ISTIGHOSAH DAN TADARUS PUISI RAYON “PENAKLUK” AL-ADAWIYAH

Selasa (17/8) Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah, tepatnya Biro Jasmani Rohani dan LSO Seni Budaya berkolaborasi untuk mengadakan istighosah dan tadarus puisi guna memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-76. Acara dilaksanakan secara semi online, bagi yang offline bertempat di Yayasan Darulsatwa, sedangkan yang online melalui zoom meeting.

Acara dibuka oleh Master of Ceremony (MC) yakni Ahmad Afskar Nala Apriyadi, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah yang diwakili oleh Wakil Ketua Rayon, Abu Amar Nashih Bilqisth lantaran Ketua Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah, M. Adam Aulia Septianto berhalangan hadir. Dalam sambutannya, Abu Amar mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada sahabat/i yang telah menyempatkan hadir, baik secara offline maupun online. Beliau juga berharap bahwa setelah acara berakhir, sahabat/i akan menumbuhkan perasaan lebih mencintai negara sendiri.

Pembacaan istighosah merupakan acara selanjutnya, yang mana kegiatan istighosah dipimpin oleh M. Ulyaul Umam. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan tadarus puisi, yang mana dipimpin oleh Mukhlisin. Dalam opening staatementnya, Mukhlisin mengatakan bahwa tujuan dari diadakannya tadarus puisi selain untuk menyemarakkan kemerdekaan Indonesia yang ke-76, ialah untuk sebuah harapan agar Indonesia bisa lekas membaik dan pandemi cepat berakhir.

 Tadarus puisi dimulai dengan pembacaan puisi berjudul “Semangat Kemerdekaan di Tengah Pandemi” karya Nafa Adenia, yang dibacakan oleh Mukhlisin. Setelahnya, sahabat/i secara bergantian membacakan puisi yang ingin diperdengarkan kepada sahabat/i yang lain hingga acara usai.

-Fraya F.

TAKJIL DAN SAHUR ON THE ROAD

Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah dan IKAPPMAM Malang Raya berkolaborasi untuk mengadakan kegiatan berbagi sahur dan takjil dengan tema “Takjil & Sahur on the Road”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 24 dan 25 April 2021 di Jalan Besar Ijen ketika berbagi takjil. Pada hari pertama atau tanggal 24 April 2021, anggota IKAPPMAM Malang Raya dan Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah membagikan lima puluh bungkus takjil, yang tiap bungkusnya berisi satu air mineral dan satu roti. Pembagian takjil pada hari pertama hanya berlangsung selama lima belas menit karena antusias para pengguna jalan.

            Pada hari kedua atau 25 April 2021, anggota IKAPPMAM Malang Raya dan Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah membagikan dua ratus bungkus takjil karena antusias yang cukup besar di hari pertama. Sedangkan untuk kegiatan sahur on the road, anggota IKAPPMAM Malang Raya dan Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah membagikan lima puluh bungkus sahur dengan bersepeda motor berkeliling kota Malang yang dimulai dari Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah kemudian menuju ke Jalan Soekarno-Hatta. Anggota IKAPPMAM Malang Raya dan Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah membagikan lima puluh bungkus sahur kepada orang yang tidur di toko yang sedang tutup, orang yang sedang bekerja di waktu sahur, tukang becak, dan sebagainya.

            IKAPPMAM Malang Raya dan Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah menyatakan bahwa tujuan dari kegiatan pembagian takjil dan sahur yang dilakukan bukan semata-mata untuk mencari eksistensi saja, melainkan karena hati nurani mereka yang terketuk untuk melakukan kegiatan tersebut.

MAPABA XXI RAYON “PENAKLUK” AL-ADAWIYAH

Kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 4 sampai dengan 6 desember 2020 di Panti Asuhan Yasi, Kecamatan Tumpang, Malang.

Mengusung tema “Manunggaling Kawula PMII” yang diambil dari slogan kontroversial Syekh Siti Jenar. Dimana dalam konteks PMII memiliki arti bahwa setiap individu calon anggota baru dengan latar belakang berbeda-beda akan melebur menjadi satu saat sudah berada di PMII.

 Kegiatan resmi dibuka oleh Ketua Komisariat Sunan Ampel dan dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, yang mana salah satunya merupakan sambutan dari Ketua Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah, Sahabat Adam. Dalam sambutannya, beliau berterimakasih kepada seluruh calon anggota baru dan pengurus Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah yang rela meluangkan waktunya untuk datang ke Malang tanpa paksaan demi mengikuti kegiatan MAPABA.

Sahabat Adam pun berpesan agar seluruh calon anggota baru serta pengurus Rayon “Penakluk” Al-Adawiyah untuk tetap menjaga semangatnya. “Ketika kalian berorganisasi, jangan bertanya apa yang organisasi berikan. Tetapi, apa yang bisa kamu berikan untuk organisasi.”

“Ibarat berada di istana, MAPABA merupakan halaman depannya di mana kita masih belum memasuki istana tersebut. Kita bisa membuka pintu istana dan benar-benar berada di dalamnya ketika kita mengikuti Pelatihan Kader Dasar (PKD). Oleh karena itu, teruslah berproses dan optimalkan potensi diri terbaik yang kita punya.” -Sahabat Adam

MANUSIA ADALAH KOMBINASI ANTARA MALAIKAT DAN BINATANG

Saya mengambil judul ini dari buku Fihi Ma Fihi karangan Jalaluddin Rumi yaitu seorang sufi yang sangat masyhur. Judul ini sangatlah menarik untuk dijadikan suatu tulisan yang dikaitkan dengan fenomena yang kita hadapi saat ini. Agar manusia faham akan fitrahnya yaitu manusia tercipta dari suatu kombinasi malaikat dan binatang, dan dengan memahami hal tersebut tidak akan ada kata untuk saling menyalahkan dan merasa paling benar berdiri dimuka bumi yang fana ini.

Dijelaskan dibuku Fihi Ma Fihi bahwa manusia adalah kombinasi antara Malaikat dan Binatang. Hal tersebut memang sangatlah jelas dan benar. Kita lihat sekeliling kita ada berbagai macam karakter individu dan bagaimanapun kita harus paham akan hal itu, jika tidak faham akan salah kaprah seperti fenomena yang sering kita temui saat ini. Contoh rill nya, fenomena yang pernah kita ketahui yaitu saling menyalahkan antara umat beragama. Bagaimana rasa kemanusiaan tentang hal itu, kita hidup di dunia ini adalah hidup ditengah perbedaan. Bukan hanya perbedaan fisik atau pendapat tetapi segala hal. Jika kita hanya bisa menyalahkan orang lain dalam segi apapun terutama dan beribadah, itu sangatlah kurang etis dan tidak beretika.

Suatu hari  Jalaluddin Rumi ditanya oleh muridnya. “Wahai Guruku, Mengapa agama di muka bumi ini tidak satu saja ?.” kemudian Jalaluddin Rumi menjawab “ Ketunggalan agama dimuka bumi ini sangatlah mustahil, karena manusia tercipta dengan tujuan dan keinginan masing-masing.” Dari percakapan antara Jalaluddin Rumi dan muridnya bisa disimpulkan bahwa perbedaan adalah fitrah yang masing-masing dari kita harus saling menghormati.

Contoh diatas bisa sedikit mengungkap bahwa manusia adalah kombinasi antara binatang dan malaikat, maksudnya adalah terkadang manusia seperti binatang dan terkadang seperti malaikat. Allah menciptakan makhluknya menjadi tiga jenis yaitu yang pertama Malaikat, yang kedua Binatang dan yang terakhir yaitu manusia. Malaikat hanya menfokuskan dirinya untuk beribadah. Ketaatan, ibadah dan Dzikir adalah sifat dan makanan mereka. Mereka tidak memiliki nafsu karena mereka tidak memiliki syahwat jadi mereka tetap terjaga suci. Dan yang kedua yaitu binatang, binatang hanya memiliki nafsu belaka. Mereka tidak memiliki akal untuk mencegah nafsunya. Dan yang terakhir yaitu manusia, yang tercipta dari kombinasi antara malaikat dan binatang.

Kita ambil contoh yang diatas misal, orang yang bisa disebut seperti binatang yaitu manusia yang saling menyalahkan kepada sesama umat beragama dan mereka seperti malaikat ketika mereka bisa fokus dengan jalannya masing-masing tetapi tetap menghormati orang lain yang memiliki jalan yang berbeda dalam menuju Tuhannya. Dalam hakikatnya mereka semua memiliki tujuan yang sama yaitu beribadah kepada Allah tetapi dengan cara mereka ketahui masing-masing individu yang terpernting mereka tetap berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist sebagai pedomannya.

Pernah seorang Dokter ditanya Otak manusia berada dimana ? Sang Dokter menjawab dengan sangat lancar sesuai dengan Ilmu Anatomi Tubuh. Tetapi ketika ditanya akal manusia berada dimana ? sang Dokter tidak bisa menjawabnya. Memang betul bahwa akal hanya bisa kita rasakan. Tidak berwujud tetapi kita bisa merasakan adanya seperti keberadaan Allah SAW. Binatang dan Manusia semua memiliki otak yang membedakannya yaitu binatang tidak memiliki akal.

Jika manusia berperilaku semaunya dan tidak pernah berfikir sebelum bertindak bearti individu tersebut bisa disebut seperti binatang. Jangan pernah saling menyalahkan dan merasa paling benar. Saling menghormatilah kepada sesama dalam segi atau aspek apapun.

                                                                                                             Fahmi Rosyida