PKD RAYON PENAKLUK AL-ADAWIYAH

18 Juli 2020, PMII Rayon penakluk al adawiyah menyelenggarakan kegiatan PKD (Pelatihan Kader Dasar). Tidak seperti PKD yang dilakukan tahun-tahun lalu, PKD kali ini dilaksanakan secara virtual dengan menggunakan aplikasi Google Meet. Kegiatan tersebut dilaksanakan tidak seperti biasanya karena adanya pandemi corona sehingga pemerintah menyebarkan anjuran tetap dirumah saja untuk mengurangi penyebaran virus corona.

PKD adalah proses pengkaderan formal tingkat kedua setelah masa penerimaan anggota baru (MAPABA) di organisasi PMII. Kegiatan ini dilaksanakan untuk melatih anggota PMII agar menjadi kader yang dapat memposisikan diri dan berguna ditengah masyarakat serta mengharumkan nama PMII sebagai organisasi yang baik dan berwibawa di mata organisasi lain dan di masyarakat.

Acara PKD tahun ini mengangkat Tema “ Terbentuknya Rekonstruksi Gerakan Kader untuk Revitalisasi Nilai Juang Pengabdian.” Dengan semangat yang membara di tengah pandemi virus Corona, pengurus Rayon Penakluk Al-Adawiyah mengemas kegiatan PKD yang dilakukan dengan media virtual dengan semaksimal mungkin. Karena PKD ini termasuk kegiatan rutinan yang dilaksanakan oleh Rayon setiap tahunnya.

Kegiatan ini resmi dibuka oleh Ketua Komisariat Sunan Ampel Sahabat Badrus, kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan yang mengobarkan semangat peserta PKD Virtual. Walaupun tidak bisa langsung beratatap muka tetapi kegiatan formal ini harus tetap terlaksanakan. Kemudian dilanjutkan sambutan oleh Ketua Rayon Penakluk Al-Adawiyah.

MAPABA RAYON PENAKLUK AL-ADAWIYAH 2019

MAPABA ke-XX Rayon Penakluk Al-Adawiyah

23 November 2019, dilaksanakannya kegiatan MAPABA ( Masa Penerimaan Anggota Baru ) oleh pengurus Rayon Penakluk Al-Adawiyah. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari. Hari pertama dilaksanakan di area Kampus UIN Malang dan hari kedua dilaksanakan di Rayon yang berada di daerah Dinoyo, Malang.

MAPABA adalah sebuah proses kaderisasi pertama atau masa orientasi. Sebagai langkah awal anggota baru untuk masuk dalam organisasi PMII. Tema yang diambil dalam kegiatan MAPABA Rayon Penakluk Al-Adawiyah ini mengusung tema “ Menumbuhkan Cendekiawan Muda Rayon Penakluk Al-Adawiyah yang Potensial dan Profesional.” Harapan besar dari tema tersebut akan melahirkan para generasi cendekiawan yang berpotensi dan profesional dalam segala hal.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Komisariat Sunan Ampel Malang Sahabat Bukhori dan Ketua Rayon Penakluk Al-Adawiyah Sahabat Abdul Mutib, serta seluruh kader dan para calon anggota baru.

Acara ini secara resmi dibuka oleh Ketua Komisariat Sunan Ampel, Sahabat Bukhori. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan yang mengobarkan semangat kepada para calon anggota baru Rayon Penakluk Al-Adawiyah. Calon anggota yang mengikuti acara ini sekitar kurang lebih 37 peserta. MAPABA merupakan agenda rutin yang dilakukan oleh rayon sebagai langkah awal dan bersifat wajib bagi para calon anggota untuk mengikuti serangkaian acara MAPABA ini.

“ Jika kalian ingin berorganisasi, jangan pernah melihat individunya tetapi lihatlah organisasinya atau lembaganya.” Kata Ketua Rayon Penakluk Al-Adawiyah Sahabat Abdul Mutib.

Ketua Rayon sangat berharap besar kepada para calon anggota baru. Semoga setelah disahkannya sebagai anggota Rayon Penakluk Al-Adawiyah, mereka bisa ikut serta dalam seluruh kegiatan yang ada di rayon dan bisa memberikan dedikasi terbaiknya kepada PMII.

Sementara itu Ketua Komisariat Sunan Ampel Malang, Sahabat Bukhori, menyatakan bahwa “Kalian akan menjadi  orang yang tak biasa jika masuk ke PMII, dan akan banyak tantangan yang akan kalian temui di PMII, Selamat Berproses.”

MEMBANTAI SIFAT KEBINATANGAN

Dunia hari ini, sangat mendambakan sosok manusia seperti Ismail AS. yang  dengan ketulusan hati dan kehalusan budi,  rela mengorbankan kepentingan individual demi untuk meraih kesalehan sosial. Walaupun dia menyadari, tidak ada satu-satunya yang sangat berharga  dalam kehidupan ini melainkan nyawa, akan tetapi demi sebuah peradaban, betapa pentingnya nuansa sosial dalam sebuah peribadatan, nyawapun tidak berharga baginya, apa lagi ketika dia menyadari bahwa dirinya itupun bukanlah miliknya, dia adalah titipan atau pinjaman, ketika yang empunya menghendaki hak milik-Nya, tidak ada alasan untuk dia enggan mengembalikannya.

Ternyata Allah tidak sekejam yang dibanyangkan, sifat Arrahman dan Rahim-Nya lebih dahulu dari kemurkaan-Nya. Tuhan dalam Islam bukanlah Tuhan seperti dalam agama primitif, yang menggambarkan Tuhan dalam bentuk sadis dengan mata terbelalak, gigi sebesar kapak serta hauskan darah. Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang penuh dengan rasa kelembutan, kasih dan sayang-Nya kepada hamba-Nya melebihi dari kasih seorang ibu kepada anaknya. Sehingga dalam sebuah hadis qudsi dijelaskan; “Aku sangat ingin untuk mendekatimu wahai manusia, tapi kamu yang jauh-jauh dari-Ku, jika kamu mendekati-Ku dengan berjalan kaki,maka Aku akan mendekatimu dengan berlari”. Continue reading

JANGAN HANYA TINGGAL NAMA

Dunia Islam yang pernah suatu ketika dahulu mengalami masa kejayaan, kini hanya tinggal menjadi catatan tinta emas bagi penulis sejarah. Keterpurukan dan ketinggalan dunia Islam dalam berbagai aspek tergambar dari ungkapan salah seorang tokoh Pembaharuan dalam Islam Syeikh Muhammad Abduh ketika beliau pertama kali menjejakkan kakinya di Perancis. Ketika melihat Perancis dengan berbagai macam kemajuan dan keteraturannya, beliau tersentak seakan baru bangun dari tidur yang ditemani oleh mimpi buruk, maka secara spontan keluar ungkapan dari mulut beliau; “saya melihat Islam di Perancis, akan tetapi tidak ada Muslim”. Tidak lama kemudian, beliau kembali ke Mesir,tempat di mana beliau berkifrah. Sesampainya beliau di Mesir, karena masih dipengaruhi oleh suasana kekaguman terhadap Perancis, maka secara spontan pula terlontar lagi ungkapan dari mulutnya; “saya melihat muslim di Mesir, akan tetapi tidak ada Islam”. Andaikata pada waktu itu beliau menyempatkan diri datang ke Indonesia, yang konon mayoritas penduduknya beragama Islam, sudah pasti ungkapan yang sama ketika beliau pulang ke Mesir, sangat cocok dan sesuai pula ditujukan untuk umat Islam Indonesia; “saya melihat muslim di Indonesia, akan tetapi tidak ada Islam”.

Ternyata Islam  baru berada pada dataran formalitas, ataupun barangkali khusus untuk Indonesia, disinilah letak kelemahannya Islam yang datang ke Nusantara dahulunya melalui proses damai, adaptasi dan asimilasi, sehingga nilai-nilai buruk dari budaya lama,masih belum bisa tercabut sampai keakar-akarnya. Singapura umpamanya, yang mayoritas penduduknya beragama Konghucu, ternyata ruh Islam ada di sana. Sebagai contoh, denda sebanyak lima ratus dolar Singapura bagi yang membuang sampah dan meludah sembarangan masih tetap berlaku di sana. Ternyata hadis Rasulullah yang selalu menjadi hiasan bibir bagi umat Islam bahwa kebersihan itu adalah sebahagian dari iman, yang mengamalkannya bukan umat Islam di negara kita ini, akan tetapi umat Konghucu di Singapura. Belum lagi contoh yang lainnya, termasuk masalah korupsi yang boleh dikatakan hampir tidak kita dengar di negara yang berlambang singa tersebut, berbanding dengan negara kita yang mayoritas penduduk dan pemimpinnya  beragama Islam.

Ada pendapat yang mengatakan; “ bahwa korupsi itu adalah merupakan budaya bangsa Indonesia”,kalau pendapat ini memang benar adanya, yang dimaksud dengan budaya, berarti telah mengkristalisasi terhap kepribadian bangsa. Yang sangat mengkhawatirkan kalau-kalau bangsa ini sedang mengarah menuju kepada sebuah perumpamaan. Konon diceritakan ada sebuah perkampungan yang letaknya di kaki gunung Merapi. Karena masyarakat kampung tersebut mengkonsumsi air kekurangan yudium, sehingga pada umumnya masyarakatnya terkena penyakit gondok. Akhirnya penyakit gondok adalah merupakan hal yang biasa dan dianggap menjadi hiasan leher bagi seseorang. Ketika salah seorang pemuda dari kampung tersebut melanjutkan pendidikannya keluar daerah dan sempat berkenalan dengan seorang gadis dari daerah lain serta berencana akan melangsungkan pernikahan, sungguh sangat ironis, pernikahan terpaksa dibatalkan, karena dari pihak laki-laki tidak melihat tanda-tanda adanya gondok di leher calon isteri.

Kisah ini memberikan suatu gambaran, bahwa keburukan yang dilakukan jika sifatnya sudah menyeluruh dan terjadi berulang-ulang kali, hingga akhirnya dianggap sebagai suatu yang lumrah, maka tidak mustahil, pandangan menjadi berobah, atau dengan kata lain, bila kezaliman terus menerus dilakukan, maka lama kelamaan akan menjadi sebuah tindakan yang dibenarkan.

Sudah begitu kronisnya penyakit bangsa ini, kalau sudah demikian halnya apakah masih layak label Islam diberikan kepadanya?, karena apa yang dilakukannya sudah sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Yang sangat mengkhawatirkan lagi kalau-kalau nilai luhur dari ajaran Islam ternodai oleh perangai umatnya, khususnya lagi umat Islam Indonesia. Sudah cukuplah selama ini segala macam tuduhan yang sifatnya negatif diarahkan kepada Islam, Islam sebagai agama teroris, agama fondamentalis, agama kelas bawah dan sebagainya. Selanjutnya jika orang mengarahkan pula kepada umat Islam di Indonesia, maka semakin lengkaplah lagi tuduhan negatif brikutnya; “Islam agama perampok, alias maling, alias korupsi”, sebab dalam kenyataan yang kita lihat sangat jarang orang melihat suatu agama dari ajarannya, yang pertama kali dilihat adalah umatnya.

Mengapa harus jadi begini? Apakah perangai buruk seperti korupsi yang sudah membudaya ini tidak bisa dikikis oleh nilai-nilai kebudayaan lain seperti agama? Jika ditinjau dari sudut pendidikan, berarti ada yang tidak beres terhadap pengajaran agama yang diberikan selama ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Qutb; “pengajaran agama telah mengecut kepada kadar helaian-helaian teks yang kecil untuk dihadapi dan diuji pada setiap ujian semester, yang lebih ditekankan adalah aspek kognitifnya, kepada murid-murid dikehendaki menghapal dan mengemukakan hasil hapalannya itu pada waktu ujian dilaksanakan. Sementara aspek afektif, amaliah dan penghayatan terbiar dan tidak dititikberatkan. Akibatnya pendidikan agama yang tersepit hanya berfungsi memenuhi ruangan yang sempit.”

Penyakit  kronis ini sudah tentu tidak bisa dibiarkan dan hanya ditinjau dari satu aspek, diperlukan penanganan secara integral. Di samping itu keikhlasan kita selaku umat beragama, khususnya umat Islam sangat dituntut, karena tidak mustahil, jika kita sama-samakita bertekad untuk memperbaikinya, umat Islam di Indonesia akan menjadi umat yang terbaik  dan menjadi contoh  bagi umat di seluruh dunia. Akan tetapi jika tidak segera kita sadari, tidak musahil, Islam hanya tinggal nama.

Sebagai contoh, sebagaimana yang terjadi di Tunisia. Sudah lebih dari dua tahun Mohamad Bouazizi menjadi pejuang bagi bangsa tersebut. Pada tanggal 17 Desember 2010, selesai mengerjakan shalat Jumat, pemuda 26 tahun ini membakar diri di depan kantor pemerintah kota kelahirannya itu. Aksi nekatnya ini yang tidak ditemukan dalam akar budaya Arab ia lakukan karena frustrasi. Selepas lulus dari sebuah perguruan tinggi, pekerjaan tidak segera ia dapatkan, seperti halnya jutaan pemuda lainnya di negera kita pada saat ini.

Untuk menyambung hidup, tanpa rasa malu, walaupun dia seorang sarjana, Bouazizi mendorong gerobak berjualan sayur dan buah-buahan. Akan tetapi sungguh malang nasibnya, polisi merampas gerobaknya. Ia dilarang berjualan di pinggir jalan karena dianggap mengganggu ketertiban dan keindahan kota. Puncak dari frustrasinya, ia pun mengambil keputusan untuk membakar diri. Nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Tersentak, seluruh Tunisia pun bergolak. Nasib naas Bouazizi seolah-olah mewakili aspirasi sebagian besar rakyat Tunisia yang masih banyak hidup dalam kemiskinan, kenaikan harga pangan, pengangguran dalam jumlah besar, korupsi yang merajalela. Revolusi rakyat yang dipicu aksi bakar diri ini lalu menginspirasi rakyat di sejumlah negara Arab. Apa yang terjadi di Tunisia ini, mudah-mudahan tidak terjadi di negara kita, sebab negara kita ini tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi yang tidak kalah pentingnya dari itu adalah pemerataan ekonomi. Wallahu’alam.

Oleh : H. KASMURI, MA (REKTOR IAIN BATUSANGKAR)