh rahmah, dikehendaki oleh Allah supaya kita masuk ke dalamnya secara berjemaah.

Tak kalah pentingnya dari peristiwa korban tersebut, Allah menyuruh kita supaya membantai sifat kebinatangan di dalam diri, karena dengan sifat kebinatangan ini, kita saling cakar mencakar antara yang satu dengan yang lain, saling gasak, saling gesek, saling gosok, bahkan manusia tidak obahnya seperti “homo ho mini lupus” yaitu serigala bagi manusia lainnya. Justru itulah, untuk menggambarkan sifat kebinatangan ini, di dalam al-Quran sengaja Allah cantumkan nama-nama surah yang berhubungan dengan nama binatang, seperti surah An-Namal yang artinya semut dan surah Al-Ankabut yang artinya laba-labah.

Ada apa dengan semut? Di satu sisi Allah melarang kita meniru sipat semut, semut membikin rumah sama sifatnya dengan rumah manusia, berbilik-bilik atau berkamar-kamar, bahkan ada gudang sebagai tempat penyimpanan barang.

Dengan sifat ketamakannya, seringkali kita lihat, semut membawa barang atau makanan yang lebih besar dari badannya. Barang tersebut ditimbun dan disimpan untuk persediaan tujuh keturunan dan puluhan tahun, tapi sayang, umurnya sendiri tidak sampai satu tahun.

Lain pula halnya dengan surah Al-Ankabut yang artinya laba-labah, mungkin tidak ada binatang yang lebih mengerikan dari binatang ini. Sarangnya walaupun lemah, jelas bukan tempat yang aman bagi makhluk lainnya. Apapun yang berlindung atau terjaring di sana pasti akan disergapnya dengan tidak kenal ampun. Bukan itu saja, jantannya sendiri selepas berhubungan selalu dibunuh oleh betinanya, bahkan telurnya yang menetaspun selalu saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan antara sesamanya.

Manusia berbudaya semut senang menghimpun dan menumpuk sesuatu yang kadangkala tidak sempat dinikmatinya. Ia menumpuk-numpuk harta tanpa mengerti makna dan tujuan dari harta titipan Allah itu kepadanya, sehingga ia tetap saja seolah-olah fakir dan miskin sepanjang masa. Aji mumpung adalah handalan ilmunya. Sedangkan manusia yang bermentalitas laba-labah, tidak lagi butuh berpikir apa, di mana dan kapan ia makan , tetapi yang mereka pikirkan adalah, siapa hari ini yang akan mereka makan.

Logikanya apa? Manusia yang bermentalitas seperti binatang-binatang ini, semuanya ingin serba mudah. Semboyannya: mencari yang haram saja sulit. Apa lagi yang halal.

Di samping itu, Ibdah kurban yang dilaksanakan pada hari Raya Kurban sering juga disebut dengan hari raya haji. Menyebut kata-kata haji atau ibadah haji, fakta sejarah berbicara, penjajah Belanda pernah mempersulit umat Islam Indonesia untuk menunaikan ibadah haji, yang mereka takutkan bukan mengerjakan ibadah haji secara formalitas, akan tetapi kengerian mereka, kalau-kalau ibadah yang bersifat formalitas itu,memanifestasikan dalam bentuk aktifitas yang berkualitas.

Untuk memastikan hal ini, penjajah Belanda mengutus Snouck Hurgronje seorang orientalis dengan menukar namanya menjadi Abdul Gaffar, untuk menyelidiki umat Islam yang mengerjakan ibadah haji. setelah berbulan-bulan lamanya dia berada di Mekkah dan Masjidil Haram,serta berpura-pura masuk Islam, kemudian setelah mengamati pola tingkah laku umat Islam Nusantara, akhirnya dia merekomendasikan kepada pihak penjajah Belanda dengan mengatakan: “ izinkan saja umat Islam Indonesia mengerjakan ibadah haji, sebab ibadah haji yang dikerjakannya tidak sedikitpun berpengaruh kepada perangainya. Sebagaimana dia pergi, begitu juga dia kembali.” Apa yang dikatakan oleh Snouck Hurgronje itu memang benar adanya, sebab tujuan berhaji kadangkala hanya untuk meningkatkan status sosial dalam kehidupan masyarakat, bahkan tidak jarang juga untuk mengelabui mata masyarakat, sebagai manipulase terhadap perangai buruk yang dilakukan selama ini”.

Contoh yang sangat sederhana, bagi kita yang sudah berpengalaman mengerjakan ibadah haji. Kita pernah menyaksikan bagaimana pengotornya umat Islam Indonesia, mereka membuang sampah sembarangan, tidak jauh dari tempat melontar jumrah di sepanjang jalan, kadangkala botol-botol aqua berserakan.

Nampaknya hadis Rasulullah yang sering kita baca, bahkan kadangkala tulisan hadis tersebut ada di pinggir-pinggir jalan kota yang berbunyi “Kebersihan itu adalah sebagian dari iman”. Hanya sekedar ungkapan bibir atau polesan lifstik belaka. Yang mengamalkan hadis ini adalah umat yang beragma lain, terbukti jika kita keluar negeri seperti ke Singapura, dengan penduduknya mayoritas cina dengan agamanya konghucu, jika kita membuang sampah  dan juga meludah sembarangan, maka kita akan didenda. Jika kita keluar negeri juga, kita akan melihat, wc.wc umum mereka sangat bersih, bahkan harum baunya, melebihi harumnya bau kamar tidur di rumah kita.

Akan tetapi yang sangat eronis, di tempat kita, institusi-institusi agama, yang sepatutnya memberikan contoh bagi tempat yang lain, seperti pesantren-psantren, perguruan tinggi Islam, bahkan masjid dan mushalla, bau wc nya sungguh na’uzubillah, rasanya seperti mau muntah.

Dari hadis “kebersihan  sebahagian dari iman” itu orang bisa jadi kaya raya. Berhadapan dengan rambut yang kotor, akhirnya melahirkan pabrik shampo, pakaian yang kotor melahirkan pabrik rinso, badan yang berbau busuk melahirkan sabun lux, rumah atau karpet yang berdebu melahirkan vacuum cleaner. Tapi sangat disayangkan, kesemua pabrik-pabrik itu yang menciptakannya atau yang memilikinya bukanlah umat Islam, akan tetapi umat yang beragama lain. Usahkan itu, untuk benda yang sangat sederhana saja, ketika kita mengerjakan ibadah haji, berbagai macam bentuk tasbih yang dijual di Makkah, itupun kebanyakannya adalah made in Cina.

Jika kita mau merenung dan berpikir, ternyata ibadah di dalam Islam seperti shalat apa lagi haji adalah ibadah yang aktif dan kreatif. Shalat mulai dari berdiri, rukuk, sujud dan sebagainya, begitu juga dengan ibadah haji, thawaf dengan cara mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali, sa,i yaitu berlari-lari kecil antara bukit shafa dan marwa juga tujuh kali, melontar jumrah dan sebagainya itu, semuanya itu penuh dengan berbagai macam gerakan. Sepatutnya sifat ibadahnya sama dengan perangai umatnya. Akan tetapi yang kita temukan adalah kebalikan, ibadahnya saja yang aktif, akan tetapi umatnya fasif. Umatnya sering membiarkan diri dalam kebodohan, kemalasan dan sifat keputus asaan. Kemudian disenandung pula dengan lagu-lagu yang penuh rasa kesedihan. “Patah hati terus merajuk, merajuk sampai ke hutan belukar, kain yang buruk berikan kami, buat penyapu si air mata, akhirnya karena pemikirannya tiap hari terkonsentrasi hanya untuk perut, sehingga tudung periukpun dibawa menari.

Di pihak yang lain pula jika kita mau membandingkan, dari sekian banyak umat yang beragama lain di dunia ini, umat Islamlah satu-satunya umat yang masih memiliki kitab suci yang tetap asli, akan tetapi yang menimbulkan tanda tanya di hati kita,mengapa umat ini pula nasibnya sangat terpuruk jika dibandingkan dengan umat yang beragama lain?

Berarti ada yang tidak beres dengan umat ini ataupun umat ini apa yang dilakukannya sangat tepat seperti yang dikatakan oleh Yusuf Qardhawi: “Kita sering menghiasi dinding-dinding rumah kita dengan ayat-ayat al-Quran. Akan tetapi kita membiarkan kepribadian kita gersang kering kerontang, tidak mau berakhlak seperti akhlaknya al-Quran. Kita sering membacakan al-Quran untuk orang yang sudah mati, akan tetapi kita tidak mau menjadikan al-Quran, sebagai hukum atau pedoman bagi kita yang masih hidup”.

Inilah salah satu di antara sekian banyak penyebab, mengapa umat Islam itu mundur. Karena sangat berbeda dalam memperlakukan al-Quran antara umat Islam sekarang dengan umat Islam terdahulu. Umat Islam pada masa sekarang membaca al-Quran tujuannya hanya semata-mata untuk mendapatkan pahala di hari akhirat, sementara umat Islam pada zaman kejayaan dahulu, membaca al-Quran apa lagi ketika mereka membaca ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, maka mereka lanjutkan dengan melakukan penelitian atau penyelidikan, sehingga melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan dalam Islam, seperti ahli ilmu kedokteran Ibn Sina, ahli sosiologi Ibn Khaldun, matematika Al-khawarizmi, pakar geologi Al-Biruni dan lain-lainnya lagi.

Kita tidak dapat membayangkan, betapa bangga dan berbahagianya kita, sekiranya listrik, pesawat terbang, komputer, hp dan sebagainya itu yang menemukannya adalah umat Islam, betapa besar manfaatnya untk kemajuan manusia sejagat, dan betapa besar pahala yang bakal diterima bagi yang menemukannya di hari akhirat. Sekali lagi sangat disayangkan, yang menemukannya bukanlah umat Islam, akan tetapi umat yang beragama lain.

Ibadah haji adalah pertemuan akbar yang dihadiri oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Dengan demikian haji memberikan kesempatan yang sangat besar bagi umat Islam untuk menggalang kesatuan di antara sesamanya, menyatukan tekad dan semangat, dan bersama-sama memikirkan persoalan yang mendera umat Islam pada saat ini.

Namun sangat disayangkan, tiap tahun umat Islam negerjakan ibadah haji, tiap tahun pula mereka dari seluruh penjuru dunia bertemu dan berkumpul. Akan tetapi sampai saat sekarang, semangat kesatuan itu tidak juga mereka miliki. Mereka saling gontok-gontokan antara yang satu dengan yang lain bahkan bunuh-membunuh atau saling berperang diantara sesama mereka.

Hal ini membuktikan sifat kebinatangan lebih dominan mengusai umat ini, atau dengan kata lain, umat Isam pada saat ini lebih banyak menonjolkan hal-hal yang bersifat negatif ketimbang hal-hal yang bersifat positif. Kenapa demikian? Sebab fenomena yang kita saksikan selama ini, umat Islam lebih banyak menyerap sifat-sifat kebinatangan atau kesyaitanan, ketimbang menyerap sifat-sifat Ketuhanan. justru itu melalui peristiwa kurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. terhadap anaknya Nabi Ismail AS. adalah momentum umat Islam untuk bangkit dari keterpurukan, dengan cara membantai sifat kebinatangan di dalam diri guna memberi tempat untuk menyerap sifat-sifat Ilahi. Wallahua’lam.

Oleh :  Kasmuri Selamat, Doktor Alumni Universiti Malaya

 

               

 

JANGAN HANYA TINGGAL NAMA

Dunia Islam yang pernah suatu ketika dahulu mengalami masa kejayaan, kini hanya tinggal menjadi catatan tinta emas bagi penulis sejarah. Keterpurukan dan ketinggalan dunia Islam dalam berbagai aspek tergambar dari ungkapan salah seorang tokoh Pembaharuan dalam Islam Syeikh Muhammad Abduh ketika beliau pertama kali menjejakkan kakinya di Perancis. Ketika melihat Perancis dengan berbagai macam kemajuan dan keteraturannya, beliau tersentak seakan baru bangun dari tidur yang ditemani oleh mimpi buruk, maka secara spontan keluar ungkapan dari mulut beliau; “saya melihat Islam di Perancis, akan tetapi tidak ada Muslim”. Tidak lama kemudian, beliau kembali ke Mesir,tempat di mana beliau berkifrah. Sesampainya beliau di Mesir, karena masih dipengaruhi oleh suasana kekaguman terhadap Perancis, maka secara spontan pula terlontar lagi ungkapan dari mulutnya; “saya melihat muslim di Mesir, akan tetapi tidak ada Islam”. Andaikata pada waktu itu beliau menyempatkan diri datang ke Indonesia, yang konon mayoritas penduduknya beragama Islam, sudah pasti ungkapan yang sama ketika beliau pulang ke Mesir, sangat cocok dan sesuai pula ditujukan untuk umat Islam Indonesia; “saya melihat muslim di Indonesia, akan tetapi tidak ada Islam”.

Ternyata Islam  baru berada pada dataran formalitas, ataupun barangkali khusus untuk Indonesia, disinilah letak kelemahannya Islam yang datang ke Nusantara dahulunya melalui proses damai, adaptasi dan asimilasi, sehingga nilai-nilai buruk dari budaya lama,masih belum bisa tercabut sampai keakar-akarnya. Singapura umpamanya, yang mayoritas penduduknya beragama Konghucu, ternyata ruh Islam ada di sana. Sebagai contoh, denda sebanyak lima ratus dolar Singapura bagi yang membuang sampah dan meludah sembarangan masih tetap berlaku di sana. Ternyata hadis Rasulullah yang selalu menjadi hiasan bibir bagi umat Islam bahwa kebersihan itu adalah sebahagian dari iman, yang mengamalkannya bukan umat Islam di negara kita ini, akan tetapi umat Konghucu di Singapura. Belum lagi contoh yang lainnya, termasuk masalah korupsi yang boleh dikatakan hampir tidak kita dengar di negara yang berlambang singa tersebut, berbanding dengan negara kita yang mayoritas penduduk dan pemimpinnya  beragama Islam.

Ada pendapat yang mengatakan; “ bahwa korupsi itu adalah merupakan budaya bangsa Indonesia”,kalau pendapat ini memang benar adanya, yang dimaksud dengan budaya, berarti telah mengkristalisasi terhap kepribadian bangsa. Yang sangat mengkhawatirkan kalau-kalau bangsa ini sedang mengarah menuju kepada sebuah perumpamaan. Konon diceritakan ada sebuah perkampungan yang letaknya di kaki gunung Merapi. Karena masyarakat kampung tersebut mengkonsumsi air kekurangan yudium, sehingga pada umumnya masyarakatnya terkena penyakit gondok. Akhirnya penyakit gondok adalah merupakan hal yang biasa dan dianggap menjadi hiasan leher bagi seseorang. Ketika salah seorang pemuda dari kampung tersebut melanjutkan pendidikannya keluar daerah dan sempat berkenalan dengan seorang gadis dari daerah lain serta berencana akan melangsungkan pernikahan, sungguh sangat ironis, pernikahan terpaksa dibatalkan, karena dari pihak laki-laki tidak melihat tanda-tanda adanya gondok di leher calon isteri.

Kisah ini memberikan suatu gambaran, bahwa keburukan yang dilakukan jika sifatnya sudah menyeluruh dan terjadi berulang-ulang kali, hingga akhirnya dianggap sebagai suatu yang lumrah, maka tidak mustahil, pandangan menjadi berobah, atau dengan kata lain, bila kezaliman terus menerus dilakukan, maka lama kelamaan akan menjadi sebuah tindakan yang dibenarkan.

Sudah begitu kronisnya penyakit bangsa ini, kalau sudah demikian halnya apakah masih layak label Islam diberikan kepadanya?, karena apa yang dilakukannya sudah sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Yang sangat mengkhawatirkan lagi kalau-kalau nilai luhur dari ajaran Islam ternodai oleh perangai umatnya, khususnya lagi umat Islam Indonesia. Sudah cukuplah selama ini segala macam tuduhan yang sifatnya negatif diarahkan kepada Islam, Islam sebagai agama teroris, agama fondamentalis, agama kelas bawah dan sebagainya. Selanjutnya jika orang mengarahkan pula kepada umat Islam di Indonesia, maka semakin lengkaplah lagi tuduhan negatif brikutnya; “Islam agama perampok, alias maling, alias korupsi”, sebab dalam kenyataan yang kita lihat sangat jarang orang melihat suatu agama dari ajarannya, yang pertama kali dilihat adalah umatnya.

Mengapa harus jadi begini? Apakah perangai buruk seperti korupsi yang sudah membudaya ini tidak bisa dikikis oleh nilai-nilai kebudayaan lain seperti agama? Jika ditinjau dari sudut pendidikan, berarti ada yang tidak beres terhadap pengajaran agama yang diberikan selama ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Qutb; “pengajaran agama telah mengecut kepada kadar helaian-helaian teks yang kecil untuk dihadapi dan diuji pada setiap ujian semester, yang lebih ditekankan adalah aspek kognitifnya, kepada murid-murid dikehendaki menghapal dan mengemukakan hasil hapalannya itu pada waktu ujian dilaksanakan. Sementara aspek afektif, amaliah dan penghayatan terbiar dan tidak dititikberatkan. Akibatnya pendidikan agama yang tersepit hanya berfungsi memenuhi ruangan yang sempit.”

Penyakit  kronis ini sudah tentu tidak bisa dibiarkan dan hanya ditinjau dari satu aspek, diperlukan penanganan secara integral. Di samping itu keikhlasan kita selaku umat beragama, khususnya umat Islam sangat dituntut, karena tidak mustahil, jika kita sama-samakita bertekad untuk memperbaikinya, umat Islam di Indonesia akan menjadi umat yang terbaik  dan menjadi contoh  bagi umat di seluruh dunia. Akan tetapi jika tidak segera kita sadari, tidak musahil, Islam hanya tinggal nama.

Sebagai contoh, sebagaimana yang terjadi di Tunisia. Sudah lebih dari dua tahun Mohamad Bouazizi menjadi pejuang bagi bangsa tersebut. Pada tanggal 17 Desember 2010, selesai mengerjakan shalat Jumat, pemuda 26 tahun ini membakar diri di depan kantor pemerintah kota kelahirannya itu. Aksi nekatnya ini yang tidak ditemukan dalam akar budaya Arab ia lakukan karena frustrasi. Selepas lulus dari sebuah perguruan tinggi, pekerjaan tidak segera ia dapatkan, seperti halnya jutaan pemuda lainnya di negera kita pada saat ini.

Untuk menyambung hidup, tanpa rasa malu, walaupun dia seorang sarjana, Bouazizi mendorong gerobak berjualan sayur dan buah-buahan. Akan tetapi sungguh malang nasibnya, polisi merampas gerobaknya. Ia dilarang berjualan di pinggir jalan karena dianggap mengganggu ketertiban dan keindahan kota. Puncak dari frustrasinya, ia pun mengambil keputusan untuk membakar diri. Nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Tersentak, seluruh Tunisia pun bergolak. Nasib naas Bouazizi seolah-olah mewakili aspirasi sebagian besar rakyat Tunisia yang masih banyak hidup dalam kemiskinan, kenaikan harga pangan, pengangguran dalam jumlah besar, korupsi yang merajalela. Revolusi rakyat yang dipicu aksi bakar diri ini lalu menginspirasi rakyat di sejumlah negara Arab. Apa yang terjadi di Tunisia ini, mudah-mudahan tidak terjadi di negara kita, sebab negara kita ini tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi yang tidak kalah pentingnya dari itu adalah pemerataan ekonomi. Wallahu’alam.

Oleh : H. KASMURI, MA (REKTOR IAIN BATUSANGKAR)

 

FITRAH DALAM PENGERTIAN KESUCIAN KASIH SAYANG DAN KECINTAAN

Begitu tadi malam dikumandangkan suara takbir, berarti hal itu menunjukkan suatu pertanda, bahwa berakhirlah sudah ibadah bulan suci Ramadhan kita pada tahun ini.sehingga hari-hari yg akan datang,atau nanti malam, tidak kita dengar lagi suara imam yang mengimami shalat Tarawih, suara para pemuda pemudi yang bertadarus al-Quran. Kalaupun ada nanti sore, kita hanya mendengarkan suara-suara kaset yang diputar menjelang dikumandangkannya suara azan. Mesjid kembali sepi, mushalla kembali sunyi, di tengah malam yang terdengar hanya suara lolongan anjing, disertai bunyi jenggkrik dan lengkapi dengan bunyi detak detik jam di dinding masjid, yang memecah kesepian malam.

Selamat berpisah wahai Ramadhan, mudah-mudahan untuk tahun yang akan datang kami masih bisa lagi untuk bersama denganmu, dan khusus Ramadhan tahun ini, kepada-Mu ya Allah, dengan berbagai macam kekurangan dan kelemahan, hanya itu yang dapat kami persembahkan, dengan sifat ar-Rahman dan ar-RahimMu, terimalah ibadah kami yang sangat jauh dari kesempurnaan. Namun kami yakin, cita-cita dan harapan kami untuk mendapatkan maghfirah, Engkau kabulkan, sehingga kami berhasil lolos pada Ramadhan tahun ini sebagai hamba yang terlahir kembali dalam keaan fitrah.

Hadirin yang berbahagia.

Jika kita menyebut kata-kata fitrah, terlalu banyak pengertian yang terkandung di dalamnya. Khusus khutbah kita pada hari ini, khatib hanya akan memberi judul: Fitrah Dalam Pengertian Kesucian, kasih sayang dan kecintaan

Manusia dari semenjak dilahirkan dlm keadaan suci, dia harus tetap mempertahankan kesuciannya itu sampai dia mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang fanak ini, caranya tidak lain adalah; karena manusia ditugaskan kedunia ini sebagai khalifah, khalifah dapat diartikan sebagai pemimpin, namun dalam pengertian lain dapat diartikan sebagai pengganti. pengganti siapa? Tidak lain adalah pengganti Allah atau perpanjangan tangan Allah dalam upaya memakmurkan dunia serta menjadi rahmat bagi alam semesta. Justru itu sebagai wakil atau pengganti, dia harus mempunyai sifat yang sama dengan yang diganti, maka tidak ada jalan lain kecuali meniru atau menyerap sifat-sifat yang dimiliki oleh Zat Yang Maha Suci yaitu Allah Robbul izzati.

Diantara sifat kesucian yang dimiliki olh Allah SWT. Yang harus diwarisi oleh kita selaku hamba-Nya, adalah sifat Ar-Rahman dan Arrahim Allah. Berangkat dari sifat ini pulalah Allah menyuruh kita melaksanakan ibadah puasa, tujuannya apa? Tidak lain adalah supaya meniru sifat-Nya, Allah tidak makan dan tidak minum, dalam keadaan tidak makan dan tidak minum, Dia tetap memberi rezeki atau memberi makan dan minum kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Justru itu kepada kita juga diharapkan demikian, manifestasi akhir atau puncak dari ibadah puasa yang kita kerjakan, Allah menyuruh kita membayar zakat fitrah, tujuannya adalah supaya kita bisa memberi makan kepada yang tidak berpunya atau berbagi kepada sesama.

Sifat Arrahman dan Arrahim Allah yg harus kita tiru tdk hanya cukup sampai di situ, dan tidak hanya terbatas utk umat agama tertentu, akan tetapi jangkauannya secara universal,sebagaimana Allah mencintai dan menyayangi semua hambaNya, sehingga jika benar-benar kita terapkan dalam kehidupan, maka kita akan benar-benar tampil sebagai umat pilihan.

Sebagai contoh dalam suatu riwayat diceritakan; setelah Rasulullah meninggal dunia, Abu Bakar Shiddik berkunjung ke rumah isteri Rasulullah, yaitu anaknya Aisyah. Abu Bakar bertanya kepada anaknya: “Wahai anakku, apa kira-kira amal ibadah yang pernah dilaksanakan oleh Rasulullah yang belum ayahnda kerjakan? Jawab Aisyah: “wahai ayahnda, setahu ananda apa yang pernah dilaksanakan oleh Rasulullah sudah ayahnda kerjakan semuanya, kalau adapun barangkali hanya satu”. “Apah itu?” tanya Abu Bakar. Jawab Aisyah: “Di sudut pasar kota Madinah, ada seorang pengemis buta nenek tua beragama Yahudi, hampir setiap pagi setelah selesai mengerjakan shalat Subuh, Rasulullah memberi makan pengemis buta tersebut, walaupun hapir setiap hari pula nenek tua itu mencaci maki beliau dengan berbagai macam perkataan kotor”. Singkat cerita, keesokan harinya selesai mengerjakan shalat Subuh, Abu Bakar Shiddik mengunjungi pengemis tersebut, juga membawa makanan utk diberikan kepada nenek tua si Yahudi itu. Mengetahui ada orang yang datang menyuguhkan makanan kepadanya dan ketika makanan itu akan dikunyahnya, nenek tua itu bertanya; “Siapa kamu”. Abu Bakar langsung menjawab; “aku ingin melakukan seperti biasanya. “Kamu bukan orang yang biasanya memberi aku makan, buat pengetahuan kamu, orang yang setiap pagi menyuguhkan makanan kepadaku, dia tahu dengan keadaanku, aku sudah tua, gigiku sudah tidak ada, makanan yang disuapkan ke mulutku adalah makanan yang lembut-lembut, sehingga mudah mulut ini mengunyahnya.

Mendengar ungkapan tersebut, Abu Bakar menangis terisak-isak, tidak tahan menahan deriaian air matanya serta berkata: “Buat pengetahuan kamu wahai nenek tua, orang yg setiap pagi memberi kamu makan itu dan setiap hari kamu caci maki, kini sudah tiada, dia sudah mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang fanak ini, pergi yang tidak mungkin akan kemali lagi, dia adalah Muhammad SAW.

 Mendengar ungkapan tersebut,nenek tua Yahudi buta itupun  jatuh tersungkur, karena tidak menduga, bahwa org yg dicaci makinya selama ini, ternyata adalah org yang menyuapkan makanan ke mulutnya setiap hari, dan dengan spontan terlafas dari bibirnya ungkapan dua kalimah syahadat, sebagai pertanda keislamannya. Ini sifat arrahman dan ar-Rahim Allah yang telah menyatu ke dalam jiwa Rasulullah.

Sifat tersebut tidak hanya pada diri Rasulullah, ternyata juga terdapat pada diri para sahabatnya, diantara sahabatnya itu adalah Umar bin Khattab. Umar terkenal sebagai seorang khalifah yang sangat kurang tidur pada waktu malam hari, ketika waktu malam tiba, dia sering meronda ke sana ke mari, mengawasi dan memperhatikan nasib dan keadaan rakyatnya.

Kejadian pada suatu malam, dari kejauhan dia melihat dua orang pedagang Nasrani yg sedang menunggang kuda serta membawa penuh sarat barang dagangan. Karena hari sudah larut malam, pedagang tersebut kelihatan letih dan mengantuk, tidak lama kemudian mereka mengikatkan kudanya pada sebatang pohon kayu rindang serta tertidur dalam keadaan pulas.

Melihat keadaan demikian itu, Umar bin Khattab langsung menghunus mata pedangnya, sambil mengelilingi dua pedagang tersebut sampai menjelang waktu subuh tiba. Tidak lama kemudian pedagang itu terjaga, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat seorang khalifah atau Presiden berada di samping mereka serta bertanya: “wahai khalifah, apa yang tuan lakukan di tempat ini?” dengan penuh senyuman khalifah Umar menjawab: “Aku lihat kamu tadi dalam keadaan mengantuk dan tertidur pulas, aku ingin memastikan kamu selamat berada di daerah kekuasaanku ini, dan aku tidak menginginkan kejadian buruk terjadi pada diri kalian berdua, seperti perampokan dan sebagainya”. Mendengar ungkapan tersebut, alangkah terharunya kedua pedagang Nasrani itu, serta secara tulus karena tertarik dengan kehalusan akhlak dan budi pekerti dalam Islam yang di dalamnya terdapat nuansa kasih dan sayang kepada sesama, secara spontan pula mereka melafaskan dua kalimah syahadat dan menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam.

Selain Umar, tidak kalah pentingnya sebagaimana yang dilakukan oleh seorang panglima perang dalam Islam ketika menghadapi tentara salib, atau dikenal dengan Perang Salib, yaitu Panglima Salahuddin Al-Ayyubi.

Ketika perang sedang berkecamuk, terdengar berita, panglima tentara salib yang dipimpin oleh panglima Richad atau dikenal dengan singa padang pasir dalam keadaan sakit. Sudah puluhan dokter dari Eropa mengobati beliau, tidak juga sembuh. Maka ketika itu juga panglima Salahuddin al-Ayyubi menyamar sebagai seorang kakek tua, lalu masuk ke dalam kemah panglima Ricdhad dan mengobatinya, maka tidak lama kemudian, panglima Ricad sehat seperti sedia kala.

Karena merasa berhutang budi, panglima Richad lalu bertanya: “Siapa kamu wahai pak tua?” maka seketika itu juga panglima Salahuddin al-Ayyubi membuka samarannya. Alangkah terkejutnya panglima Richad lalu berkata: “wahai Salahauddin, apa yg kamu lakukan ini? Bukankah aku ini musuhmu dalam peperangan? Bahkan ketika kamu mengobatiku, ada kesempatan untukmu membunuhku, kenapa hal itu tdk engkau lakukan?

Dengan tenang panglima Salahuddin menjawab: “Wahai panglima Richad, agamaku Islam melarang membunuh orang yang dalam keadaan lemah, kini kamu sudah sehat, maka besok kita teruskan peperangan kembali.

Hadirin yang berbahagia, ternyata Panglima Salahuddin Al-Ayyubi di samping dia adalah panglima yang gagah dan perkasa dalam Islam dia juga seorang dokter yang handal dalam mengobati berbagai macam penyakit. Dalam suatu riwayat pula dikatakan, karena terharu menyaksikan kehalusan budi pekerti dalam Islam yang dipraktekkan oleh Salahuddin al-Ayyubi, ada pendapat yang mengatakan secara diam-diam panglima Richad memeluk agama Islam.

Hadirin jemaah Id yang berbahagia

Ada ahli tafsir yang menafsirkan surah al-Fatihah, khususnya ketika berbicara tentang sifat ar-Rahman dan ar-Rahim Allah, menggambarkan bahwa kasih sayang Allah itu terpancar pada setiap makhluk ciptaan-Nya, sebagai contoh seekor induk ayam yg sedang bermain di halaman bersama anak-anaknya, tiba-tiba kelihatanlah seekor elang di udara, maka dengan secepat mungkin dia menyelamatkan anak-anaknya dengan cara memasukkan semua ananya di bawah sayapnya. Ini juga sebagai bukti pancaran dari kasih sayang Allah.

Binatang saja punya perasaan kasih sayang, sepatutnya apa lagi manusia. Dalam sebuah kisah diceritakan, kebiasaan masyarakat Jepang pada masa silam tidak menginginkan kehadiran orang tuanya yang sudah tua bangka dalam kehidupan keluarganya. Apabila orang tuanya sudah tua renta, maka dengan secepat mungkin mereka akan membuang orang tuanya itu ke dalam hutan belantara, tujuannya tidak lain adalah supaya orang tuanya itu mati dan dimakan oleh binatang buas.

Kejadian pada suatu hari, ketika seorang pemuda melihat ibunya yang sudah tua renta, bahkan sudah mendekati pikun, maka dengan secepat mungkin pula ia menggendong ibunya itu menuju ke arah hutan belantara, dalam perjalanan menuju distinasi, si ibu yang digendong itu menggapai apa saja yang berdekatan dengannya, mematah ranting-ranting kayu dan melemparkannya ke tanah.

Setelah sampai di tempat tujuan, pemuda tadi langsung meletakkan ibunya ke tanah lalu berkata; “Ibu, maafkan aku, karena terpaksa meninggalkan ibu di hutan belantara ini”. Dengan perasaan tenang si ibu berkata: “terima kasih wahai anakku atas kemurahan hatimu telah memelihara ibu sehingga tua renta seperti ini”. Buat pengetahuanmu walaupun hal ini engkau lakukan, kasih sayang ibu tidak pernah pudar kepada dirimu, dari kecil engkau ibu besarkan, bahkan kalau dapat tidak ada seekor nyamukpun ibu izinkan menggigit tubuhmu, setiap hari ibu khawatir akan keselamatanmu,termasuk juga kekhawatiran ibu, kalau-kalau engkau tersesat ketika akan keluar dari hutan ini. Akan tetapi jangan bimbang wahai anakku, di sepanjang perjalanan tadi, ibu sempat mematahkan ranting-ranting kayu, ikutilah tanda-tanda ranting kayu yang dipatah itu, agar engkau selamat pulang ke rumah.” Mendengar ungkapan dan ketulusan hati ibunya itu, pemuda tadi langsung kembali menggendong ibunya pulang ke rumah, serta bertekad utuk memeihara ibunya sampai ibunya itu meninggal dunia.

Hadirin yang berbahagia.

Kisah yang mengharukan itu juga adalah sebagai pancaran dari sifat kasih dan sayang Allah. Walaupun sudah demikian kasih sayang orang tua kepada anaknya, tapi masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Orang tua bisa saja mengusir dari rumah seorang anak yang durhaka kepadanya. Akan tetapi Allah, kasih sayangNya lebih dahulu dari kemurkaan-Nya.walaupun kita durhakan kepada-Nya, nikmatNya tetap berlimpah ruah yang  dikurniakan kepada kita.

Lihatlah matahari yang bersinar pada hari ini, tidak kira apakah kita seorang hamba yang beriman ataupun yang durhaka dan kafir, kita sama-sama menikmatinya, dan Allah tidak pernah meminta rekning matahari, sebagaimana PLN yang menagih rekning listrik setiap bulannya. Udara segar yang kita hirup, gratis, dan tidak dapat kita bayangkan berapa uang yang harus kita siapkan, andaikata setiap kita menghirup udara harus dibayar.

Justru itu wajarlah jika dalam surah Ar-Rahman, Allah bertanya kepada kita: “Nikmat manakah lagi yang engkau dustakan wahai manusia?” Bahkan dalam sebuah hadis qudsi dijelaskan, bahwa Allah berfirman: “jika kamu mendekatiKu dengan berjalan kaki, maka Aku akan mendekatimu dengan berlari, aku sangat ingin untuk mendekatimu, tapi kamu yang  jauh-jauh dari dari-Ku”.

Diceritakan pula bahwa Nabi Musa A. S pernah berdoa kepada Allah: “Ya Allah, janganlah hendaknya ada lagi orang yang mencaci makiku dan janganlah ada lagi orang memfitnahku”. Mendengar doa Nabi Musa yang demikian itu, maka Allah berfirman: “Wahai Musa jika itu doa yang kamu minta kepada-Ku, berarti kamu lebih hebat dari diri-Ku, buat pengetahuanmu wahai Musa, Aku ini Tuhan Zat Maha Pencipta serta Maha Pemurah, dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahimku berbagai nikmat yang telah Aku anugerahkan kepada manusia, walaupun demikian, mereka tetap mencaci maki-Ku dengan mengatakan Aku tidak adil dan sebagainya.

Demikianlah firah atau sifat kesucian yang dimiliki oleh Allah, yang jika kita berhasil meniru atau menyerapnya dan mempraktekkan dalam kehidupan, maka barulah kita menjadi umat yang memberi rahmat bagi sekalian alam. Umat yang saling mengasihi, mau berbagi dan penuh rasa peduli. Umat yang tidak tega menyaksikan, di sebelah rumahnya atau tetangganya bermandikan air mata karena derita,sementara di sebelahnya lagi atau di rumahnya sendiri penghuninya berdisko dan berdansa.

Jika  sifat positif ini telah mendarah daging dalam diri setiap pribadi kita, maka barulah sejalan dengan sebuah judul buku yang ditulis oleh Ahmad Rifa’i Rifan : “hidup sekali, berarti, lalu mati”.

Kekacauan yang terjadi dan hiruk pikuk di sana sini, tidak lain adalah karena mulai terkikisnya rasa kasih  sayang atau cinta di antara sesama kita, sehingga Islam selaku agama yang kita anut, yang artinya selamat dan harus menyelamatkan, hanya berada pada dataran formalitas, belum menjelma dalam bentuk aktifitas yang berkualitas. Masih melangit dan belum membumi. Kita tidak menyadari bahawa dahulu asal kita satu, lalu menjadi banyak, kemudian kembali kepada yang satu. Kita juga terlupa, bahawa syurga yang diciptakan Allah tidak enak jika ditempati sendirian, melainkan Allah menyuruh kita untuk masuk ke dalamnya secara berjemaah.

Sepetutnya kita harus lebih banyak menyerap atau meniru sifat-sifat ketuhanan, sehingga kita menjadi umat yang saling asah, saling asih dan saling asuh, akan tetapi dalam perjalanan kehidupan ini kita lebih banyak menyerap sifat-sifat kesyaitanan, sehingga kita menjadi umat yang saling gasak, saling gesek dan saling gosok. Kita terlupa akan tujuan dari kehidupan ini, kita juga tidak menyadari, bahw bahtera kehidupan yang sdang kita layari, akan berakhir kepada suatu titik pulau hentian yaitu kematian.

Ternyata dalam pengalaman kehidupan sehari-hari yang kita lihat, kematian itu bukan karena sakit, banyak orang yang sakit di rumah sakit tidak juga mati-mati, kematian bukan karena tua, banyak orang tua yang kita saksikan belum juga mati, kematian itu adalah karena kita hidup, orang yang hidup wajib mati, tidak kira sehat ataupun sakit, tidak kira tua ataupun muda.

Bahkan dalam sebuah perumpaan yang disampaikan oleh Ibn Tufail salah seorang tokoh filosof dalam Islam, dia mengibaratkan kematian itu tidak obahnya persis seperti seorang pemburu dikejar oleh seekor singa yang sangat lapar, si pemburu berusaha berlari menyelamatkan diri, akhirnya dalam pelariannya tersebut dia berhadapan dengan jurang yang sangat dalam, pilih satu anatara dua, terjun ke dalam jurang berarti mati, bertahan di tempat juga akan mati diterkam oleh singa. Dalam keadaan panik dia terlihat sebatang pohon, dengan tidak berpikir panjang, lalu dipanjatnyalah pohon itu. Ternyata sesampai di atas baru dia tahu bahwa pohon yang dipanjatnya itu sudah sangat rapuh, dan di atasnya ada dua ekor tikus yang satu warnanya hitam sedang yang satunya lagi berwarna putih lalu mengerip pohon kayu tersebut.

Orang bertanya: “siapakah singa dan dua ekor tikus itu wahai Ibn Tufail?. Kata beliau, singa diibaratkan seperti malaikat maut yang setiap hari mengintai umur kita, sedangkan tikus yang berwarna putih ibarat hari siang dan tikus berwarna hitam ibarat hari malam. Pertukaran malam dan siang, siang dan malam akhirnya menghabisi umur kita, diujung-ujungnya kita pasti berhadapan dengan kematian.

Hadirin yang berbahagia

Hidup ini adalah cerita pendek, dari tanah, di atas tanah dan bakal kembali ke dalam tanah.

Bagi kita yang sudah kembali kepada fitrah, kematian adalah suatu impian dan peristiwa yang sangat menyenangkan, kita harus menyadari, bahwa kita bukanlah penduduk asli bumi ini, asal kita adalah syurga, tempat di mana nenek moyang kita Adam dan Hawa tinggal pertama kali di sana. Kita tinggal di sini hanya utk sementara, untuk mengikuti ujian lalu segera kembali.

Buya Hamka ketika berbicara tentang kematian berpendapat; orang yg takut menghadapi kematian adalah orang yang tidak tahu akan hakikat mati, dulu selama sembilan bulan kita berada dalam kandungan ibu, kita sudah merasa enak dan betah di sana dan kita beranggapan alam perut ibulah alam yang paling luas, sehingga enggan untuk kita berpisah dengannya dan beranggapan alam dunia tempat kita bakal dilahirkan adalah alam yg paling sempit,sehingga ketika kita lahir hampir semuanya kita menangis, tetapi tangisan kita hanya seketika, ternyata setelah kita dilahirkan, dunia yg kita takutkan sekian kali lebih besar ketimbang alam perut ibu kita. Setelah kita dilahirkan ke dunia ini saya yakin tidak seorangpun di antara kita yang mau dimasukkan ke dalam perut ibu kembali.

Sekian lama pula kita berada dalam alam kandungan dunia, sudah betah pula berada di dalamnya dan sangat enggan utk berpisah dengannya. Karena tidak lama lagi kita bakal dilahirkan kembali menuju alam berikutnya, yaitu alam kandundungan barzah. Yakinlah, bagi kita yang sudah kembali kepada fitrah dan tetap mempertahankan kefitrahan kita itu, alam barzah adalah sesuatu yang sangat indah, setelah terlahir ke sana pasti kita tidak mau kembali lagi ke dunia. Justru itu, bagi orang-orang yang mati dalam keadaan beriman, ungkapan kematian yang ditujukan kepadanya lebih cocok diganti dengan kelahiran kembali ke alam yang baru, kata-kata selamat menempuh hidup baru semoga berbahagia yang selama ini hanya kita tujukan kepada orang yang baru berumahtanga, padahal kata-kata itu juga sangat sesuai atau cocok jika ditujukan kepada mereka.

Dulu kita pernah bersama Allah, kemudian berpisah dengannya dan sekarang dalam perjalanan untuk kembali menuju Allah. Allah hanya akan menerima hamba-hamba-Nya yang sudah kembali kepada Fitrah, dan tetap mempertahankan kefitrahannya, sampai ajal menjemputnya.

 

CINTA ITU MEMBAHAGIAKAN. KATA SIAPA ?

Oleh : Ade Novit Rachmawan

 

Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak menginginkan kebahagiaan. Semua tindak-tanduk aktifitas yang dilakukan manusia sudah pasti akan berorientasi pada satu tujuan, yaitu kebahagiaan. Lalu apakah makna kebahagiaan itu sendiri ?. Arisoteles memberikan pengertian menarik tentang ini. Menurutnya, kebahagiaan adalah good feeling (perasaan senang), having fun (besenang-senang),  having a good time (mempunyai waktu yang baik), atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Nah, hari-hari ini nih banyak diantara kita ketika sedang mencari kebahagiaan, selalu saja diidentikkan dengan pasangan (khususnya yang muda-mudi nih, heuheu), yang seakan-akan pasangan adalah segala-galanya, dan jomblo adalah status mengerikan yang sebisa mungkin harus dihindari, yang selama ini jomblo seakan-akan menjadi orang yang terkucilkan dalam sebuah tatanan masyarakat. Untung saja tak ada hukuman pasung bagi para jomblo. Huahaha. “Jomblo itu berat, kamu tak akan kuat, biar aku saja. heueheu”. Realitas seperti itu sudah tak bisa lagi dihindarkan lagi hari-hari ini. Realitas yang memberikan sebuah kesan bahwa “punya pasangan berarti bahagia, tidak punya pasangan berarti tak bahagia”. Maka jangan heran jika pada saat ini, manusia (anak muda) semakin menyempitkan makna kebahagian dengan hanya membubuhkan pasangan sebagai sumber kebahagian. Pun juga sebaliknya, bahwa sumber kesedihan orang terletak hanya dari seorang pasangan. Seakan sangat sulit menemukan kebahagian hidup selain mengenai pasangan. Realitas yang membuat saya semakin bertanya-tanya dengan kualitas hidup di zaman modern. Sebercanda itukah cinta ?. ecieeeee.

Biasanya, kata “cinta” selalu melekat dalam proses berpasangan. Kata “cinta” adalah simbol suci yang harus terbubuhkan dalam aktifitas berpasangan. Biasanya sih gitu ?, kamu gitu nggak ? heuheu. Cinta selalu tak bisa jauh dari kata bahagia. Kamu bahagia ngga sama dia ? Huahaha. Tapi kenapa banyak yang galau karena cinta ? cieeeee. Banyak yang stress, kacau, gundah, pusing, hancur, wa ala alihi wa sohbih. Loh, katanya cinta akan memberikan kebahagiaan ? lha ini trus gimana ? yang salah siapa ? cinta kah ? kamu kah ?. “Cinta itu berat, kamu tak akan kuat, biar aku saja.” Huahaha.

Coba kita tengok sebentar tips bercinta menurut Sabrang MDP alias Noe Letto. Nih, kata beliau, “ Rabi kui dudu mencari bahagia, lha kui konsep salah kui, rabi kok mencari bahagia ? tak jamin kecewa koe. Makanya ada konsep bahwa kawin di lima tahun pertama di jamin goyah, nanti setelah lewat lima tahun stabil, karena konsep rabimu golek bahagia ! ketika sebelum rabi kamu harus menemukan bahagia dalam dirimu sendiri. Dan ketika kowe rabi urusannya adalah membagi dan memberi kebahagiaan. lagi-lagi kita tertipu oleh peribahasa “badai pasti berlalu, kan ngono kalimate ? do lali, nek hari yang cerah ki yo berlalu, podo ae, mok pikir badai berlalu njuk entek ra ono badai maneh ? yok ono kok mestine, urip kok. Iki sing jomblo bahaya, njuk do wegah rabi ki”. *Jika anda butuh translate, anda bisa hubungi nomor ini, 085608244505. Huahaha …

Hmmm, gimana guys ? sudah sesak kah dada kalian ? hihihi. Biar semakin sesak, nih ada lagi pitutur dari mbah kita Erich Fromm, “Yang terpenting dalam hal ini (bercinta) bukan soal bahwa dia telah mengorbankan hidupnya demi orang lain, melainkan bahwa dia telah memberikan apa yang hidup dalam dirinya; dia memberikan kegembiraannya, kepentingannya, pemahamannya, pengetahuannya, kejenakaannya, kesedihannya-semua ekspresi serta manifestasi yang ada dalam dirinya. Dengan tindakan tersebut seseorang telah memperkaya orang lain, meningkatkan perasaan hidup orang lain lewat peningkatan perasaan hidupnya sendiri.” Iyuuuh benget kan ?

Dari dua pitutur tersebut, sebenarnya kita sudah bisa menebak inti keduanya. Bahwa sebenarnya dalam diri kita ada sebuah kebahagiaan yang harus terus kita cari, jangan sampai nggak dapet, harus dapet. Kita harus cerdas dan super kreatif untuk menemukan kebahagiaan dalam diri kita sendiri. Nah urusannya dengan cinta adalah kita tidak sedang mencari kebahagiaan. lha wong kita sudah bisa bahagia sendiri kok. Urusannya dengan cinta adalah bagaimana kita bisa dan mampu memberikan, membagi, mengeksplorasi kebahagiaan yang sudah ada dalam diri kita kepada orang lain, mungkin khususnya orang yang kita cinta. Dengan ini akan ada hubungan positif yang bernuansa take and give atau give and take. Dan mungkin tidak akan lagi ada cerita aktivis yang tak lagi aktif atau kritis karena sibuk pacaran. Tidak akan lagi ada cerita karir seorang hancur karena masalah cinta atau cerita-cerita semacamnya. Semua saling respect dan saling mendukung. Romantis beut kan guys ?.