NILAI-NILAI ASWAJA

Dalam kegiatan mapaba, salah satu materi yang diberikan adalah mengenai nilai-nilai aswaja. Nilai-nilai aswaja terdiri dari 4 macam, yaitu;

  1. Tawasuth (Moderat)

Tawasuth adalah sebuah sikap tengah yang tidak cenderung ke kanan atau ke kiri. Sikap tengah yang berintikan  kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah–tengah kehidupan bersama dan tidak ekstrim.
kebalikan dari tawasuth yaitu tatharruf, ekstrim, berlebih-lebihan. Misalnya, pada zaman sekarang kita banyak melihat tren baju syar’i dan menggunakan niqab. Orang awam banyak yang ikut-ikutan berpakaian dengan cara tersebut. Padahal pakaian yang mereka pakai itu panjangnya sampai jatuh ke lantai sehingga menjadikan pakaian tersebut najis. Itu yang dimaksud tatharruf atau berlebihan. Sikap tersebut dilarang dalam agama Islam. Karakter at-tawasuth ini harus mampu diwujudkan dalam berbagai bidang, agar nantinya sikap dan tingkah laku umat Islam dapat dijadikan sebagai teladan dan ukuran manusia pada umumnya. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat ekstrim.

 

  1. Tawazun (Berimbang)

Tawazun adalah sikap berimbang dalam menghadapi persoalan atau pertimbangan-pertimbangan untuk mencetuskan sebuah keputusan. Dalam konteks pemikiran, tawazun menghindari sikap tatharruf. Tawazun sangat erat hubungannya dengan peraturan (manage) waktu agar dapat mencapai tujuan yang ingin dicapainya. Misalnya, kita belajar di UIN Malang bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi sekaligus mahasantri Ma’had Sunan Ampel al-Aly yang memiliki kewajiban-kewajiban selain belajar di kuliah reguler. Kita juga belajar ta’lim di ma’had. Kegiatan di ma’had lebih banyak dibanding kegiatan kampus. Terlebih bagi mahasiswa tahfidz yang harus bertanggung jawab dengan ayat-ayat yang telah dihafalnya. Mereka harus pandai me-manage waktu semaksimal mungkin untuk mencapai target yang ingin dicapainya. Bukan hanya mendapatkan nilai yang baik di kampus, tapi mereka juga mendapatkan nilai yang memuaskan di ta’lim ma’hadnya dan bisa murajaah hafalannya dengan lancar.

 

  1. Ta’adul (Netral dan Adil)

Ta’adul ialah sikap adil dalam menyikapi suatu persoalan. Adil adalah sikap proporsional dalam menyikapi persoalan berdasarkan hak dan kewajiban. Ta’adul merupakan sikap yang bernilai tinggi, baik, dan mulia. Apabila Ta’adul diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, serta bangsa dan negara, sudah tentu ketinggian, kebaikan, dan kemuliaan akan diraih. Jika seseorang mampu mewujudkan keadilan dalam dirinya sendiri, tentu akan meraih keberhasilan dalam hidupnya, memperoleh kegembiraan batin, disenangi banyak orang, dapat meningkatkan kualitas diri, dan memperoleh kesejahteraan hidup duniawi serta ukhrawi (akhirat). Cara membiasakan diri bersikap ta’adul yaitu dengan cara menyadari pentingnya keadilan dalam kehidupan. Saya pernah mengalami kebimbangan antara diajak teman yang sejak SD sampai sekarang untuk pergi makan berdua karena kami sudah lama tidak bertemu. Di sisi lain, saya diajak teman yang baru saya kenal satu semester ini untuk menemani dia sowan ke Pak Kyai sore itu juga. Akhirnya saya memilih menemani teman saya sowan ke Pak Kyai terlebih dahulu karena lebih mendesak. Baru kemudian saya menemani makan teman SD saya.

 

  1. Tasamuh (Toleransi)

Tasamuh ialah sikap toleran terhadap perbedaan, baik agama, pemikiran, keyakinan, sosial kemasyarakatan, budaya, dan berbagai perbedaan lain. Istilah Toleransi dalam konteks sosial budaya dan agama berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu masyarakat. Islam sebuah agama yang mengajarkan kepada umat manusia untuk selalu menghormati serta toleransi terhadap sesama dan menjaga kesucian serta kebenaran ajaran Islam. Dengan ini, fakta telah membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan hidup toleransi terhadap semua agama. Dalam keadaan apapun dan kapan saja, Islam sebagai agama Rahmatal Lil’alamin senantiasa menghargai dan menghormati perbedaan, baik perbedaan suku, bangsa, dan keyakinan. Hal sangat ini jelas, bahwa Islam selalu memberikan kebebasan berbicara dan toleransi terhadap semua pemeluk agama dan berkeyakinan serta rasa hormat bagi umat manusia, tampa membeda-bedakan satu sama lain. Contoh dari toleransi yang pernah saya alami adalah saya pernah berkunjung ke rumah relasi kerja ayah saya yang beragama Katolik ketika Hari Natal. Kedatangan saya sekeluarga disambut penuh kebahagian seperti kami sedang merayakan natal bersama.

 

Penulis : Fairuza Maulidia, Anggota PMII Rayon                                                                            “Penakluk”  Al-Adawiyah angkatan 2017

 

Advertisements

Harlah ke-8 TEKAD : Hidupkan Seni Berorganisasi

Minggu, 17 Desember 2017

Malang – Kala banyak mahasiswa mulai tak sabar pergi berlibur, entah pulang kampung atau menjadi bolang dadakan, sahabat-sahabati Rayon Al-Adawiyah tampak masih bersemangat menghidupkan nafas kegiatan rayon. Selama dua malam kemarin, yakni malam Minggu dan malam Senin (16-17/12) Rayon Adawiyah memperingati Hari Lahir TEKAD (Teater Khas Adawiyah) ke-8. Acara pada malam pertama berupa doa bersama atau istighitsah yang diakhiri dengan makan tumpeng bersama. Kegiatan ini diadakan di gedung B lantai 2 pada pukul 20.00 WIB. Selain dihadiri anggota baru atau angkatan 2017 dan para pengurus angkatan 2015 dan 2016, acara ini juga dihadiri sahabat-sahabati angkatan 2014 hingga 2012. Istighotsah yang dipimpin oleh sahabat Aji kali ini, dibacakan dengan harapan agar TEKAD dan PMII terkhusus Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah semakin hari semakin lebih baik lagi. Tak lupa pula agar kader-kadernya mampu berproses lebih jauh lagi, hingga akhirnya nanti bisa menjadi insan yang bermanfaat bagi masyarakat, agama dan bangsa.

Kegiatan selanjutnya pada malam kedua adalah penampilan-penampilan seni dari sahabat-sahabati Adawiyah. Acara tersebut dilaksanakan di gedung B lantai 1 mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB. Beberapa sahabat, seperti sahabat Rijal Alami membawakan mars TEKAD dan  lagu-lagu lainnya yang diiringi dentingan gitar yang merdu. Masih ditemani alunan gitar oleh sahabat Panji dan Iqbal, sahabati Adhara membacakan salah satu puisi dan refleksi sejenak. Diterangi lilin-lilin dalam kegelapan, suara sahabat Rijal “gondrong” saat membawakan lagu milik Iksan Skuter berjudul  “Bangsa Penakluk”  mampu memecah kebekuan hati dan menghanyutkan suasana. Selanjutnya, penampilan terakhir adalah dari sahabat Mohan yang menyanyikan mars TEKAD dan lagu “Di Udara” milik Efek Rumah Kaca yang diiringi musik gitar oleh sabahat Rois.

Peringatan hari lahirnya TEKAD ini diadakan bukan tanpa maksud. Acara ini mengingatkan kita bahwa seni itu penting. Berorganisasi bukan hanya soal pergerakan, administrasi, kebijakan, rapat dan sebagainya. Berorganisasi juga memerlukan seni, yakni seni berorganisasi. Hal itu diungkapkan sahabat Rijal “gondrong” saat menutup acara. “TEKAD adalah ruh dari Adawiyah”, tambahnya yang mengutip dari perkataan salah satu warga Adawiyah.

TEKAD merupakan wadah mengekspresikan bakat teater dari sahabat-sahabati. Selain mampu berorganisasi yang baik, sahabat-sahabati Adawiyah juga mampu beradu akting di atas panggung. Seperti yang dilakukan sahabat Aji dan kawan-kawan kemarin saat acara Malam Puncak Psychofunday (9/12). Sahabat Aji dan kawan-kawan membawakan cerita tentang Ande-Ande Lumut. Hal ini menunjukkan bahwa TEKAD tetap ada, tak mati walau telah 8 tahun mengiringi perjalanan Adawiyah mengantarkan kader-kadernya menjadi manusia yang bermanfaat.

 

Penulis : Yuni Hadziqoh, LSO Jurnalistik PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah

ISYARAT

images(5)Terhampar luas penuh keikhlasan…

Menunduk sayu membubuhkan arti…

Hijau merata kedamaian dipermulaan sebab…

Sampai tak terpikikan gelisah pertanda musim hujan…

Hujan luar hujan dalam kala sapuan kemarauh jauh dari perkiraan damai…

Lalu kuning merekah disela-sela wajah…

Pembubuh mengisyaratkan telah siap dituai…

Lesung bertaluh gemuruh jejaka-jejaka membawa layang…

Kehamparan sawah ladang yang berisikan sisa…

Jadi dimana hijau tadi ?…

Jadi hijau berada dimana saat ini ?…

Jerih asa kuasa menunggu…

Sikit lama empat bulan jatuh pasti…

Berton-ton, berkwintal-kwintal, berkilo-kilo gram…

Apadayamu yang sampai saat ini masih tega memasak nasi bercampur air mata pertani ?…

 

Karya : IlhamPriambodo (Anggota Baru PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah

Hilangkan Egoisme dalam Organisasi!!!

Organisasi, komunitas maupun perkumpulan lainnya didirikan dengan suatu tujuan tertentu yang menjadi keinginan kolektif dari para anggotanya. Mereka sama-sama memiliki satu tujuan hingga akhirnya mau membentuk atau mengikuti suatu organisasi tertentu. Kasarnya kurang lebih seperti itu. Namun, tak bisa disangkal pula jika masing-masing anggota suatu organisasi memiliki tujuan pribadi yang berbeda dari dari tujuan bersama. Bahkan terkadang ia sendiri tak menyadari akan tujuan tersembunyinya. Artinya, perilaku yang ia tampilkan kadang mencerminkan keinginan batinnya walau ia berdalih melakukan sesuatu karena ini dan karena itu demi kepentingan bersama. Egosime salah satunya. Tidak perlu disalahkan, karena pada dasarnya manusia memang memiliki keinginan, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda meski mengikuti organisasi yang sama.

Akan tetapi, hal tersebut semestinya tak dijadikan alasan untuk seseorang tidak memahami tujuan bersama organisasi. Setiap anggota mestinya paham akan apa tujuan organisasinya dan rela kehilangan waktu, tenaga, pikiran bahkan uang untuk mencapai tujuan itu, idealnya. Namun, banyak dari mereka yang bahkan belum menyadari apa tujuan organisasi yang dimasukinya, sehingga jika ada suatu permasalahan lalu ia memandang bahwa permasalahan ini bukan bagian dari tujuannya, dengan mudah ia akan lari. Mengatakan bahwa, “Ini bukan masalah saya” atau bahkan “Ini masalah saya maka tak perlu saya bicarakan dengan anggota lain” mencerminkan ketidaksadarannya akan peran dan tanggung jawabnya maupun kehadiran dan peran orang lain dalam suatu organisasi. Itulah EGOISME.

Kita tahu bahwa adanya organisasi bukan hanya adanya satu orang, melainkan banyak orang. Perlu adanya kesadaran bahwa setiap orang membutuhkan bantuan orang lain. Maka, tak semestinya ia bersikap seolah tak peduli jika itu bukan masalahnya atau bahkan seolah ia adalah dewa yang mampu mengatasi persoalannya sendiri. Saya rasa, semua orang paham dan mengerti mana yang merupakan masalah pribadi dan mana yang merupakan masalah umum atau bersama. Jangan menjadikan masalah pribadi di atas segalanya lalu menjadikannya masalah umum sehingga merugikan orang lain. Begitu pula sebaliknya, jangan menjadikan masalah yang sebenarnya merupakan masalah umum dan perlu diatasi bersama menjadi masalah pribadi, sehingga jika tak terselesaikan semua orang pun dapat membantu.

Tak bisa disangkal bahwa setiap orang memiliki tujuan masing-masing dan lagi-lagi, punya keterbatasan pula. Silahkan mewujudkan impian dan tujuan masing-masing bahkan jika harus berpolitik. Tak kan ada yang melarangnya, toh itu merupakan hak individu. Tapi, bisakah ia juga menggunakan kesadarannya bahwa ia pun adalah anggota dari suatu organisasi yang juga memiliki kepentingan dan tujuan bersama? Jangan hanya mengambil keuntungan dari sesuatu meski itu tak dilarang. Namun, tak ada salahnya jika kita juga memberi. Kebermanfaatan diukur dari seberapa banyak ia memberi, bukan menerima. Ini pun jika kita mampu. Jika tidak, berarti itu merupakan keterbatasan kita. Namun, saya rasa setiap orang itu istimewa dan pasti memiliki sesuatu yang mampu ia berikan untuk orang lain, sekecil apa pun itu.

Jangan salah, egosime bukan hanya soal mementingakan dirinya sendiri. Merampas hak orang lain lalu merugikannya juga merupakan sebuah bentuk egoisme. Merasa bahwa dirinya mampu mengatasi segalanya sendiri, tak mau bekerja sama dengan orang lain dalam artian tak mengindahkan kehadiran dan peran orang lain juga merupakan penyakit dalam organisasi. Sehebat apapun seseorang, tak menghilangkan kewajibannya dalam menghargai orang lain. Bagus jika akhirnya suatu permasalahan bersama dapat ia selesaikan dengan baik. Jika tidak? Tiba-tiba gagal di tengah jalan lalu merugikan banyak orang? Apa lantas ia akan menyalahkan orang lain dengan dalih tak ada yang membantunya?

Saling salah-menyalahkan juga adalah salah satu dampak dari egosime. Termasuk menyalahkan orang lain karena tak mau membantu tanpa mempertanyakan apa keterbatasannya, apa masalahnya, apa kendalanya. Menyalahkan kinerja seseorang karena tak paham apa masalah yang ditemuinya juga salah satunya. Sehingga, pemahaman akan keadaan orang lain dirasa juga sangat perlu dan hal itu tak akan terwujud jika masih saja ada rasa egoisme yang tinggi dalam hati. Sebagaimana sebuah ungkapan yang menyindir, Kau takkan pernah memahami orang lain jika ego masih saja bersarang di hatimu.

 

By: Yuni Hadziqoh, LSO Jurnalistik PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah

PMII “Penakluk” Al-Adawiyah Adakan Diskusi Tentang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)

 

Jumat, 1 Desember 2017

Malang – PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah melalui program YKS (Yuk Kita Sinau) mengadakan diskusi dengan tema Peran Psikologi Terhadap ODHA dalam rangka memperingati hari AIDS se-dunia. Kegiatan diskusi rutin ini dihadiri oleh beberapa mahasiswa psikologi UIN  Malang sendiri dan juga mahasiswa dari luar UIN Malang. Dalam diskusi kali ini, YKS menghadirkan seorang psikolog yang merupakan salah satu dosen psikologi UIN Malang sendiri, yaitu sahabati Fuji Astutik, M.Psi. Beliau juga merupakan demisioner pengurus PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Desember 2017 yang bertepatan dengan libur perkuliahan. Diskusi dimulai pada pukul 08.00 sampai 11.30 WIB di balkon gedung B lantai 2.

Kegiatan ini sangat penting diselenggarakan, karena melihat realita yang ada di masyarakat yang menganggap bahwa ODHA (orang dengan HIV/AIDS) adalah penyakit di masyarakat. Akhirnya,mereka dikucilkan dari aktivitas sehari-hari. Adanya acara ini tentu diharapkan bisa merubah stigma masyarakat melalui pandangan psikologi”, terang Naila Shofia selaku CO Biro Intelektual Adawiyah.

Menurut sahabati Fuji Astutik, cara menghadapi masalah ODHA adalah dengan pemberian wawasan mengenai penyebab penularan HIV/AIDS dan bahaya HIV/AIDS dalam hidup berkeluarga. Dengan demikian, diharapkan setiap orang yang telah memahami HIV/AIDS mampu memperlakukan ODHA dengan benar, tidak serta merta menjauhi mereka apalagi sampai menghina mereka.

Acara ini juga mendapat apresiasi positif dari peserta diskusi. Salah seorang peserta diskusi dari UNISMA, Dimas Abidin menuturkan, “Setelah mengikuti acara ini, saya jadi tahu bahwa ODHA bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan kita harus memberi support lebih kepada mereka. Mereka juga layak untuk kita beri semangat, bukan malah sebaliknya.”

Diharapkan kegiatan seperti ini terus dikembangkan dan tidak hanya pada peringatan hari AIDS  saja, akan tetapi juga pada acara peringatan hari yang dianggap perlu untuk dibahas sebagai wawasan pengetahuan kita sebagai mahasiswa.

Penulis : Emha Ainun Najib, LSO Jurnalistik PMII Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah